Minggu, 29 Maret 2020

Jonatan Situmeang 181201132


Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                        Medan, Maret   2020
PEMANFAATAN GETAH PINUS (Pinus mercusii)

Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:
Jonatan Situmeang
181201132
HUT 4D




Media Digital Information Network: Logo USU dan Arti Lambang USU ...










PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun tugas ini dengan tepat waktu. Adapun tulisan yang berjudul “Pemanfaatan Getah Pohon Pinus (Pinus mercusii)” ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih penulis ucapkan kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutanyaitu Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan penyempurnaan tugas ini.Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, semoga  ini bermanfaat bagi kita semua.



Medan,  Maret 2020

            Penulis









DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI.......................................................................................................    i
KATA PENGANTAR.......................................................................................   ii
BAB I  PENDAHULUAN
          1.1 Latar Belakang......................................................................................   1
          1.2 Rumusan Masalah.................................................................................   2
          1.3 Tujuan....................................................................................................   2
BAB II ISI
2.1 Habitat dari pohon pinus (Pinus mercusii)............................................   3
2.2 Cara memperoleh getah & karakteristik pohon pinus (Pinus mercusii).   4
2.3 Produksi dan manfaat ekonomi dari pohon pinus (Pinus mercusii)......   6
BAB III  PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................   9
3.2 Saran......................................................................................................   9
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
             Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan). Hutan produksi di Indonesia yang dikenal saat ini dibedakan atas dua jenis berdasarkan jenis tegakan yaitu Hutan Heterogen (tegakan tidak seumur dan memiliki jenis yang bebeda) dan Hutan Homogen (tegakan seumur dan jenis sama).
Kehutanan menurut pasal 1 Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. Hutan sendiri memiliki arti suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam dan lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan menurut FAO merupakan lahan yang luasnya lebih dari 0,5 Ha dengan pepohonan yang tingginya lebih dari 5 m dan tutupan tajuk lebih dari 10%, atau pohon dapat mencapai ambang batas di lapangan tidak termasuk lahan yang sebagian besar digunakan untuk lahan pertanian atau pemukiman.
Hutan merupakan sumber daya alam yang dapat memberikan manfaat berlipat ganda, baik manfaat yang secara langsung maupun manfaat secara tidak langsung. Manfaat hutan secara langsung adalah sebagai sumber berbagai jenis barang, seperti kayu, getah, kulit kayu, daun, akar, buah, bunga dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia atau menjadi bahan baku berbagai industri yang hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi hampir semua kebutuhan manusia. Manfaat hutan yang tidak langsung meliputi gudang keanekaragaman hayati (biodiversity) yang terbesar di dunia meliputi flora dan fauna, Bank lingkungan regional dan global yang tidak ternilai, baik sebagai pengatur iklim, penyerap CO2serta penghasil oksigen, Fungsi hidrologi yang sangat penting artinya bagi kehidupan manusia di sekitar hutan dan plasma nutfah yang dikandungnya.
Luas kawasan hutan Indonesia tahun 2012 mencapai 130,61 juta ha. Kawasan tersebut diklasifikasi sesuai dengan fungsinya menjadi kawasan konservasi (21,17 juta ha), kawasan lindung (32,06 juta ha). kawasan produksi (33,68 juta ha) dan kawasan produksi yang dapat dikonversi (20,88 juta ha) Luas kawasan hutan tersebut mencapai 68,6% dari total luas daratan Indonesia sehingga menjadi salah satu potensi sumber daya alam yang rawan.
Fungsi hutan  di antaranya adalah mengatur tata air, mencegah dan membatasi banjir, erosi, serta memelihara kesuburan tanah menyediakan hasil hutan untuk keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya untuk keperluan pembangunan industri dan ekspor, sehingga menunjang pembangunan ekonomi melindungi suasana iklim dan memberi daya pengaruh yang baik memberikan keindahan alam pada umumnya dan khususnya dalam bentuk cagar alam, suaka margasatwa, taman perburuan, taman wisata.

