Senin, 30 Maret 2020

Oloanfernandopurba

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                Medan, Maret 2020
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KAYU MAHONI SEBAGAI ANTIVIRUS HUMAN PAPILLOMA VIRUS PADA PENGOBATAN KANKER SERVIKS

Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:
Oloan Fernando purba
181201060
HUT 4D















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun tugas ini dengan tepat waktu. Adapun tulisan yang berjudul pemanfaatan limbah kayu mahoni sebagai anti virus human papilloma virus pada pengobatan kanker serviks” ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih penulis ucapkan kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutanyaitu Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan penyempurnaan tugas ini.Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, semoga  ini bermanfaat bagi kita semua.
   






Medan,  Maret 2020

                                Penulis



DAFTAR ISI
                                    Halaman
KATA PENGANTAR ...........................................    ……….i
DAFTAR ISI     ……….ii
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................    ……….1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................2
1.3 Tujuan .................................................................................................................2
ISI
2.1 biji mahoni ...........................................................................    ……….3
2.2 Kulit Kayu Mahoni (Swietenia macrophylla King)……………...…….……….3
PENUTUP
Kesimpulan .................................................................................................    ………4
Saran ..............................................................................................    ………4
DAFTAR PUSTAKA
















BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 
Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah penyakit keganasan pada organ kandungan yang dinamakan leher rahim atau serviks. Serviks merupakan bagian bawah rahim yang berbatasan langsung dengan liang vagina. Pada kanker serviks terjadi pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali sehingga menimbulkan benjolan atau tumor pada serviks. Berawal dari serviks, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini dapat menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh. Menurut data World Health Organization (WHO) (2002), kanker serviks merupakan kanker nomor dua terbanyak yang menyerang wanita berusia 15-45 tahun setelah kanker payudara. Tidak kurang dari 500.000 kasus baru dengan kematian 280.000 penderita terjadi tiap tahun di seluruh dunia. Hal ini berarti bahwa setiap 2 menit seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks. Wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah memiliki 1,3 miliar perempuan berusia 13 tahun ke atas yang berisiko terkena kanker serviks. WHO memperkirakan ada lebih dari 265.000 kasus kanker serviks dengan kematian 140.000 penderita tiap tahun di wilayah ini. Berbeda dengan di Indonesia, kanker serviks justru menjadi penyebab kematian nomor satu yang sering terjadi pada wanita Indonesia. Menurut Republika (2011), sekitar 270.000 wanita Indonesia meninggal dunia setiap tahun akibat kanker serviks atau kanker leher rahim. Berdasarkan Kompas (2008), sepanjang tahun 1988-1994, dari 10 jenis penyakit kanker, kanker serviks paling tinggi kasusnya, yaitu mencapai 26.200 kasus. Sementara itu, menurut data tahun 2002 dari Information Centre on HPV and Cervical Cancer (ICO), Indonesia mencatat 15.050 kasus baru dengan kematian 7.566 penderita per tahun. Hal ini berarti bahwa setiap hari terdapat sekitar 20 wanita Indonesia meninggal karena kanker serviks. Kulit kayu mahoni (Swietenia macrophylla King) merupakan bagian dari tanaman mahoni yang pemanfaatannya belum maksimal dan sering menjadi limbah dari industri mebel (furniture) dan kerajinan tangan. Namun, sebenarnya limbah kulit kayu mahoni ini memiliki potensi yang sangat besar, yaitu sebagai antivirus. Mahoni mengandung berbagai senyawa aktif yang telah berhasil diisolasi. Berbagai macam fitokimia seperti swetenin, swietenolida, swietemahonin, khayasin, andirobin, augustineolida, 7-deasetoksi-7-oksogedunin, proseranolida, dan 6-O-asetilswietonolida terkandung di dalam mahoni (Maiti et al. 2008). Kulit mahoni juga mengandung triterpenoid, limonoid (Mootoo 1999), flavonoid, saponin, dan terpenoid (Suhesti et al. 2007), serta alkaloid dan tanin (Ningsih 2009). Kulit batang mahoni telah terbukti mengandung katekin, epikatekin, dan swietemakrofilanin (Falah et al. 2008).
Penelitian mengenai efek farmakologis dari bagian tumbuhan mahoni telah banyak dilakukan. Biji mahoni merupakan salah satu bagian tumbuhan yang banyak diteliti dalam bidang pengobatan. Biji mahoni terbukti aktivitasnya sebagai antiflamasi, antimutagenisitas, dan antitumor (Guevera et al. 1996). Sementara itu, penelitian mengenai kulit kayu mahoni menunjukkan bahwa kulit 2 mahoni memiliki aktivitas anti-HIV, antimikrobial, antimalaria, antitumor, dan berguna dalam pengobatan hipertensi (Munoz et al. 2000; Murningsih et al. 2005). Pengujian secara in vitro ekstrak kulit mahoni menunjukkan aktivitas antimikrobial dan antifungi (Dewanjee et al. 2007). Kandungan senyawa flavonoid dalam kulit kayu mahoni ini berpotensi sebagai antivirus Human Papilloma Virus (HPV), yang merupakan virus penyebab kanker serviks. Senyawa flavonoid mampu mengkelat logam Mg2+ dan Zn2+ sehingga kedua ion logam tersebut tidak akan menempel dan mengaktifasi enzim DNA polymerase. Tidak aktifnya DNA polymerase menyebabkan reaksi oksidatif proses replikasi HPV yang menyebabkan proliferasi sel terhenti. Dengan demikian, pelebaran kanker serviks dan invasi HPV ke jaringan atau sel lainnya dapat dihentikan.

