Selasa, 31 Maret 2020

Lastrisa Desfa Banjanrnahor 181201152


Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                        Medan,   Maret 2020
PRODUKSI GETAH PINUS (Pinus merkusii)

Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:
Lastrisa Desfa Banjarnahor
181201152
HUT 4D






Download Logo Baru Universitas Sumatera Utara ( USU ) Medan Vector ...










PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun tugas ini dengan tepat waktu. Adapun tulisan yang berjudul "Produksi Minyak Terpentin (Pinus merkusii) Menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM)” ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih penulis ucapkan kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan yaitu Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan penyempurnaan tugas ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, semoga ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan,  Maret 2020

            Penulis










DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI                                                                                                           i
KATA PENGANTAR                                                                                          ii
BAB I  PENDAHULUAN
          1.1 Latar Belakang                                                                                         1
          1.2 Rumusan Masalah                                                                                    2
          1.3 Tujuan                                                                                                       2
BAB II ISI
2.1 Produksi Getah Pinus                                                                               3
2.2 Potensi dari getah pinus                                                                            4
2.3 kegunaan dan manfaat ekonomi dari Getah Pinus                                   5
BAB III  KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA










BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan adalah suatu hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang di-dominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya antara satu dan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU Kehutanan No. 41 Tahun 1999).  Keberadaan hutan sebagai bagian dari sebuah ekosistem yang besar memiliki arti dan fungsi penting dalam menyangga sistem kehidupan.  Berbagai manfaat besar dapat diperoleh dari keberadaan hutan melalui fungsinya baik sebagai penyedia sumberdaya air bagi manusia dan lingkungan, kemampuan penyerapan karbon, pemasok oksigen di udara, penyedia jasa wisata dan mengatur iklim global.
Pohon pinus tidak memerlukan syarat tempat tumbuh yang khusus karena dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah bahkan pada tanah dengan pH asam. Dengan kondisi ini menjadikan pohon pinus mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan dan konservasi lahan. pohon pinus banyak terdapat di hutan-hutan yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Tanaman pinus sengaja ditanam untuk dimanfaatkan kayu dan getahnya serta konservasi lahan. Hampir semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan, seperti bagian batangnya dapat disadap diambil getahnya. Getah pinus dapat diolah menjadi bahan pengencer cat. Hasil kayunya bermanfaat untuk konstruksi, korek api, pulp dan kertas serat panjang.
Selain untuk membuat kertas, manfaat lainnya adalah keindahan dan aroma pohon pinus sangat menyegarkan. Aroma pinus juga digunakan untuk terapi. Pohon pinus juga menyimpan manfaat lain untuk kesehatan, seperti kandungan flavonoid dan vitamin C pada kulit pohon dan daun jarumnya. Selain itu, pohon ini juga sarat dengan antioksidan sehingga dapat memperlancar peredaran darah, menghilangkan rasa nyeri di lutut dan obat untuk meningkatkan daya ingat pada lanjut usia. Dan salah satu yang terpenting dari pohon pinus adalah getahnya (terpentin).
Hutan pinus sebagai tanaman penghijauan secara alami sangat bermanfaat untuk mengurangi lahan longsor karena mempunyai perakaran yang dalam. Daunnya yang lebat mempunyai nilai evapotranspirasi yang tinggi, cepat mengurangi kadar lengas dalam tanah sehingga akan meningkatkan infiltrasi air dan mengurangi aliran permukaan. Selain fungsi alam, keberadaan pinus sebagai hutan yang bisa digunakan sebagai lokasi wisata banyak dikembangkan di beberapa daerah. Menikmati alam, merasakan kesegaran udara di antara pepohonan, sekaligus bermain dan berfoto dengan nuansa yang Instagrammable, menjadikan hutan pinus sebagai tujuan wisata baru yang anti mainstream. Beberapa hutan pinus yang dipakai buat wisata, seperti di Yogyakarta, hutan pinus Mangunan, hutan pinus Kragilan, Magelang, hutan pinus Kalilo, Purworejo, dan masih banyak lagi.
Pengelolaan hutan harus mempertimbangkan banyak aspek yang berkaitan dengan ekosistem pada hutan tersebut.  Fungsi hutan yang sangat penting
bagi ke-langsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan harus dilestarikan
dengan cara melestarikan hutan tersebut.  Pengelolaan hutan yang baik akan berpengaruh terhadap kelestarian hutan.  Kegiatan pengelolaan hutan salah satu unsurnya yaitu pemeliharaan tanaman hutan.  Pemeliharaan hutan merupakan
suatu tindakan silvikultur dalam merawat dan menyelamatkan hutan dari segala macam gangguan yang dapat merusak pertumbuhan pohon atau tegakan hutan tanaman.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana penjelasan tentang getah pinus ?
2.      Apa  potensi dari getah pinus ?
3.      Apa saja kegunaan dan manfaat ekonomi dari getah pinus ?