1.1 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana habitat dari pohon pinus (Pinus mercusii)?
  1. Bagaimana cara memperoleh getah dan karakteristik pinus  (Pinus mercusii)?
  2. Bagaimana metode produksi dan manfaat ekonomi dari pohon pinus (pinus mercusii)?

2.1 Tujuan
1.      Untuk mengetahui klasifikasi, informasi dari pohon pinus (Pinus mercusii)
2.      Untuk mengetahui cara memperoleh getah yang dihasilakan dari  pohon pinus (Pinus mercusii)
  1. Untuk  mengetahui bagaimana metode produksi dan manfaat ekonomi dari dari pohon pinus ( Pinus mercuusii)

BAB II
ISI
2.1 Habitat dari pohon pinus (Pinus mercusii)
klasifikasi pinus digolongkan sebagai berikut :


  1. Kingdom          :  Plantae 
  2. Sub kingdom    :  Tracheobionta
  3. Super divisi      :  Spermatophyta
  4. Divisi                :  Coniferophyta
  5. Kelas                :  Pinopsida
  6. Ordo                 :  Pinales
  7. Famili               :  Pinaceae
  8. Genus               :  Pinus
  9. Spesies             :  Pinus merkusii                    
Pohon pinus (Pinus mercusii) banyak terdapat di hutan-hutan yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Tanaman pinus sengaja ditanam untuk dimanfaatkan kayu dan getahnya serta konservasi lahan. Hampir semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan, seperti bagian batangnya dapat disadap diambil getahnya. Getah pinus dapat diolah menjadi bahan pengencer cat. Hasil kayunya bermanfaat untuk konstruksi, korek api, pulp dan kertas serat panjang.
Selain untuk membuat kertas, manfaat lainnya adalah keindahan dan aroma pohon pinus sangat menyegarkan. Aroma pinus juga digunakan untuk terapi.
Pohon pinus juga menyimpan manfaat lain untuk kesehatan, seperti kandungan flavonoid dan vitamin C pada kulit pohon dan daun jarumnya. Selain itu, pohon ini juga sarat dengan antioksidan sehingga dapat memperlancar peredaran darah, menghilangkan rasa nyeri di lutut dan obat untuk meningkatkan daya ingat pada lanjut usia. Pohon pinus tidak memerlukan syarat tempat tumbuh yang khusus karena dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah bahkan pada tanah dengan pH asam. Dengan kondisi ini menjadikan pohon pinus mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan dan konservasi lahan.
Hutan pinus sebagai tanaman penghijauan secara alami sangat bermanfaat untuk mengurangi lahan longsor karena mempunyai perakaran yang dalam. Daunnya yang lebat mempunyai nilai evapotranspirasi yang tinggi, cepat mengurangi kadar lengas dalam tanah sehingga akan meningkatkan infiltrasi air dan mengurangi aliran permukaan.
Selain fungsi alam, keberadaan pinus sebagai hutan yang bisa digunakan sebagai lokasi wisata banyak dikembangkan di beberapa daerah. Menikmati alam, merasakan kesegaran udara di antara pepohonan, sekaligus bermain dan berfoto dengan nuansa yang Instagrammable, menjadikan hutan pinus sebagai tujuan wisata baru yang anti mainstream. Beberapa hutan pinus yang dipakai buat wisata, seperti di Yogyakarta, hutan pinus Mangunan, hutan pinus Kragilan, Magelang, hutan pinus Kalilo, Purworejo, dan masih banyak lagi.

