PEMANFAATAN JASA LINGKUNGAN DI NIAS SELATAN
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh:
Bani Putra Manalu
181201058
HUT 4D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun tugas ini dengan tepat waktu. Adapun tulisan yang berjudul “Pemanfaatan Jasa Lingkungan Di Nias Selatan” ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih penulis ucapkan kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan yaitu Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan penyempurnaan tugas ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, semoga ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Maret 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia terkenal dengan keragaman dari masing – masing daerahnya, baik dari segi agama, budaya, kuliner, bahkan objek wisatanya. Namun tidak semua daerah tersebut memiliki angka kesejahteraan yang sama, hal ini dikarenakan faktor dari pemanfaatan berbagai potensi didaerah tersebut.Dalam meningkatkan ekonomi setiap daerah diperlukan strategi pembangunan yang dijalankan oleh masing-masing pemerintah daerah dibeberapa sektor yang dianggap berpotensi, sehingga pembangunan dapat lebih mudah dilakukan. Salah satu sektor yang dapat meningkatkan pendapatan daerah adalah sektor pariwisata.
Sektor pariwisata pasti dimiliki setiap daerah, baik dari segi budaya maupun kondisi alamnya yang menjadi objek wisatanya. Pembangunan dari sektor pariwisata tidak hanya membantu meningkatkan PAD saja, melainkan dengan terbukannya berbagai usaha-usaha disektor pariwisata dapat membuka lowongan kerja sehingga mengurangi angka pengangguran didaerah tersebut. Hal ini dapat kita lihat dari Undang-Undang RI No. 10 tahun 2009 pasal 4 tentang tentang
Ekonomi SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH untuk menjawab barang dan jasa hasil hutan apa yang diproduksi sehingga dapat menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam pengertian bahwa sumberdaaya hutan telah memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memberikan jasa perlindungan lingkungan bagi semua masyarakat.
Ekowisata merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi. Ekowisata merupakan pengelolaan alam dan budaya masyarakat yang menjamin kelestarian dan kesejahteraan, konservasi merupakan upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumberdaya alam untuk waktu kini dan masa mendatang. Pengembangan ekowisata di suatu kawasan perlu mempertimbangkan kemampuan atau daya dukung kawasan tersebut untuk menampung wisatawan. Daya dukung ekowisata tergolong spesifik serta lebih berhubungan dengan daya dukung lingkungan dan sosial terhadap kegiatan wisata dan pengembangannya. Daya dukung ekowisata diartikan sebagai tingkat atau jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung oleh infrastruktur obyek wisata alam. Jika daya tampung tersebut dilampaui maka akan terjadi kemerosotan sumberdaya, akibatnya kepuasan pengunjung tidak terpenuhi, sehingga memberikan dampak merugikan bagi ekonomi dan budaya masyarakat.
Seiring dengan perkembangan berwisata, ekowisata merupakan suatu konsep pariwisata yang mencerminkan wawasan lingkungan dan mengikuti kaidah-kaidah keseimbangan dan kelestarian lingkungan.Secara umum pengembangan ekowisata harus dapat meningkatkan kualitas hubungan antar manusia, meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat dan menjaga kualitas lingkungan.Wisata ini tidak hanya sekedar untuk melakukan pengamatan lingkungan alam saja, tetapi terkait dengan konsep pelestarian alam dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Lokasi Dan KondisiAlam Nias Selatan ?
2. Apa Saja Bentuk Pemanfaatan yang diberikan ?
3. Jelaskan Kegunaan dan Manfaat yang diperoleh
1.3 Tujuan
- Untuk Mengetahui Lokasi Dan Kondisi Alam Nias Selatan
- Untuk Mengetahui Bentuk Pemanfaatan yang diberikan
- Untuk Mengetahui Kegunaan dan Manfaat yang diberikan
BAB II
ISI
2.1 Lokasi Dan Kondisi Alam Nias Selatan
Pulau Nias terletak antara 0º 12”-1º 32” Lintang Utara dan 97º--98º Bujur Timur. Pulau Nias berbatasan dengan Pulau Banyak di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di sebelah utara, Pulau Mursala di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah di sebelah timur; dan Pulau Mentawai di wilayah Provinsi Sumatra Barat di sebelah selatan. Adapun di sebelah barat berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia. Kabupaten Nias Selatan mempunyai luas wilayah 1.825,2 km² dan wilayah ini terdiri dari 104 buah pulau. Kabupaten Nias Selatan terdiri dari 18 kecamatan, di mana terdapat dua kelurahan dan 354 desa. Kabupaten Nias Selatan berada di sebelah barat Pulau Sumatera, berjarak ± 92 mil laut dari Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Kabupaten Nias Selatan berada di sebelah selatan Kabupaten Nias, berjarak ± 120 km dari Kota Gunungsitoli. Kabupaten Nias Selatan berbatasan dengan Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Barat di sebelah utara, dengan Kepulauan Mentawai di wilayah Provinsi Sumatera Barat di sebelah selatan, dengan Kabupaten Mandailing Natal dan Pulau Mursala di Kabupaten Tapanuli Tengah di sebelah timur, serta Samudera indonesia di sebelah barat.