1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui penjelasan tentang getah pinus.
2.      Untuk mengetahui potensi yang dihasilakan dari  getah pinus.
3.      Untuk  apa saja kegunaan dan manfaat ekonomi dari getah pinus.

BAB II
ISI
2.1 Tentang Getah Pinus
Info Terbaru Harga Getah Pinus per Kg | Daftar Harga & Tarif
                                  Getah pinus 
   Getah pinus merupakan salah satu bahan unggulan non kayu PT Perhutani di Indonesia. Produksi getah pinus sampai dengan bulan Desember 2012, dilaporkan mencapai 15.340 ton dengan luas hutan pinus sekitar 163.150 hektar. Permintaan pasar terhadap getah pinus semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan adanya kecenderungan ”Back to Nature” untuk memenuhi kebutuhan industri, sehingga permintaan maupun harga minyak terpentin cenderung meningkat. Disamping itu, adanya peningkatan permintaan industri atas getah pinus sebagai bahan baku farmasi, parfum, pelarut, resin dan polimer. Komponen utama minyak terpentin ialah α-pinena. Getah pinus di Indonesia mengandung sekitar 57-86% α-pinena, 8-12% δ-karena dan golongan monoterpen yang lain dengan jumlah minor. Senyawa ini merupakan senyawa golongan terpenoid (monoterpen, C10). Dilaporkan juga bahwa senyawa ini mempunyai aktivitas antiinflamasi ditingkat sel, serta berpotensi untuk pencegahan beberapa penyakit terkait penurunan aktivitas sel syaraf. Disamping itu senyawa ini juga mempunyai aktivitas dalam penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Eschericia coli.
            Getah pinus berada pada batang dimana didalam saluran getah yang arahnya vertical ( longitudinal ) maupun horizontal ( radial ). Saluran getah ini terbentuk secara lisigen, sizogen, maupun sizoligen. Beberapa ketentuan pohon pinus yang akan disadap :
a.       Diameter limit cupping, diameter pohon pinus yang akan dsadap adalah diatas 15cm.
b.      Selective cupping, pohon-pohon yang akan disadap adalah pohon yang waktu mendatang dijarangi atau ditebang yaitu sejak umur 10 tahun samapai pada daur tebangan atau umur penjarangan. Biasanya dilakukan pada perusahan pengelolaan pinus yang menggunakan pinus untuk berbagai kegunaan.
Beberapa cara teknik penyadapan :
·         Bentuk koakanTeknik ini dilakukan denagn cara mengerok kulot batang lebih dulu, kemudian kayunya dilukai sedalam 1-2 cm, sedang lebarnya 10 cm. Pelukaan dengan cara ini membentuk huruf U terbalik dengan jarak dari permukaan tanah sekitar 15-20 cm. Pelukaan yang baru diatas luka lama dengan tebal jarak 5 mm.
·         Bentuk V Teknik ini hamper sama dengan teknik diatas tetapi berbebtuk huruf V. dapat juga dimodifikasi menjadi V ganda atau seri arah keatas ( rill) yang bentuknya seperti sirip ikan.
·         Goresan atau guratana; Cara ini pada penyadapan pinus jarang dilakukan, umumnya dilakukan pada agathis ( kopal ). Hal ini mengimgat kulit pinus yang tebal. Goresan dilakukan dengan kemiringan 45° atau melingkar.
·         Dengan bor; Dengan syarat diameter 3 cm, 3-12 cm keatas atau kedalam.
·         Dari keempat teknik tersebut yang paling efektif atau paling banyak menghasilkan getah pinus adlah dengan menggunakan metode koakan, kemuidian teknik bentuk V dan teknik bor.
           