1.2. Rumusan Masalah
    Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut :
  1. Apa saja komposisi kimia dan komponen biji mahoni?
  2. Apa saja metode ekstrak biji mahoni?
  3. Apa saja pemanfaatan biji mahoni?

Tujuan
Karya tulis ini bertujuan menggali potensi limbah kulit kayu mahoni (Swietenia macrophylla King) sebagai antivirus Human Papilloma Virus (HPV) untuk mengobati penyakit kanker serviks. Diharapkan pemanfaatan limbah kulit kayu mahoni dalam farmakologi mampu mengatasi permasalahan penyakit kanker serviks. Dengan demikian, jumlah penderita kanker serviks maupun kematian yang disebabkannya dapat dikurangi.
BAB II
  ISI

2.1 biji mahoni
Menurut data World Health Organization (WHO) (2002), kanker serviks merupakan kanker nomor dua terbanyak yang menyerang wanita berusia 15-45 tahun setelah kanker payudara. Tidak kurang dari 500.000 kasus baru dengan kematian 280.000 penderita terjadi tiap tahun di seluruh dunia. Hal ini berarti bahwa setiap 2 menit seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks. Wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah memiliki 1,3 miliar perempuan berusia 13 tahun ke atas yang berisiko terkena kanker serviks. WHO memperkirakan ada 3 lebih dari 265.000 kasus kanker serviks dengan kematian 140.000 penderita tiap tahun di wilayah ini. Berbeda dengan di Indonesia, kanker serviks justru menjadi penyebab kematian nomor satu yang sering terjadi pada wanita Indonesia. Menurut Republika (2011), sekitar 270.000 wanita Indonesia meninggal dunia setiap tahun akibat kanker serviks atau kanker leher rahim. Berdasarkan Kompas (2008), sepanjang tahun 1988-1994, dari 10 jenis penyakit kanker, kanker serviks paling tinggi kasusnya, yaitu mencapai 26.200 kasus. Sementara itu, menurut data tahun 2002 dari Information Centre on HPV and Cervical Cancer (ICO), Indonesia mencatat 15.050 kasus baru dengan kematian 7.566 penderita per tahun. Hal ini berarti bahwa setiap hari terdapat sekitar 20 wanita Indonesia meninggal karena kanker serviks. Menurut dr Herman Susanto dari RS Hasan Sadikin, Bandung, penderita kanker rahim diperkirakan mencapai 100 perempuan per 100 ribu penduduk (Tempo 2010). HPV tidak memiliki gen yang menyandi DNA polymerase yang dibutuhkan untuk memperbanyak dirinya, sehingga sangat bergantung pada mekanisme sel inang untuk bereproduksi. Proses perbanyakan diri HPV adalah dengan melakukan replikasi yang dikatalisis oleh DNA polymerase sel inang. Proses yang melibatkan enzim tersebut merupakan suatu proses oksidatif yang melibatkan ion Mg2+ dan Zn2+ sebagai kofaktor DNA polymerase (Watson 2008). Senyawa flavonoid mampu mengkelat logam Mg2+ dan Zn2+ sehingga kedua ion logam tersebut tidak akan menempel dan mengaktifasi enzim DNA polymerase. Tidak aktifnya DNA polymerase menyebabkan reaksi oksidatif proses replikasi HPV yang menyebabkan proliferasi sel terhenti. Dengan demikian, pelebaran kanker serviks dan invasi HPV ke jaringan atau sel lainnya dapat dihentikan. Berdasarkan Detik (2010), salah satu cara untuk mencegah kanker serviks adalah dengan melakukan vaksinasi HPV. Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Teknologi Kesehatan dan Farmasi, Dr Howard Zucker, mengatakan bahwa vaksin baru pencegah HPV di negara-negara berkembang telah menyelamatkan ratusan ribu nyawa jika diberikan secara efektif (Departemen Kesehatan RI 2010). Namun, harga vaksin untuk mencegah penularan virus kanker serviks di Indonesia masih sangat mahal, yaitu berkisar Rp 700.000 hingga Rp 1.200.000. Vaksinasi itu diberikan berulang 3 kali, pada 0,1, dan 6 bulan (Tempo 2010). Oleh karena itu, karya tulis ini menggagas sebuah ide mengenai pengobatan alternatif dengan memanfaatkan limbah kulit kayu mahoni (Swietenia macrophylla King) yang berpotensi sebagai antivirus Human Papilloma Virus (HPV) sehingga kanker serviks dapat diobati.