Kondisi alamnya berbukit-bukit sempit dan terjal serta pegunungan, ketinggian bervariasi antara 0--800 meter dpl, yang terdiri atas dataran rendah sampai bergelombang mencapai 20 %; tanah bergelombang sampai berbukit-bukit 28,8 %; dan berbukit sampai pegunungan 51,2 % dari keseluruhan luas daratan. Kondisi topografi demikian menyulitkan pembuatan jalan-jalan lurus dan lebar. Tidak mengherankan bila kota-kota utama menempati wilayah tepi pantai.
Kondisi alam yang demikian, di samping struktur batuan dan susunan tanah yang labil, mengakibatkan sering terjadi banjir bandang, dan terdapat patahan jalan-jalan aspal dengan longsor di sana-sini, bahkan terjadi daerah aliran sungai yang berpindah-pindah Berada di daerah khatulistiwa, Kabupaten Nias Selatan memiliki curah hujan rata-rata 298,60 mm/bulan dan banyaknya hari hujan dalam setahun mencapai 250 hari atau rata-rata 21 hari perbulan (catatan pada tahun 2011). Hal ini mengakibatkan kondisi alamnya sangat lembab dan basah.
Keadaan iklim dipengaruhi oleh Samudera indonesia yang mengelilinginya. Suhu udara berkisar antara 21,7°--31,3° dengan kelembaban sekitar 88%, dan kecepatan rata-rata angin 6 knot/jam. Curah hujan yang tinggi dan relatif hujan turun sepanjang tahun, seringkali dibarengi badai besar. Musim badai laut biasanya terjadi antara bulan September sampai November, tetapi kadang terjadi juga badai pada bulan Juni.
2.2 Bentuk Pemanfaatan yang diberikan
Berbagai peninggalan sejarah yang sampai sekarag masih menjadi menjadi objek bagi para turis jika datang ke Nias Selatan
2.1. 1 Omo Hada (Rumah Adat) dan Omo Sebua
Omo hada (rumah adat) di desa-desa tradisional untuk Nias Selatan berbentuk rumah panggung dengan atap menjulang tinggi berbentuk kerucut. Tiang, lantai, dan dinding bangunan terbuat dari kayu, sedangkan atap dari daun rumbia, namun sekarang pada umumnya telah diganti dengan seng. Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang. Antara balok kayu satu dan balok yang lain dikaitkan dengan sistem pasak, tanpa menggunakan paku. Tiang-tiang kolong terbuat dari batang kayu berukuran besar, dipasang dalam jarak yang rapat dalam kombinasi dua posisi, yaitu vertikal dan diagonal. Hal ini dimaksudkan agar rumah-rumah tahan terhadap gempa bumi yang memang sering melanda Pulau Nias. Tinggi tiang kolong pada omo hada berkisar 2 meter, sedangkan tinggi tiang kolong pada omo sebua berkisar 3 m. Dinding pada bagian depan rumah menjorok keluar dengan lubang ventilasi udara yang lebar. Ventilasi ini sekaligus juga berfungsi sebagai jendela untuk mengamati keadaan di depan rumah. Kisi-kisi jendela dipasang dengan reng kayu horizontal. Sedangkan atapnya mengerucut tinggi dengan kemiringan atap yang curam. Ujung bawah atap melewati batas dinding untuk memberi perlindungan dinding dari cucuran air hujan. Jendela dan ventilasi di samping rumah tidak ada karena jarak yang rapat antara rumah yang satu dengan yang lain.