2.2 Potensi yang dihasilkan dari Getah Pinus
Produk HHNK menjadi produk kehutanan yang paling dimininati. Selain itu, pemanfaatan HHNK bersifat lestari dan tidak terlalu merusak kawasan hutan sehingga menjadi salah satu solusi pengelolaan hutan yang lestari. Salah satu produk HHNK yang mengalami peningkatan di pasar industri ialah getah pinus. Getah pinus biasa dimanfaatkan untuk diolah menjadi gonderukem dan terpentin. Getah pinus dihasilkan dari getah pinus dengan proses penyadapan.
Pinus merkusii dapat dijumpai di Kalimantan dan Sumatera, terutama di Sumatera dan Aceh dari 200 – 1700 mdpl, terdapat pada tanah – tanah yang tak subur dan bergerumbul. Ketinggian pohon dapat mencapai 70 meter dengan diameter   145    cm.  Tajuknya   sangat   ringan,   jenis cahaya,    daun     jarumnya    gugur   terus        menerus,    meneruskan     cahaya    banyak    sekali. Pinus merupakan salah satu jenis tanaman tropis. Untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik, pinus membutuhkan antara lain :
1.      Tanah yang cukup kesuburannya, walaupun unsur hara yang dipergunakan  pinus relatif rendah dibandingkan jenis pohon dalam lebar.
2.      Tanah yang tidak terlalu asam (pt 4,5 – 5,5 ).
Getah yang dihasilkan pohon Pinus merkusii digolongkan sebagai oleoresin yang merupakan cairan asam-asam resin dalam terpentin yang menetes keluar apabila saluran resin pada kayu atau kulit pohon jenis jarum tersayat atau pecah. Penamaan oleoresin ini dipakai untuk membedakan getah pinus dari getah alamiah (natural resin) yang muncul kulit atau terdapat dalam rongga-rongga jaringan kayu sebagai genus dari anggota famili Dipterocarpaceae, Leguminoceae, dan Caesalpiniaceae.
Getah yang berasal dari pohon Pinus berwarna kuning pekat dan lengket, yang terdiri dari campuran bahan kimia yang kompleks. Unsur-unsur terpenting yang menyusun getah pinus adalah asam terpen dan asam abietic. Campuran bahan tersebut larut dalam alcohol, bensin, ether, dan sejumlah pelarut organic lainnya, tetapi tidak larut dalam air. Selain itu dari hasil penyulingan getah Pinus merkusii rata-rata dihasilkan 64% gondorukem, 22,5% terpentin, dan 12,5% kotoran.
Saluran getah resin bukan merupakan bagian dari kayu, tetapi berupa rongga yang dikelilingi oleh sel-sel parenkimatis atau sel epitel. Seluruh lapisan yang mengelilingi saluran resin disebut epitellium. Ada beberapa cara dalam pembentukan saluran getah, diantaranya yaitu :
a.       Lysegeneous, yaitu beberapa sel parenkim yang berdekatan hancur sehingga isinya tercampur, maka terbentuk rongga yang kemudian terisi cairan. Rongga ini dibtasi oleh sel-sel yang tidak hancur, dimana sel-sel yang tidak hancur ini dapat menjadi sel epitel. Proses semacam ini disebut gummosis.
b.      Schizogeneous, yaitu beberapa sel parenkim memisahkan diri melalui lamella tengah sehingga terjadi suatu saluran yang dikelilingi oleh belahan sel-sel parenkim yang menjadi sel epitel. Sedangkan produksi getah pinus secara keseluruhan dipengaruhi oleh : Luas areal sadapan, kerapatan (jumlah pohon per Ha), jumlah koakan tiap pohon dan jangka waktu pelukaan, sifat individu pohon, dan keterampilan tenaga kerja penyadap.
Indonesia menjadi negara terbesar ketiga setelah China dan Brasil untuk kontribusi produksi gondorukem di dunia. Volume produk gondorukem Indonesia yang diperdagangkan setiap tahun sekitar 90.000 ton. Sebelumnya Industri Kecil dan Menengah (IKM), khususnya produsen batik mulai kesulitan mendapatkan bahan baku. Selama ini, pasokan gondorukem atau getah pohon pinus yang merupakan salah satu bahan penguat warna dalam pembuatan batik, banyak yang diekspor.