2.2 Kulit Kayu Mahoni (Swietenia macrophylla King)
 Mahoni (Swietenia macrophylla King) merupakan tumbuhan dengan famili Meliaceae dan lebih umum dikenal dengan nama mahoni berdaun lebar. Tumbuhan ini hidup di daerah lembab sepanjang tahun dan menyebar luas di Meksiko, Amerika Selatan bagian tengah, dan Amerika Selatan bagian utara. Mahoni mudah beradaptasi dan tumbuh dengan cepat sehingga ditanam sebagai penghasil kayu dan juga regenerasi hutan di daerah tropis termasuk Indonesia (Falah et al. 2008 diacu dalam Lavenia A 2010) Pohon mahoni dapat tumbuh hingga 30-40 meter (Maiti et al. 2007). Kulitnya berwarna abu-abu dan halus ketika masih muda, kemudian berubah menjadi cokelat tua dan menggelembung serta mengelupas ketika sudah tua. Daunnya menyirip dengan panjang hingga 35-50 cm. Bunga Mahoni bentuknya kecil dan berwarna putih dengan panjang hingga 10-20 cm. Sementara itu, buah Mahoni berbentuk kapsul, keras, memiliki panjang 12-5 cm, dan berwarna abuabu coklat (Joker 2001). Kulit kayu mahoni telah banyak digunakan sbagai meubel, pembuatan perabot kayu, hiasan interior, serta ukiran (Suhesti 2007). Bioaktivitas yang dimiliki kulit kayu mahoni terkait dengan komponen yang terkandung di dalamnya. Fitokimia selalu ditemukan dalam setiap telaah tumbuhan. Flavonoid, alkaloid, terpenoid, steroid, saponin, tanin, merupakan beberapa contoh fitokimia di dalam tumbuhan yang memiliki bioaktivitas (Harborne 1987).




BAB III
                                            PENUTUP

Kesimpulan
Kanker serviks di Indonesia menjadi penyebab kematian nomor satu yang sering terjadi pada wanita. Penyakit ini sebenarnya dapat diobati melalui vaksinasi, namun harga vaksin sangat mahal. Oleh karena itu, diperlukan suatu alternatif pengobatan yang lebih mudah terjangkau, yaitu dengan memanfaatkan potensi limbah kulit kayu mahoni (Swietenia macrophylla King) sebagai antivirus Human Papilloma Virus (HPV) yang merupakan virus penyebab kanker serviks. Limbah kulit kayu mahoni (Swietenia macrophylla King) ini mengandung senyawa flalvonoid yang mampu mengkelat logam Mg2+ dan Zn2+ sehingga kedua ion logam tersebut tidak akan menempel dan mengaktifasi enzim DNA polymerase. Tidak aktifnya DNA polymerase menyebabkan reaksi oksidatif proses replikasi HPV yang menyebabkan proliferasi sel terhenti. Dengan demikian, pelebaran kanker serviks dan invasi HPV ke jaringan atau sel lainnya dapat dihentikan.

Saran
 Pengembangan pengobatan alternatif dengan memanfaatkan limbah kayu mahoni untuk mengobati kanker serviks sangat dibutuhkan dan diperlukan dukungan terutama dari masyarakat, kelompok peneliti, tenaga medis, serta pemerintah Indonesia. Mengingat jumlah penderita kanker serviks di Indonesia 7 begitu banyak, bahkan kanker serviks merupakan penyebab kematian nomor satu setelah kanker payudara. Selain itu, perlu adanya upaya sosialisasi dan pendekatan anjuran mengenai pemanfaatan limbah kulit kayu mahoni yang ternyata berpotensi sebagai penghambat pertumbuhan Human Papilloma Virus (HPV) sebagai virus pada kanker serviks.






DAFTAR PUSTAKA


Dewanjee S et al. 2007. In vitro evaluation of antimicrobial activity of crude extract from plants Diospyros peregrine, Coccinia grandis and Swietenia macrophylla. Trop J Pharm Res 6: 773-778

Guevera AP, Apilado A, Sakarai H, Kozuka M, Tokunda H. 1996. Antiinflammatory, antimutagenecity and antitumor activity of mahagony seeds Swietenia macrophylla (Meliaceae). Phill J Sci 125(4): 271-278.

Information Centre on HPV and Cervical Cancer (ICO). 2002. Diacu dalam dalam kanker serviks pembunuh utama wanita Indonesia [terhubung berkala]. www.drprima.com. [24 Februari 2011]

1 komentar:

Jhonson Simamora 181201150

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan, Maret     202 0 POHON DAMAR ( Aghati...