2.2   Cara memperoleh getah & karakteristik dari  pohon pinus (Pinus mercusii)
Pinus merkusii dapat dijumpai di Kalimantan dan Sumatera, terutama di Sumatera dan Aceh dari 200 – 1700 mdpl, terdapat pada tanah – tanah yang tak subur dan bergerumbul. Ketinggian pohon dapat mencapai 70 meter dengan diameter   145    cm.  Tajuknya   sangat   ringan,   jenis cahaya,   dan pada daun     jarumnya   akan  gugur   terus - menerus,    meneruskan     cahaya    banyak    sekali. Pinus merupakan salah satu jenis tanaman tropis. Untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik, pinus membutuhkan antara lain :
1. Tanah yang cukup kesuburannya, walaupun unsur hara yang dipergunakan       
      pinus relatif rendah dibandingkan jenis pohon dalam lebar.
2.  Tanah yang tidak terlalu asam (pt 4,5 – 5,5 ).
      Getah yang dihasilkan pohon Pinus merkusii digolongkan sebagai oleoresin yang merupakan cairan asam-asam resin dalam terpentin yang menetes keluar apabila saluran resin pada kayu atau kulit pohon jenis jarum tersayat atau pecah. Penamaan oleoresin ini dipakai untuk membedakan getah pinus dari getah alamiah (natural resin) yang muncul kulit atau terdapat dalam rongga-rongga jaringan kayu sebagai genus dari anggota famili Dipterocarpaceae, Leguminoceae, dan Caesalpiniaceae.
      Getah yang berasal dari pohon Pinus berwarna kuning pekat dan lengket, yang terdiri dari campuran bahan kimia yang kompleks. Unsur-unsur terpenting yang menyusun getah pinus adalah asam terpen dan asam abietic. Campuran bahan tersebut larut dalam alcohol, bensin, ether, dan sejumlah pelarut organic lainnya, tetapi tidak larut dalam air. Selain itu dari hasil penyulingan getah Pinus merkusii rata-rata dihasilkan 64% gondorukem, 22,5% terpentin, dan 12,5% kotoran.
      Saluran getah resin bukan merupakan bagian dari kayu, tetapi berupa rongga yang dikelilingi oleh sel-sel parenkimatis atau sel epitel. Seluruh lapisan yang mengelilingi saluran resin disebut epitellium. Ada beberapa cara dalam pembentukan saluran getah, diantaranya yaitu :
a. Lysegeneous
Yaitu beberapa sel parenkim yang berdekatan hancur sehingga isinya tercampur, maka terbentuk rongga yang kemudian terisi cairan. Rongga ini dibtasi oleh sel-sel yang tidak hancur, dimana sel-sel yang tidak hancur ini dapat menjadi sel epitel. Proses semacam ini disebut gummosis.
b. Schizogeneous
      Yaitu beberapa sel parenkim memisahkan diri melalui lamella tengah sehingga terjadi suatu saluran yang dikelilingi oleh belahan sel-sel parenkim yang menjadi sel epitel. Sedangkan produksi getah pinus secara keseluruhan dipengaruhi oleh :
  1. Luas areal sadapan.
  2. Kerapatan (jumlah pohon per Ha).
  3. Jumlah koakan tiap pohon dan jangka waktu pelukaan.
  4. Sifat individu pohon.
  5. Keterampilan tenaga kerja penyadap.
      Prinsip keluarnya getah dari luka adalah sebagai berikut : saluran getah pada semua sisi dikelilingi oleh jaringan parenkim diantara saluran getah dan sel-sel parenkim terdapat keseimbangan osmotik. Jika dibuat luka pada batang pinus sehingga saluran getahnya terbuka, maka tekanan dinding berkurang akibatnya getah keluar.