2.3 Kegunaan dan manfaat ekonomi dari Getah Pinus
Getah Pinus merupakan bahan baku dari pembuatan Gondorukem dan Terpentin. Kegunaan Gondorukem yang selama ini dikenal awam adalah sebagai bahan proses pembuatan batik dan bahan untuk melekatkan patri atau solder. Namun kenyataannya gondorukem mempunyai kegunaan lain yang bernilai ekonomis tinggi yaitu : Untuk pelapis kertas, bahan additive, tinta printing, industri ban, isolasi alat elektronik, cat, vernis, plastik, sabun. semir sepatu, keramik. lem dan lain lain.
Dari penelusuran online, diketahui getah pinus itu bisa menghasilkan minyak terpentin biasanya digunakan sebagai pelarut untuk mengencerkan cat minyak, bahan campuran vernis yang biasa kita gunakan untuk mengkilapkan permukaan kayu dan bisa untuk bahan baku kimia lainnya. Aroma terpentin harum seperti minyak kayu putih, karena keharumannya itu terpentin bisa digunakan untuk bahan pewangi lantai atau pembunuh kuman  bahan baku pembuat parfum, bisa bermanfaat untuk kesehatan yaitu untuk relaksasi  bila digunakan sebagai bahan campuran minyak pijat. Selanjutnya sebagai salah satu bahan tambahan pembuatan permen karet sehingga menjadi kenyal dan lentur dan aman untuk kesehatan. Getah pinus juga sebagai bahan baku tinta, cat, wipol, kosmetik, tiner, makanan hingga campuran bahan bakar pesawat luar angkasa.
Aktivitas penyadapan getah pohon pinus sebagai salah satu potensi usaha menjanjikan dari sekian potensi lainnya. Meskipun belum terlihat, namun penyadapan getah pinus di daerah ini mulai tampak menjanjikan. Hal itu karena dinilai mampu menjadi salah satu alternatif peningkatan sumber pendapatan bagi warga. Menurut Afitin, saat ini potensi getah pohon pinus di kawasan hutan konversi Kabupaten Pasaman mencapai 30 ton tiap bulannya dari 240 hektare lahan tanaman pinus di daerah itu. Harga getah pinus saat ini mencapai Rp75 ribu per kilogramnya. Rata-rata per orang mampu mengeluarkan getah pinus sebanyak 30 kilogram. saat ini Perhutani memegang rekor terbesar sebagai produsen Gumrosin dan getah pinus di Asia Tenggara. Meski sebagai produsen terbesar, ke depan kompetisi makin kuat. 
Produk gondorukem memiliki prospek yang cukup bagus. Tetapi, ia mengakui krisis ekonomi yang terjadi di Eropa saat ini membuat pasar gondorukem fluktuatif dan kurang kondusif untuk perdagangan. Adapun, produksi gondorukem tiap tahunnya mencapai 55.000 ton.
Dari keseluruhan produk gondorukem milik Perhutani, hanya 20% yang diserap pasar lokal, sedangkan 80% untuk ekspor. Perhutani memiliki pasar ekspor Asia dan Eropa. Untuk Asia, pasar ekspor terbesar adalah Jepang dan India. Sedangkan untuk Eropa, produk gondorukem Perhutani terbesar adalah Jerman.
Faktor modal merupakan faktor yang penting dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Kelancaran kegiatan penyadapan ini, mulai proses pembelian getah dari penyadap secara kontan untuk tiap satu kali penimbangan per bulan hingga proses pengolahan dan penjualan dalam bentuk produk jadi, sangat bergantung pada ketersediaan modal yang cukup besar, minimal harus memiliki modal dua kali lipat karena dua pekerjaan ditangani sendiri, yaitu kegiatan produksi dan penjualan.

