Senin, 30 Maret 2020

Dejan Milen Priyuda_181201054

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                         Medan, Maret   2020

PEMANFAATAN  MINYAK CENDANA (Santalum album)
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:
Dejan Milen Priyuda
181201054
HUT 4D

















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun tugas ini dengan tepat waktu. Adapun tulisan yang berjudul “Pemanfaatan Kayu dan Minyak Cendana (Santalum album) kayu termahal di dunia’’ ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih penulis ucapkan kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutanyaitu Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan penyempurnaan tugas ini.Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, semoga  ini bermanfaat bagi kita semua.



Medan,   Maret 2020


            Penulis











DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI.................................... i
KATA PENGANTAR..................... ii
BAB I  PENDAHULUAN
          1.1 Latar Belakang ..................1
          1.2 Rumusan Masalah .................... 2
          1.3 Tujuan ............................ 2
BAB II ISI
2.1 Habitat dari Pohon Cendana (Santalum album) ...3
2.2 Cara memperoleh  Minyak  Pohon Cendana (Santalum album) ...  4
2.3 Produksi dan manfaat ekonomi dari Pohon Cendana (Santalum album)... 6
BAB III  PENUTUP
3.1 Kesimpulan........   9
3.2 Saran .......  9
DAFTAR PUSTAKA
















BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehutanan menurut pasal 1 Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. Hutan sendiri memiliki arti suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam dan lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan menurut FAO merupakan lahan yang luasnya lebih dari 0,5 Ha dengan pepohonan yang tingginya lebih dari 5 m dan tutupan tajuk lebih dari 10%, atau pohon dapat mencapai ambang batas di lapangan tidak termasuk lahan yang sebagian besar digunakan untuk lahan pertanian atau pemukiman.
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan). Hutan produksi di Indonesia yang dikenal saat ini dibedakan atas dua jenis berdasarkan jenis tegakan yaitu Hutan Heterogen (tegakan tidak seumur dan memiliki jenis yang bebeda) dan Hutan Homogen (tegakan seumur dan jenis sama).
Hutan merupakan sumber daya alam yang dapat memberikan manfaat berlipat ganda, baik manfaat yang secara langsung maupun manfaat secara tidak langsung. Manfaat hutan secara langsung adalah sebagai sumber berbagai jenis barang, seperti kayu, getah, kulit kayu, daun, akar, buah, bunga dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia atau menjadi bahan baku berbagai industri yang hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi hampir semua kebutuhan manusia. Manfaat hutan yang tidak langsung meliputi gudang keanekaragaman hayati (biodiversity) yang terbesar di dunia meliputi flora dan fauna, Bank lingkungan regional dan global yang tidak ternilai, baik sebagai pengatur iklim, penyerap CO2serta penghasil oksigen, Fungsi hidrologi yang sangat penting artinya bagi kehidupan manusia di sekitar hutan dan plasma nutfah yang dikandungnya.
Luas kawasan hutan Indonesia tahun 2012 mencapai 130,61 juta ha. Kawasan tersebut diklasifikasi sesuai dengan fungsinya menjadi kawasan konservasi (21,17 juta ha), kawasan lindung (32,06 juta ha). kawasan produksi (33,68 juta ha) dan kawasan produksi yang dapat dikonversi (20,88 juta ha) Luas kawasan hutan tersebut mencapai 68,6% dari total luas daratan Indonesia sehingga menjadi salah satu potensi sumber daya alam yang rawan.
Fungsi hutan  di antaranya adalah mengatur tata air, mencegah dan membatasi banjir, erosi, serta memelihara kesuburan tanah menyediakan hasil hutan untuk keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya untuk keperluan pembangunan industri dan ekspor, sehingga menunjang pembangunan ekonomi melindungi suasana iklim dan memberi daya pengaruh yang baik memberikan keindahan alam pada umumnya dan khususnya dalam bentuk cagar alam, suaka margasatwa, taman perburuan, taman wisata.

1.1 Rumusan Masalah
1. Bagaimana habitat dari Pohon Cendana (Santalum album )?
2. Bagaimana cara memperoleh kayu dan minyak dari Pohon Cendana (Santalum album)?
3. Bagaimana metode produksi dan manfaat ekonomi dari Pohon Cendana (Santalum album)?
2.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui klasifikasi, informasi dari Pohon Cendana (Santalum album).
2. Untuk mengetahui cara memperoleh kayu dan minyak Pohon Cendana (Santalum album).
3. Untuk  mengetahui bagaimana metode produksi dan manfaat ekonomi dari dari Pohon Cendana (Santalum albim).