Adanya stratifikasi masyarakat ini menyebabkan dalam suatu desa tradisional terdapat sebuah bangunan rumah yang berukuran lebih besar daripada rumah-rumah lainnya, yang disebut omo sebua. Rumah ini merupakan tempat tinggal raja/kepala desa. Omo sebua pada umumnya berada di bagian tengah dari salah satu deretan rumah di desa tradisional. Omo sebua juga disebut omo nifolasara (rumah yang dihias dengan lasara), sekaligus juga merupakan salah satu variasi dari omo hada (rumah adat). Omo sebua didirikan di depan orahua newali atau batubatu di halaman untuk tempat duduk dalam musyawarah desa, berseberangan dengan omo bale atau Osali.
2.1. 2 Tangga Naik/ Gerbang Desa
Sebagaimana disebutkan di atas, desadesa tradisional didirikan di punggung bukit atau tanah yang tinggi. Pada bagian depan dan belakang desa terdapat gerbang masuk berupa tangga naik. Kemiringan lereng dan jumlah anak tangga berbeda-beda, tetapi berdasarkan pengamatan jumlahnya bervariasi antara 20 hingga 80 anak tangga, tergantung pada kontur tanah yang dilalui. Pada ujung atas tangga, di sisi kiri dan kanan pintu gerbang terdapat sepasang patung lasara. Lasara adalah sejenis binatang mitologis berbentuk seekor naga yang merupakan simbol pelindung/penjaga desa.
2.1. 3 Pagar Batu
Pagar batu yang diamati pada penelitian ini terletak pada kordinat 0° 37’ 10,4” Lintang Utara dan 97° 46’ 21,8” Bujur Timur, yaitu di sebelah utara Situs Bawomataluo, berjarak sekitar 300 meter dari pintu keluar kampung. Pagar yang masih tampak di lokasi ini berbahan batu gamping, dengan bentuk tidak beraturan dengan bagian lebarnya berkisar 50 cm memiliki panjang sekitar 30 meter, lebar 2 meter dan tinggi dari dalam kampung berkisar 1 meter. Lokasi pagar yang membentang mengikuti alur sungai dan bentuk lahan itu berada di bahu Sungai Lumono dengan lahan yang miring sehingga ketinggian tembok batu itu berkisar 1,5 meter dari luar pagar. Dari informasi masyarakat, diketahui bahwa panjang tembok yang ada di sekitar lokasi itu adalah 150 meter
2.1. 4 Ombo Batu (Batu Lompat)
Ombo batu atau batu lompat adalah susunan batu berbentuk kerucut terpotong dengan tinggi sekitar 2 meter. Susunan batu ini merupakan tempat melakukan aktivitas lompat batu. Batu loncat, tidak jauh dari batu lingkaran sebagai pusat perkampungan terdapat batu loncat berbentuk piramid dengan bagian atas datar. Batu ini merupakan simbol keperkasaan dan melatih pemuda dalam mempertahankan diri dari musuh di masa lampau. Fungsi ini sekarang berubah menjadi atraksi ketangkasan bagi turis. Adapun ukuran batu loncat adalah panjang 1 meter, panjang alas 1,4 meter, lebar 60 cm, lebar alas 1,1 meter, dan tinggi 2,1 meter. Tradisi lompat batu dimaksudkan untuk mengukur kekuatan dan keperkasaan pria untuk maju ke medan perang. Dahulu desadesa di Nias Selatan dikelilingi oleh pagar batu untuk menghalangi musuh. Apabila menyerang desa, musuh harus mampu melompati pagar-pagar tersebut. Namun, sekarang pagar desa kebanyakan sudah tidak bersisa lagi. Tradisi lompat batu berubah fungsi hanya sebagai atraksi wisata semata-mata.
Tidak hanya peninggalan sejarah, Nias Selatan juga memiliki keindahan yang dimiliki oleh Pantai Sorake. Pantai Sorake berada di Kabupaten Nias Selatan. Pantai ini bersebelahan dengan Pantai Lagundri dengan jarak 2 km. Pantai Sorake terkenal dengan keindahan pantai dan ombaknya sehingga dinobatkan sebagai salah satu destinasi surfing terbaik dunia. Hampir setiap hari kegiatan selancar dilakukan di Pantai Sorake, terutama para surfer lokal. Pemuda setempat menjadi pelatih bagi surfer pemula yang ingin mencoba ombak Pantai Sorake. Tingginya minat pada Pantai Sorake menjadikan Pantai Sorake sebagai salah satu destinasi wisata utama di Pulau Nias. Ombaknya yang terkenal ini membuat Pantai Sorake dijuluki “AllTime Surfing” oleh para peselancar dunia.