BAB III
KESIMPULAN
1.      Getah pinus berasal dari pohon pinus (Pinus merkusii) yang tergolong aleoresin yakni resin yang bersifat asam.
2.      Getah pinus banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri dan umumnya diolah menjadi gondorukem atau terpentin.
3.      Cara pemanenan getah pinus dilakukan dengan menyadap pohon dengan metode koakan yang umum sudah umum dipakai.
4.      Getah pinus memiliki peluang bisnis yang baik karena telah banyak dipergunakan pada industri,
5.      Pemasokan getah pinus di pasar masih terbatas dan diperlukan modal yang cukup besar untuk memproduksi dan memasarkannya.










DAFTAR PUSTAKA




Laporan Tahunan Perum Perhutani. 2012. Pemantapan proses bisnis menuju perhutani ekselen. diakses pada tanggal 8 September 2013 melalui http://perumperhutani.com/wpcontent/uploads/2013/07/ARA_Perhutani_2012_LOW.pdf

Laporan Tahunan Perum Perhutani. 2011. Peningkatan Produktivitas Sumberdaya

Sumarna, Y. 2011. Kayu Jati – Panduan Budidaya dan Prospek \Bisnis. Buku. Penebar Swadaya. Jakarta. 21 hlm.


Senin, 30 Maret 2020

Dejan Milen Priyuda_181201054

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                         Medan, Maret   2020

PEMANFAATAN  MINYAK CENDANA (Santalum album)
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:
Dejan Milen Priyuda
181201054
HUT 4D

















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun tugas ini dengan tepat waktu. Adapun tulisan yang berjudul “Pemanfaatan Kayu dan Minyak Cendana (Santalum album) kayu termahal di dunia’’ ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih penulis ucapkan kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutanyaitu Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan penyempurnaan tugas ini.Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, semoga  ini bermanfaat bagi kita semua.



Medan,   Maret 2020


            Penulis











DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI.................................... i
KATA PENGANTAR..................... ii
BAB I  PENDAHULUAN
          1.1 Latar Belakang ..................1
          1.2 Rumusan Masalah .................... 2
          1.3 Tujuan ............................ 2
BAB II ISI
2.1 Habitat dari Pohon Cendana (Santalum album) ...3
2.2 Cara memperoleh  Minyak  Pohon Cendana (Santalum album) ...  4
2.3 Produksi dan manfaat ekonomi dari Pohon Cendana (Santalum album)... 6
BAB III  PENUTUP
3.1 Kesimpulan........   9
3.2 Saran .......  9
DAFTAR PUSTAKA
















BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehutanan menurut pasal 1 Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. Hutan sendiri memiliki arti suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam dan lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan menurut FAO merupakan lahan yang luasnya lebih dari 0,5 Ha dengan pepohonan yang tingginya lebih dari 5 m dan tutupan tajuk lebih dari 10%, atau pohon dapat mencapai ambang batas di lapangan tidak termasuk lahan yang sebagian besar digunakan untuk lahan pertanian atau pemukiman.
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan). Hutan produksi di Indonesia yang dikenal saat ini dibedakan atas dua jenis berdasarkan jenis tegakan yaitu Hutan Heterogen (tegakan tidak seumur dan memiliki jenis yang bebeda) dan Hutan Homogen (tegakan seumur dan jenis sama).
Hutan merupakan sumber daya alam yang dapat memberikan manfaat berlipat ganda, baik manfaat yang secara langsung maupun manfaat secara tidak langsung. Manfaat hutan secara langsung adalah sebagai sumber berbagai jenis barang, seperti kayu, getah, kulit kayu, daun, akar, buah, bunga dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia atau menjadi bahan baku berbagai industri yang hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi hampir semua kebutuhan manusia. Manfaat hutan yang tidak langsung meliputi gudang keanekaragaman hayati (biodiversity) yang terbesar di dunia meliputi flora dan fauna, Bank lingkungan regional dan global yang tidak ternilai, baik sebagai pengatur iklim, penyerap CO2serta penghasil oksigen, Fungsi hidrologi yang sangat penting artinya bagi kehidupan manusia di sekitar hutan dan plasma nutfah yang dikandungnya.
Luas kawasan hutan Indonesia tahun 2012 mencapai 130,61 juta ha. Kawasan tersebut diklasifikasi sesuai dengan fungsinya menjadi kawasan konservasi (21,17 juta ha), kawasan lindung (32,06 juta ha). kawasan produksi (33,68 juta ha) dan kawasan produksi yang dapat dikonversi (20,88 juta ha) Luas kawasan hutan tersebut mencapai 68,6% dari total luas daratan Indonesia sehingga menjadi salah satu potensi sumber daya alam yang rawan.
Fungsi hutan  di antaranya adalah mengatur tata air, mencegah dan membatasi banjir, erosi, serta memelihara kesuburan tanah menyediakan hasil hutan untuk keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya untuk keperluan pembangunan industri dan ekspor, sehingga menunjang pembangunan ekonomi melindungi suasana iklim dan memberi daya pengaruh yang baik memberikan keindahan alam pada umumnya dan khususnya dalam bentuk cagar alam, suaka margasatwa, taman perburuan, taman wisata.

1.1 Rumusan Masalah
1. Bagaimana habitat dari Pohon Cendana (Santalum album )?
2. Bagaimana cara memperoleh kayu dan minyak dari Pohon Cendana (Santalum album)?
3. Bagaimana metode produksi dan manfaat ekonomi dari Pohon Cendana (Santalum album)?
2.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui klasifikasi, informasi dari Pohon Cendana (Santalum album).
2. Untuk mengetahui cara memperoleh kayu dan minyak Pohon Cendana (Santalum album).
3. Untuk  mengetahui bagaimana metode produksi dan manfaat ekonomi dari dari Pohon Cendana (Santalum albim).




BAB II
ISI
2.1 Habitat dari Pohon Cendana (Santalum album)