BAB II
ISI
2.1 Habitat dari Pohon Cendana (Santalum album)

klasifikasi pinus digolongkan sebagai berikut :
1. Divisio :Spermatophyta
2. SubDivisio :Angiospermae
3. Kelas :Dicotyledoneae
4. SubKelas :Rosidae
5. Ordo :Santalales
6. Suku/Famili :Santalaceae
7. Marga/Genus :Santalum.
8. Jenis/Spesies :SantalumalbumLinn.
Cendana (Santalum album  L.)  merupakan jenis tanaman asli Indonesia  yang tumbuh endemik di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang banyak dijumpai di Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor, Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau lainnya. Tanaman cendana tergolong tanaman yang sangat penting karena mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Cendana NTT mempunyai keunggulan diantaranya memiliki kadar minyak dan produksi kayu teras yang tinggi.   Kayu   cendana   menghasilkan  minyak atsiri dengan aroma yang harum dan banyak digemari, sehingga mempunyai nilai pasar yang cukup baik.
Cendana (Santalum album  L.)  merupakan jenis tanaman asli Indonesia  yang tumbuh endemik di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang banyak dijumpai di Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor, Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau lainnya. Tanaman cendana tergolong tanaman yang sangat penting karena mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Cendana NTT mempunyai keunggulan diantaranya memiliki kadar minyak dan produksi kayu teras yang tinggi.   Kayu   cendana   menghasilkan  minyak atsiri dengan aroma yang harum dan banyak digemari, sehingga mempunyai nilai pasar yang cukup baik.
2.2 Cara memperoleh minyak Pohon Cendana (Santalum album)
Cendana merupakan salah satu marga dari 25 suku Santalaceae yang penyebarannya mulai dari Malaysia bagian Timur, Australia sampai di sebelah timur kepulauan Polynesia. Santalum album L. merupakan jenis yang tumbuh alami di kawasan Asia. Beberapa pakar meyakini bahwa Santalum album L. berasal dari kepulauan Indonesia di sebelah Tenggara terutama diantaranya pulau Timor dan pulau Sumba.
Dalam dunia perdagangan, cendana dikenal dengan nama sandalwood. Di luar Indo- nesia,  nama  kayu  cendana  antara  lain  East Indian sandalwood, white sandalwood dan yellow   sandalwood (Inggris, Amerika Serikat), bois santal (Spanyol, Italia), echte sandal (Belanda), echtes sandelholtz (Jerman), chen- dana (Malaysia), santaku (Burma), chantana (Thailand), bach (Vietnam), sandal, chandal, chandam, gundala dan suket oleh dengan cara penyulingan uap langsung dan steam.
Rendemen minyak cendana yang diperoleh dengan cara penyulingan uap langsung (steam destillation) berkisar antara 2-3 %. Minyak cen- dana merupakan bahan penting untuk pem- buatan parfum dan kosmetik, selain itu juga dapat dipergunakan sebagai campuran dalam industri sabun. Minyak cendana merupakan minyak yang sangat harum oleh karena itu minyak   ini   dipergunakan   sebagai   pengikat bahan pewangi lain (fiksasi) yang digunakan dalam industri parfum, dan hasilnya sebagian besar diekspor.
Lebih lanjut Rahayu et al. (2002) mengungkapkan bahwa minyak cendana dapat digunakan  untuk  menyembuhkan sakit  perut, asma, sakit kulit, infeksi ginjal, berbagai peradangan, obat penenang, obat mengurangi rasa nyeri, anti kanker, anti bakteri, dan aroma terapi. Ampas serbuk sisa hasil penyulingan kayu  cendana  masih  dapat  dimanfaatkan sebagai bahan baku wangi-wangian, campuran dupa, makmul, dan hio yang digunakan untuk acara-acara kegiatan ritual atau keagamaan.
2.3 Metode produksi dan manfaat ekonomi dari pohon pinus  (Pinus mercusii)
Penyulingan dengan Air.
Kayu cendana yang telah dipotong-potong, digiling kasar atau digerus halus dan dididihkan dengan air. Uap air dialirkan melalui pendingin dan hasil sulingan berupa minyak yang belum murni ditampung dalam wadah.




Gambar Proses Penyulingan dengan Air
Penyulingan dengan Air dan Uap.
Cara ini sudah banyak dilakukan secara kecil-kecilan sebagai industri rumahan karena peralatan yang digunakan mudah didapat dan hasil yang diperoleh cukup baik. Alat yang digunakan semacam dandang.  Kayu cendana diletakkan di atas bagian yang berlubang, sedangkan air  di lapisan bawah. Uap air dialirkan melalui pendingin dan hasil sulingannya ditampung dalam wadah. Minyak yang diperoleh belum murni.