2.3   Metode produksi dan manfaat ekonomi dari pohon pinus  (Pinus mercusii)
Getah pinus berada pada batang dimana didalam saluran getah yang arahnya vertical ( longitudinal ) maupun horizontal ( radial ). Saluran getah ini terbentuk secara lisigen, sizogen, maupun sizoligen. Beberapa ketentuan pohon pinus yang akan disadap :
a. Diameter limit cupping, diameter pohon pinus yang akan dsadap adalah diatas    
          15cm.
b. Selective cupping, pohon-pohon yang akan disadap adalah pohon yang waktu
           mendatang dijarangi atau ditebang yaitu sejak umur 10 tahun samapai pada  
           daur tebangan atau umur penjarangan. Biasanya dilakukan pada perusahan   
           pengelolaan pinus yang menggunakan pinus untuk berbagai kegunaan.
Beberapa cara teknik penyadapan :
· Bentuk koakan Teknik ini dilakukan dengan cara mengerok kulot batang lebih dulu, kemudian kayunya dilukai sedalam 1-2 cm, sedang lebarnya 10 cm. Pelukaan dengan cara ini membentuk huruf U terbalik dengan jarak dari permukaan tanah sekitar 15-20 cm. Pelukaan yang baru diatas luka lama dengan tebal jarak 5 mm.
· Bentuk V Teknik ini hamper sama dengan teknik diatas tetapi berbebtuk huruf V. dapat juga dimodifikasi menjadi V ganda atau seri arah keatas ( rill) yang bentuknya seperti sirip ikan.
· Goresan atau guratana ; Cara ini pada penyadapan pinus jarang dilakukan, umumnya dilakukan pada agathis ( kopal ). Hal ini mengimgat kulit pinus yang tebal. Goresan dilakukan dengan kemiringan 45° atau melingkar.
· Dengan bor; Dengan syarat diameter 3 cm, 3-12 cm keatas atau kedalam.
  Dari keempat teknik tersebut yang paling efektif atau paling banyak menghasilkan getah pinus adlah dengan menggunakan metode koakan, kemuidian teknik bentuk V dan teknik bor.
Berikut ini urutan penyadapan untuk koakan pada pinus :
· Mula-mula kulit batang pada tempat yang akan dibuat pelukaan dibersihkan selebar 10-12 cm kearah atas dimulai dari bawah.
· Kualitas Getah Pinus; Kualitas getah pinus sadapan dibedakan atas dua kelas yaitu :
1. Mutu A
a)  Berwarna putih bening
b) Tidak ada campuran tanah/lumpur dan kotoran lain (kandungan kotoran kurang   
           dari 2%)
c) Kadar air kurang dari 3 %
2. Mutu B
a) Berwarna keruh –coklat
b) Ada campuran tanah dan lumpur (kandungan kotoran 2-5%)
c) Kadar air lebih dari 3%
Produk getah yang tidak memenuhi ketentuan kelas kualitas tersebut diatas ditolak untuk diterima.
Warga Pasaman, Sumatera Barat, mulai melirik potensi usaha  lainnya untuk meningkatkan perekonomian mereka. Yaitu, aktivitas penyadapan getah pohon pinus sebagai salah satu potensi usaha menjanjikan dari sekian potensi lainnya. Meskipun belum terlihat, namun penyadapan getah pinus di daerah ini mulai tampak menjanjikan. Hal itu karena dinilai mampu menjadi salah satu alternatif peningkatan sumber pendapatan bagi warga. Menurut Afitin, saat ini potensi getah pohon pinus di kawasan hutan konversi Kabupaten Pasaman mencapai 30 ton tiap bulannya dari 240 hektare lahan tanaman pinus di daerah itu. Harga getah pinus saat ini mencapai Rp75 ribu per kilogramnya. Rata-rata per orang mampu mengeluarkan getah pinus sebanyak 30 kilogram. saat ini Perhutani memegang rekor terbesar sebagai produsen Gumrosin dan getah pinus di Asia Tenggara. Meski sebagai produsen terbesar, ke depan kompetisi makin kuat.  
Produk gondorukem memiliki prospek yang cukup bagus. Tetapi, ia mengakui krisis ekonomi yang terjadi di Eropa saat ini membuat pasar gondorukem fluktuatif dan kurang kondusif untuk perdagangan. Adapun, produksi gondorukem tiap tahunnya mencapai 55.000 ton.
Dari keseluruhan produk gondorukem milik Perhutani, hanya 20% yang diserap pasar lokal, sedangkan 80% untuk ekspor. Perhutani memiliki pasar ekspor Asia dan Eropa. Untuk Asia, pasar ekspor terbesar adalah Jepang dan India. Sedangkan untuk Eropa, produk gondorukem Perhutani terbesar adalah Jerman.














KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpilan
1.      Manfaat hasil pengolahan getah pinus, gondorekum bermanfaat untuk indusrtri batik, kertas dan sabun sedangkan untuk terpentin digunakan sebagai pelarut untuk mengencerkan cat minyak, pelarut resin, bahan semir sepatu, bahan kamfer sintetis bahan campuran vernis yang biasa kita gunakan untuk mengkilapkan permukaan kayu dan bisa untuk bahan baku kimia lainnya
2.      Pembentukan saluran getah terdiri dari dua cara yaitu lysegenius dan Schizogeneous
3.      Faktor dalam memproduksi getah pinus yaitu faktor internal pohon, faktor eksternal pohon dan faktor perlakuan manusia.
  1. Peningkatan produktivitas getah pinus dapat dilakukan stimulansia dan perlu adanya peningkatan tenaga kerja penyadap.
  2. Sistem penyadapan getah pinus terdiri dari metode Rill dan metode kuare.
Saran
            Pohon pinus menghasilkan getah yang memiliki manfaat yang cukup penting bagi kehidupan manusia maka dari itu hutan khususnya pohon pinus patut untuk dijaga, dilindungi serta pelestarian ekosistemnya.











DAFTAR PUSTAKA
Achrom, M. 2004. Keanekaragaman Arthropoda pada Ekosistem Hutan Pinus dan      
            Hutan Eucalyptusdi AEK Nauli Simalungun. Jurnal Program Pasca
            sarjanaUniversitas Sumatera Utara.
Agustina Dwi K, 2010. Vegetasi Pohon di Hutan Lindung (Seri Mahasiswa). Penerbit          
            UIN-Maliki Press. Malang. Hal. 32-33, 36.
Soedjono, S. 1992. Manfaat Ekonomi dan Sosial Penyadapan Getah Pinus. Bagian
            Perusahaan Kehutanan Negara. Duta Rimba, 18 (3): 149—150.
Suharlan, A, D. Herbagung, M.M. Riyadi. 1980. Hubungan Antara Produksi Getah
            Pinus Merkusii denga Luas Bidang Dasar, Tinggi Pohon, dan Jarak Tumbuh
            Relatif Antar Pohon. Laporan Penelitian Hutan. Bogor.
Tirtakusuma, R. 1978. Suatu Tinjauan dan Pendapatan Tentang Penyadapan Pinus  
            Merkusii Jung et de Vriese. Perum Perhutani Jember.

27 komentar:

  1. IP Man atau Ip Kai Man lahir di foshan China,1 Oktober 1893 dan meninggal di umur 79 tahun di Hongkong 2 Desember 1972. IP man atau guru Ip adalah praktisi ilmu beladiri China pertama yang mengajarkan WING CHUN secara terbuka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin anda dapat mempublikasikan wing chun lebih khalayak ramai lagi agar wing chun merambah dikalangan kita

      Hapus
  2. Ilmu yg sangat bagus, cocok ni untuk pata konsultan" Pohon pinus. Entar saya rekomen PT saya

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Makasih yaa jo udaa ngajari bnyak hal hari ini

    BalasHapus
  5. klo di sumut sendiri, pohon pinus banyak tumbuh di daerah mana?

    BalasHapus
  6. Karna saya membaca ini, tiba" saya merasa semakin pandai hmm

    BalasHapus
  7. Terimakasih telah meluangkan waktunya

    BalasHapus

Jhonson Simamora 181201150

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan, Maret     202 0 POHON DAMAR ( Aghati...