klasifikasi pinus digolongkan sebagai berikut :
1. Divisio :Spermatophyta
2. SubDivisio :Angiospermae
3. Kelas :Dicotyledoneae
4. SubKelas :Rosidae
5. Ordo :Santalales
6. Suku/Famili :Santalaceae
7. Marga/Genus :Santalum.
8. Jenis/Spesies :SantalumalbumLinn.
Cendana (Santalum album  L.)  merupakan jenis tanaman asli Indonesia  yang tumbuh endemik di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang banyak dijumpai di Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor, Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau lainnya. Tanaman cendana tergolong tanaman yang sangat penting karena mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Cendana NTT mempunyai keunggulan diantaranya memiliki kadar minyak dan produksi kayu teras yang tinggi.   Kayu   cendana   menghasilkan  minyak atsiri dengan aroma yang harum dan banyak digemari, sehingga mempunyai nilai pasar yang cukup baik.
Cendana (Santalum album  L.)  merupakan jenis tanaman asli Indonesia  yang tumbuh endemik di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang banyak dijumpai di Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor, Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau lainnya. Tanaman cendana tergolong tanaman yang sangat penting karena mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Cendana NTT mempunyai keunggulan diantaranya memiliki kadar minyak dan produksi kayu teras yang tinggi.   Kayu   cendana   menghasilkan  minyak atsiri dengan aroma yang harum dan banyak digemari, sehingga mempunyai nilai pasar yang cukup baik.
2.2 Cara memperoleh minyak Pohon Cendana (Santalum album)
Cendana merupakan salah satu marga dari 25 suku Santalaceae yang penyebarannya mulai dari Malaysia bagian Timur, Australia sampai di sebelah timur kepulauan Polynesia. Santalum album L. merupakan jenis yang tumbuh alami di kawasan Asia. Beberapa pakar meyakini bahwa Santalum album L. berasal dari kepulauan Indonesia di sebelah Tenggara terutama diantaranya pulau Timor dan pulau Sumba.
Dalam dunia perdagangan, cendana dikenal dengan nama sandalwood. Di luar Indo- nesia,  nama  kayu  cendana  antara  lain  East Indian sandalwood, white sandalwood dan yellow   sandalwood (Inggris, Amerika Serikat), bois santal (Spanyol, Italia), echte sandal (Belanda), echtes sandelholtz (Jerman), chen- dana (Malaysia), santaku (Burma), chantana (Thailand), bach (Vietnam), sandal, chandal, chandam, gundala dan suket oleh dengan cara penyulingan uap langsung dan steam.
Rendemen minyak cendana yang diperoleh dengan cara penyulingan uap langsung (steam destillation) berkisar antara 2-3 %. Minyak cen- dana merupakan bahan penting untuk pem- buatan parfum dan kosmetik, selain itu juga dapat dipergunakan sebagai campuran dalam industri sabun. Minyak cendana merupakan minyak yang sangat harum oleh karena itu minyak   ini   dipergunakan   sebagai   pengikat bahan pewangi lain (fiksasi) yang digunakan dalam industri parfum, dan hasilnya sebagian besar diekspor.
Lebih lanjut Rahayu et al. (2002) mengungkapkan bahwa minyak cendana dapat digunakan  untuk  menyembuhkan sakit  perut, asma, sakit kulit, infeksi ginjal, berbagai peradangan, obat penenang, obat mengurangi rasa nyeri, anti kanker, anti bakteri, dan aroma terapi. Ampas serbuk sisa hasil penyulingan kayu  cendana  masih  dapat  dimanfaatkan sebagai bahan baku wangi-wangian, campuran dupa, makmul, dan hio yang digunakan untuk acara-acara kegiatan ritual atau keagamaan.
2.3 Metode produksi dan manfaat ekonomi dari pohon pinus  (Pinus mercusii)
Penyulingan dengan Air.
Kayu cendana yang telah dipotong-potong, digiling kasar atau digerus halus dan dididihkan dengan air. Uap air dialirkan melalui pendingin dan hasil sulingan berupa minyak yang belum murni ditampung dalam wadah.




Gambar Proses Penyulingan dengan Air
Penyulingan dengan Air dan Uap.
Cara ini sudah banyak dilakukan secara kecil-kecilan sebagai industri rumahan karena peralatan yang digunakan mudah didapat dan hasil yang diperoleh cukup baik. Alat yang digunakan semacam dandang.  Kayu cendana diletakkan di atas bagian yang berlubang, sedangkan air  di lapisan bawah. Uap air dialirkan melalui pendingin dan hasil sulingannya ditampung dalam wadah. Minyak yang diperoleh belum murni.








Gambar Proses Penyulingan dengan Air dan Uap
Penyulingan dengan Uap.
Cara ini digunakan untuk membuat minyak atsiri  dari biji, akar, atau kayu yang umumnya mengan- dung  komponen tinggi. Peralatan yang dipakai tidak berbeda dengan penyulingan yang menggunakan air dan uap,  hanya  memerlukan alat  tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan tinggi. Peralatan yang dipakai tidak berbeda dengan penyulingan yang menggunakan air dan uap,  hanya  memerlukan alat  tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan.



Gambar 11. Proses Penyulingan dengan Uap
Minyak cendana yang dapat diperoleh dari basil penyulingan uap air dari kayu bagian tengah (kayu teras atau hati kayu) yang telah tua.  Cara  pembuatan  minyak  ini,  kayu  yang telah dirajang atau diserut, dikukus dalam dandang. Uap air yang bercampur dengan uap minyak yang naik ke atas diterima oleh pendingin dan didinginkan sehingga mengem- bun bersama. Selanjutnya air  yang bercampur minyak ditampung dalam wadah. Setelah proses penyulingan selesai,  minyak  cendana  dipisah- kan dari air. Rendemen minyak atsiri paling banyak diperoleh dari  pohon  yang  telah berumur tua, sekitar 20-30 tahun.














KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpilan
1. Tanaman cendana (Santalum album L.) adalah tanaman asli Indonesia dan dikenal sebagai penghasil minyak atsiri yang memiliki potensi nilai ekonomi yang cukup tinggi. 
2. Bahan bioaktif yang   terkan- dung di dalam minyak atsiri cendana sebagian besar merupakan golongan santalol yang termasuk ke dalam senyawa sesquiterpenoid.
3. Senyawa sesquiterpenoid merupakan se- nyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman yang berfungsi sebagai antitoksin dari bakteri dan cendawan.
4. Interaksi antara faktor genetik tanaman dengan lingkungan merupakan faktor utama yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman cendana yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produksi minyak   atsiri   yang   dihasilkan. 
5. Minyak cendana memiliki nilai fungsi yang tinggi diantaranya sebagai bahan aroma terapi yang sangat ber- manfaat bagi kesehatan manusia, bahan kos- metik, bahan untuk obat-obatan dan lain-lain.
Saran
Potensi alam dan sosial yang ada pada masyarakat hendaknya menjadi modal dasar bagi upaya lanjutan dalam aksi pelestarian cendana (Santalum album) secara massal yang nantinya menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.











DAFTAR PUSTAKA
Ariyanti,  M.,  M.A.  Soleh,  Y.  Maxiselly.  2017.Respon  pertumbuhan  tanaman  aren (Arenga pinnata merr.) dengan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik berbeda dosis. Jurnal Kultivasi Vol. 16 (1) :271-278
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kupang. 2011. Masterplan Pengembangan dan Pelestarian Cendana Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2010 – 2030. Kupang.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 1992. Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Nusa Tenggara. Kupang: Balai Penelitian Kehutanan. Kupang.
Brand,  J  and  Jones,  P.  1999.  Growing Sandal wood (Santalum spicatum) on Farmland in Western Australia. Sandalwood Infor- mation Sheet. Issue 1 May 1999: 1-4.
Climent,   J.,   J.    Gil,   and   Pardos,   J.   1993. Hearthwood and Sapwood Development and its Relationship in Pinus canariensis Chr. Sm ex Dc.. Forest Ecology and Management 59: 165-174.
Fox, J. E. D. 2000. .Sandalwood : The Royal Tree. Biologist, 47 (1): 31-34.
Hermawan R. 1993. Pedoman Teknis Budidaya Kayu Cendana (Santalum album Linn.). Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Hilis, W.E and N. Ditchburne.1974. .The Prediction of hearthwood diameter in radiata pine tree.. Canadian J. of Forest Research , 4: 524-529.



LAMPIRAN


Hasil dari minyak Cendana




Jhonson Simamora 181201150

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan, Maret     202 0 POHON DAMAR ( Aghati...