2.3 Kegunaan dan Manfaat yang diperoleh
Dari sudut pandang ekonomi, pariwisata memberikan manfaat besar karena dapat : (1) menciptakan peluang dan lapangan kerja, (2) menghasilkan devisa, (3) meningkatkan pendapatan, (4) meningkatkan PBD, (5) mengembangkan infrastruktur, (6) memanfaatkan produk dan sumberdaya lokal dalam pengembangannya, (7) mendorong kegiatan ekonomi, (8) meningkatkan keragaman (divresifikasi) kegiatan ekonomi, (9) memeratakan pembangunan dan, (10) memiliki efek pengganda yang besar.
Dari sudut pandang sosial, pariwisata diyakini dapat digunakan untuk mengurangi kemiskinan dan perekat sosial, yang pencanangannya telah dimulai pada hari pariwisata dunia tahun 2003. Keunggulan sektor ini yaitu (1) memiliki potensi lebi besar untuk link dengan pengusaha lokal karena konsumen datang ke daerah tujuan wisata (2) intensif tenaga kerja dan penyerapan tenaga wisata relatif tinggi, (3) otensial pada negara-negara miskin dan wilayah yang tidak memiliki daya saing komoditi ekspor, dan (4) produk wisata dapat dikembangkan berdasarkan sumberdaya alam dan budaya yang merupakan aset yang dimiliki masyarakat lokal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpilan
- Ekonomi SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro.
- Kegunaan dan manfaat yang diperoleh adalah pariwisata yang memiliki 2 sudut pandang, dari sudut pandang ekonomi dan dari sudut pandang sosial
- Pemanfaatan yang disajikan oleh nias selatan berupa peninggalan Sejarah yang sampai sekarang masih dikunjungi : omo hada, omo sebia, tangga naik atau gerbang desa, omo batu (batu lompat), dan pagar batu. Tidak hanya sejarah Nias Selatan juga memberikan pemandangan yang indah lewat pantai Sorake.
- Pulau Nias terletak antara 0º 12”-1º 32” Lintang Utara dan 97º--98º Bujur Timur. Kondisi alamnya berbukit-bukit sempit dan terjal serta pegunungan, ketinggian bervariasi antara 0--800 meter dpl, yang terdiri atas dataran rendah sampai bergelombang mencapai 20 %; tanah bergelombang sampai berbukit-bukit 28,8 %; dan berbukit sampai pegunungan 51,2 % dari keseluruhan luas daratan.
- Pantai Sorake terkenal dengan keindahan pantai dan ombaknya sehingga dinobatkan sebagai salah satu destinasi surfing terbaik dunia. Hampir setiap hari kegiatan selancar dilakukan di Pantai Sorake, terutama para surfer lokal.
Saran
Sebaiknya mahasiswa lebih banyak membaca dan mencari informasi dari berbagai sumber agar pengetahuannya lebih luas dan mempemudahnya dalam penulisan seperti ini,
DAFTAR PUSTAKA
Koestoro LP dan Muhammad FSI. 2016. Geologi Situs Bawömataluö, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara
Ihsan, Soegiyanto H, dan Patoso H. 2015. Pengembangan Potensi Ekowisata Di Kabupaten Bima. Jurnal GeoEco, 1(2) : 195-206
Zebua AEB, Dessy Y dan Efriyeldi. 2017. Kajian Potensi Kawasan Ekowisata Bahari Pantai Tureloto Kabupaten Nias Utara Provinsi Sumatera Utara
Laowo dan Taufik B. 2017. Strategi Pembangunan Sektor Pariwisata Pantai Sorake dan Pantai Lagundri di Kabupaten Nias Selatan untuk Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Universitas Sumatera Utara.
Nasrudiin dan Fadhlan SI. 2018. Omo Hada: Arsitektur Tradisional Nias Selatan Di Ambang Kepunahan. Majalah Arkeologi, 27(5) : 105-116.







Surga kecil yang tersembunyi, kereen👍
BalasHapusMantap wak
BalasHapusMantap
BalasHapusMantap kwan
BalasHapusSmngat trus ya💪💪