Gambar Proses Penyulingan dengan Air dan Uap
Penyulingan dengan Uap.
Cara ini digunakan untuk membuat minyak atsiri  dari biji, akar, atau kayu yang umumnya mengan- dung  komponen tinggi. Peralatan yang dipakai tidak berbeda dengan penyulingan yang menggunakan air dan uap,  hanya  memerlukan alat  tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan tinggi. Peralatan yang dipakai tidak berbeda dengan penyulingan yang menggunakan air dan uap,  hanya  memerlukan alat  tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan.



Gambar 11. Proses Penyulingan dengan Uap
Minyak cendana yang dapat diperoleh dari basil penyulingan uap air dari kayu bagian tengah (kayu teras atau hati kayu) yang telah tua.  Cara  pembuatan  minyak  ini,  kayu  yang telah dirajang atau diserut, dikukus dalam dandang. Uap air yang bercampur dengan uap minyak yang naik ke atas diterima oleh pendingin dan didinginkan sehingga mengem- bun bersama. Selanjutnya air  yang bercampur minyak ditampung dalam wadah. Setelah proses penyulingan selesai,  minyak  cendana  dipisah- kan dari air. Rendemen minyak atsiri paling banyak diperoleh dari  pohon  yang  telah berumur tua, sekitar 20-30 tahun.














KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpilan
1. Tanaman cendana (Santalum album L.) adalah tanaman asli Indonesia dan dikenal sebagai penghasil minyak atsiri yang memiliki potensi nilai ekonomi yang cukup tinggi. 
2. Bahan bioaktif yang   terkan- dung di dalam minyak atsiri cendana sebagian besar merupakan golongan santalol yang termasuk ke dalam senyawa sesquiterpenoid.
3. Senyawa sesquiterpenoid merupakan se- nyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman yang berfungsi sebagai antitoksin dari bakteri dan cendawan.
4. Interaksi antara faktor genetik tanaman dengan lingkungan merupakan faktor utama yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman cendana yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produksi minyak   atsiri   yang   dihasilkan. 
5. Minyak cendana memiliki nilai fungsi yang tinggi diantaranya sebagai bahan aroma terapi yang sangat ber- manfaat bagi kesehatan manusia, bahan kos- metik, bahan untuk obat-obatan dan lain-lain.
Saran
Potensi alam dan sosial yang ada pada masyarakat hendaknya menjadi modal dasar bagi upaya lanjutan dalam aksi pelestarian cendana (Santalum album) secara massal yang nantinya menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.











DAFTAR PUSTAKA
Ariyanti,  M.,  M.A.  Soleh,  Y.  Maxiselly.  2017.Respon  pertumbuhan  tanaman  aren (Arenga pinnata merr.) dengan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik berbeda dosis. Jurnal Kultivasi Vol. 16 (1) :271-278
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kupang. 2011. Masterplan Pengembangan dan Pelestarian Cendana Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2010 – 2030. Kupang.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 1992. Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Nusa Tenggara. Kupang: Balai Penelitian Kehutanan. Kupang.
Brand,  J  and  Jones,  P.  1999.  Growing Sandal wood (Santalum spicatum) on Farmland in Western Australia. Sandalwood Infor- mation Sheet. Issue 1 May 1999: 1-4.
Climent,   J.,   J.    Gil,   and   Pardos,   J.   1993. Hearthwood and Sapwood Development and its Relationship in Pinus canariensis Chr. Sm ex Dc.. Forest Ecology and Management 59: 165-174.
Fox, J. E. D. 2000. .Sandalwood : The Royal Tree. Biologist, 47 (1): 31-34.
Hermawan R. 1993. Pedoman Teknis Budidaya Kayu Cendana (Santalum album Linn.). Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Hilis, W.E and N. Ditchburne.1974. .The Prediction of hearthwood diameter in radiata pine tree.. Canadian J. of Forest Research , 4: 524-529.



LAMPIRAN


Hasil dari minyak Cendana




8 komentar:

  1. https://pemanfaatanesdhhutd2018.blogspot.com/2020/03/unedo-simanjuntak-181201144_30.html

    BalasHapus
  2. Luar biasa dan sangat bermanfaat
    # leo

    BalasHapus
  3. Lumayan lahh gk sia" kau masuk kompas

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Bukankah pohon cendana ini termasuk spesies langka?

    BalasHapus
  6. Kenapa tidak di budidayakan di Sumatera atau daeran indonesia yang lain. Agar spesiesnya tidak punah.

    BalasHapus

Jhonson Simamora 181201150

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan, Maret     202 0 POHON DAMAR ( Aghati...