Paper Ekonomi
Sumberdaya Hutan Medan, April 2020
POHON
TANJUNG (Mimusops
elengi L.)
Dosen Penanggung
jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.hut., M.Si
Disusun Oleh:
Rocky Raespaty Silalahi
181201142
HUT 4D

PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
A. Klasifikasi
Ilmiah
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Ebenales
Famili : Sapotaceae
Genus : Mimusops
Spesies : Mimusops elengi L.
B.
Penyebaran dan
Habitat
Penyebaran alami
jenis ini diperkirakan terdapat di India, Srilanka, Myanmar, Thailand dan
kepulauan Andaman, Indonesia hingga kepulauan Solomon, New Caledonia, Vanuatu,
Australia bagian utara dan negara-negara tropis lainnya.
Jenis tanaman ini umumnya tumbuh pada tanah yang subur, baik mendekati
laut maupun pada daerah berbatu dengan ketinggian di atas 600 mdpl, dengan
curah hujan kurang, atau pada daerah yang memiliki musim hujan yang panjang,
hanya jenis ini tidak tahan dengan surplus air tanah yang terus menerus selama
lebih dari 2 bulan.
C.
Deskripsi Botani
Pohon berukuran sedang, tumbuh hingga
ketinggian 15 m. Daun-daun tunggal, tersebar, bertangkai panjang; daun yang
termuda berambut coklat, yang segera gugur. Helaian daun bundar telur hingga
melonjong, panjang 9-16 cm, seperti jangat, bertepi rata namun menggelombang.
Bunga berkelamin dua, sendiri atau berdua
menggantung di ketiak daun, berbilangan-8, berbau enak semerbak. Kelopak dalam
dua karangan, bertaju empat-empat; mahkota dengan tabung lebar dan pendek,
dalam dua karangan, 8 dan 16, yang terakhir adalah alat tambahan serupa
mahkota, putih kekuning-kuningan. Benang sari 8, berseling dengan staminodia
yang ujungnya bergigi. Buah seperti buah buni, berbentuk gelendong, bulat telur
panjang seperti peluru, 2-3 cm, akhirnya merah jingga, dengan kelopak yang
tidak rontok. Biji kebanyakan 1, gepeng, keras mengilat, coklat kehitaman.
Jenis ini berbunga
dan berbuah sepanjang tahun, dengan musim buah masak umumnya terjadi pada bulan
Februari sampai dengan Mei.
D. Penyebaran dan Habitat
Penyebaran alami jenis ini diperkirakan
terdapat di India, Srilanka, Myanmar, Thailand dan kepulauan Andaman, Indonesia
hingga kepulauan Solomon, New Caledonia, Vanuatu, Australia bagian utara dan
negara-negara tropis lainnya.
Jenis tanaman ini umumnya tumbuh pada tanah
yang subur, baik mendekati laut maupun pada daerah berbatu dengan ketinggian di
atas 600 mdpl, dengan curah hujan kurang, atau pada daerah yang memiliki musim
hujan yang panjang, hanya jenis ini tidak tahan dengan surplus air tanah yang
terus menerus selama lebih dari 2 bulan.
E. Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan tanaman Tanjung dapat dilakukan
secara generatif. Untuk mendapatkan benih yang baik diperlukan sejumlah
perlakuan sejak pengunduhan/pengumpulan buah hingga mendapatkan benih yang siap
untuk disemai. Buah masak yang dicirikan oleh warna kulit buah berwarna jingga,
dapat dipetik langsung dari pohon yang rendah, tetapi apabila pohon sudah besar
dan tinggi, dapat dilakukan pemanjatan. Buah sering mengalami serangan serangga
yang mengakibatkan lubang/busuk pada bijinya, sehingga tidak disarankan untuk
mengumpulkan benih yang telah jatuh di bawah tegakan.
Buah yang telah diunduh dimasukan dalam karung
atau ember. Sebelum dilakukan ekstraksi benih, buah dapat disimpan sementara 1
– 2 hari di ruang kamar. Ekstraksi benih dilakukan dengan cara merendam buah
dalam air selama 24 jam hingga daging buahnya menjadi lunak. Kemudian daging
buah dibersihkan dengan cara diremas (manual), dan pembersihan sebelum benih
dinyatakan bersih adalah dengan melakukan pembersihan pada air yang mengalir.
Benih Tanjung yang telah bersih dapat disimpan pada ruang AC (temperatur
18-20°C, RH 50 – 60 %) dengan wadah kantong plastik kedap pada kadar air 5 – 8
%. Benih dapat disimpan selama 9 bulan dan memperlihatkan adanya “after
ripening” pada bulan pertama penyimpanan.
Tidak diketahui adanya dormansi benih, tetapi
sebelum penaburan disarankan untuk merendam benihnya dalam air dingin selama 24
jam. Benih Tanjung ditabur pada media campuran pasir dan tanah (1 : 1) di rumah
kaca, dan ditutup selapis pasir(tebal 1- 2 mm) di atasnya. Benih dapat mencapai
daya berkecambah 70 – 90 % setelah 17 – 82 hari penaburan.
Benih yang telah berkecambah dengan dua helai
daun disemai pada media bibit pada pagi hari atau sore hari, untuk mencegah
penguapan yang berlebihan dan panas pada kecambah yang baru disemai. Media
semai yang digunakan merupakan campuran tanah, pasir dan kompos (7 : 2:1).
Untuk memacu pertumbuhan bibit dapat dipergunakan pupuk NPK (5 gram/liter air)
dimana satu sendok untuk setiap bibit pada umur 4 minggu dan 6 minggu.
F.
Pemanfaatan
Bunganya yang wangi mudah rontok dan
dikumpulkan di pagi hari untuk mengharumkan pakaian, ruangan atau untuk hiasan.
Bunga ini, dan aneka bagian tumbuhan lainnya, juga memiliki khasiat obat.
Buahnya dapat dimakan.
Air rebusan pepagannya digunakan sebagai obat
penguat dan obat demam. Rebusan pepagan beserta bunganya digunakan untuk
mengatasi murus yang disertai demam. Daun segar yang digerus halus digunakan
sebagai tapal obat sakit kepala; daun yang dirajang sebagaimana tembakau,
dicampur sedikit serutan kayu secang dan dilinting dengan daun pisang,
digunakan sebagai rokok untuk mengobati seriawan mulut.
Kulit akarnya mengandung banyak tanin dan
sedikit alkaloid yang tidak beracun. Minyak yang diekstrak dari biji tumbuhan
ini mengandung beberapa asam lemak. Akarnya yang dicampur dengan cuka dapat
digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan.

G. Sifat-sifat Kayu
Kayunya padat, berat, dan keras. Kayu dari varietas
parvifolia yang biasa tumbuh dekat pantai dipilih sebagai bahan pasak dalam
pembuatan perahu, untuk tangkai tombak dan tangkai perkakas lain, almari dan
mebel, serta untuk tiang rumah. Varietas ini bisa tumbuh setinggi 25 m dan
segemang 40 cm. Kayu tanjung juga baik untuk dijadikan bahan ukiran, patung,
penutup lantai, jembatan, dan bantalan rel kereta api.
Kayu teras tanjung coklat tua, sedangkan kayu
gubalnya berwarna lebih muda dengan batas-batas yang jelas. Teksturnya halus
dan merata, dengan arah serat lurus, agak bergelombang atau sedikit berpadu.
Berat jenis kayu berkisar antara 0,92–1,12 (rata-rata 1,00), dan termasuk kelas
kuat I. Kayu tanjung tergolong mudah dikerjakan dengan hasil yang amat baik; ia
dapat diserut, dibor, dilubangi persegi, dan diamplas dengan hasil yang sangat
baik, serta dibentuk dan dibubut dengan hasil yang baik hingga sangat baik.
Keawetan kayu tanjung termasuk dalam kelas
I-II. Daya tahannya terhadap jamur pelapuk kayu termasuk kelas II, sementara
terhadap rayap kayu kering termasuk kelas IV (tidak awet). Dalam pada itu,
keterawetannya tergolong sedang.Sayangnya, kayu tanjung tidak mudah dikeringkan
dengan hasil baik. Kayu ini cenderung melengkung, pecah ujung dan retak-retak
permukaannya apabila dikeringkan. Meskipun relatif mudah dikupas, akan tetapi
venir (lembaran tipis bahan kayu lapis) yang dihasilkan cenderung
menggelombang. Pengeringan alami harus dilakukan dengan hati-hati dan dalam
waktu lama; pengeringan papan setebal 3 cm (dari kadar air 39% hingga 15%) membutuhkan
waktu sekitar 63 hari.
DAFTAR
PUSTAKA
Burhaman,
Dharmawati F. D, dan Nurin W. 2011. Atlas Benih Tanaman Hutan Indonesia: Jilid
III. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Balai
Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan Bogor.
Gunarto,
S. 2009.Morfologi Pada Pohon Tanjung (Mimusops elengi L.).Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar