Minggu, 29 Maret 2020

Rizmita Kinanti Miranda 181201057


Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                  Medan, Maret   2020
MANFAAT EKONOMI KENARI SEBAGAI TANAMAN
PENGHASIL MINYAK
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:
Rizmita Kinanti Miranda
181201057
HUT 4D





Logo Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) « Coretan ...










PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun tugas ini dengan tepat waktu. Adapun tulisan yang berjudul “ Manfaat Ekonomi Kenari Sebagai Tanaman Penghasil Minyak” ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih penulis ucapkan kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutanyaitu Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan penyempurnaan tugas ini.Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, semoga  ini bermanfaat bagi kita semua.
                                                                                       


Medan,  Maret 2020

            Penulis










DAFTAR ISI
                                                                                      Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................2
1.3 Tujuan ................................................................................................... 2
ISI
2.1 Kenari .................................................................................................... 3
2.2 Komposisi Kimia dan Komponen Bioaktif Kenari................................ 3
2.3 Metode Ekstraksi Kenari....................................................................... 4
2.4 Pemanfaatan Kenari............................................................................... 5
PENUTUP
Kesimpulan ................................................................................................. 6
Saran ........................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA














BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Letak geografis yang strategis menunjukkan betapa kaya Indonesia akan sumber daya alam dengan segala flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Berdasarkan usia tanaman, perkebunan di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu tanaman semusim (tebu, tembakau, kapas, jarak, sereh wangi, nilam dan rami) dan tanaman tahunan (karet, kelapa, kopi, kelapa sawit, cengkeh, pala, kayu manis, panili, kemiri, kenari, pinang, asam jawa, siwalan, nipah, kelapa deres, aren dan sagu). Salah satu tanaman yang cukup banyak dijumpai di Indonesia adalah kenari. Kenari merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak tumbuh di daerah Indonesia bagian timur. Kenari merupakan tanaman tropik yang tergolong dalam famili Burseraceae, genus Canarium, dan memiliki sekitar 100 spesies yang kebanyakan tumbuh di hutan lembab dataran rendah di daerah Melanesia. Pada masyarakat Indonesia pemanfaatan biji kenari belum maksimal, biji kenari hanya dimanfaatkan untuk membuat membuat kue dan dijadikan cemilan. Biji kenari (Canarium indicum L.), senyawa kimia yang dikandung oleh biji kenari ialah tekoferol, flavonoin, tanin, senyawa filik termasuk asam folik. Selain itu biji kenari juga mengandung senyawa squalene yang berfungsi utuk menjaga kelembaban kulit, penghalus kulit dan juga pelindung pengaruh radiasi (Koda dan Syafah, 2017).
Komposisi lemak dalam makanan diperlukan sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan asam lemak esensial yang tidak dapat disintesis dalam tubuh manusia. Sumber asam lemak esensial dapat diperoleh dari minyak nabati misalnya dari minyak kenari. Asam lemak esensial seperti asam linoleat (omega 6) dan asam linolenat (omega 3) adalah kelompok asam lemak yang tidak dapat disintesis dalam tubuh manusia, hanya dapat diperoleh dari tumbuhan dan salah satunya adalah yang berasal dari biji kenari. Beberapa hasil penelitian telah membuktikan bahwa asam lemak memiliki peranan penting terhadap fungsi fisiologi dan biologi pada manusia. Asam lemak terutama kelompok asam lemak tidak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids, PUFA) berperan sebagai modulator signaling sel dan metabolisme dengan berbagai lintas biokimia (Rahman et al, 2014).
Berdasarkan komposisi minyak dalam biji kenari, tanaman kenari dikelompokkan sebagai tree nuts dan dapat disebandingkan dengan kelompok tree nuts lain yang juga memiliki komposisi minyak cukup besar dalam bijinya, antara lain almond, cashew, hazelnuts, macadamia dan lain-lain. Asam lemak dalam trigliserida minyak dari berbagai spesies kenari juga telah dilaporkan. Pada umumnya semua spesies kenari mengandung beberapa jenis asam lemak dan asam oleat sebagai asam lemak yang terbanyak dalam kenari yaitu berkisar 40-70%. Asam oleat menunjukkan  sifat yang netral terhadap lipid plasma sehingga banyak digunakan dalam formulasi produk pangan dan memiliki aktivitas menurunkan level kolesterol plasma. Asam oleat yang banyak terdapat dalam minyak zaitun diindikasikan dapat mencegah penyakit kardiovaskular. Komposisi minyak yang cukup besar dalam biji kenari sehingga kenari berpeluang sebagai sumber minyak pangan (edible oil). Bagian dari biji kenari yang disebut kernel atau pulp juga dapat dikonsumsi langsung sebagai pangan camilan oleh masyarakat lokal penghasil kenari, antara lain di kawasan timur Indonesia (Rahman et al, 2019).

1.2. Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut :
1.      Apa saja komposisi kimia dan komponen bioaktif spesies kenari?
2.      Apa saja metode ekstraksi minyak kenari?
3.      Apa saja pemanfaatan kenari?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui komposisi kimia dan komponen bioaktif spesies kenari
2.      Untuk mengetahui metode ekstraksi minyak kenari
3.      Untuk mengetahui pemanfaatan kenari


BAB II
ISI
 2.1. Kenari
KACANG KENARI TERNATE | Shopee Indonesia    
Kenari merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak tumbuh di daerah Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi Utara, Maluku, dan Pulau Seram. Kenari merupakan tanaman tropik yang tergolong dalam famili Burseraceae, genus Canarium, dan memiliki sekitar 100 spesies yang kebanyakan tumbuh di hutan lembab dataran rendah di daerah Melanesia, spesies yang terdapat di Indonesia antara lain, Canarium lamili (Irian Jaya), Canarium vulgare (Sangihe Talaud, Sulawesi, Seram, Morotai, Tanimbar, dan Flores), Canarium indicum (Sulawesi utara, Ambaon, Ternate, Seram, dan Kai). Dari sebaran distribusi dan nilai komersial dari tiga spesies tersebut diatas yang paling berpotensi adalah Canarium indicum dan Canarium vulgare. Kenari ini dikenal juga dengan nama C. amboinense Hochr., C. commune L., C. Mehenbethene Gaertn., C. moluccanum Blume, dan C. zephyrinum Rumphius.      
Buah kenari berbentuk lonjong (ovoid) sampai agak bulat, dengan dimensi morfologi 2-4 x 4-6 cm, dan pada umumnya berwarna hijau pada saat masih mentah, berubah menjadi hijau tua agak kegelapan sampai kehitaman. Buah kenari terdiri dari bagian kulit luar (exocarp), daging buah (mesocarp), dan bagian tempurung dan isinya (endocarp). Bagian endocarp, sering disebut sebagai nut-in-shell (NIS), terdiri dari tempurung dan biji yang dibungkus oleh kulit ari (testa). Biji yang dipisahkan dari testa adalah bagian yang dapat dimakan (edible portion).

2.2. Komposisi Kimia dan Komponen Bioaktif Kenari
Komposisi kimia dan komponen bioaktif pada spesies kenari yang dilaporkan adalah kelompok asam lemak (asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, asam palmitoleat, asam palmitat, asam stearat, dan asam arachidat), dari kelompok asam amino (arginin, glutamin, asam aspartat, metionin, lisin), golongan sterol (stigmasterol dan kampesterol), triterpenoid, kelompok mineral (kalsium, natrium, kalium, magnesium, zinc, dan besi), senyawa antioksidan dari golongan fenolik (asam galat, asam elagat, brevifolin), flavonoid, tannin, dan senyawa oligosakarida. Komposisi asam amino terbesar dalam biji kenari adalah asam glutamat, lisin, asam aspartat dan arginin. Adanya asam glutamat yang banyak memberikan rasa gurih dari biji kenari.

2.3. Metode Ekstraksi Kenari
Buah kenari segar dikupas untuk memperoleh nutin-shel (NIS). NIS dipecah tempurungnya (shell) sehingga diperoleh kernel atau biji kenari. Biji kenari dikeringkan dengan menggunakan alat pengering kabinet pada suhu 60 ºC selama 10 jam. Selanjutnya biji kenari kering diesktrak minyaknya dengan beberapa metode, yaitu:
Ekstraksi minyak kenari dengan metode pengepresan
Biji kenari dikupas kulit arinya (testa) dan dibersihkan dari bahan ikutan lain. Sebanyak 500 g biji kenari bersih dipanaskan menggunakan oven pada suhu 70 °C selama satu jam. Dalam keadaan panas, biji kenari dibungkus dengan kain saring dan dimasukkan dalam rumah pres yang berbentuk tabung silinder pada alat pengepres. Selanjutnya biji kenari dipres menggunakan kempa hidrolik secara bertahap, hingga mencapai tekanan 200 kg/cm², dan dipertahankan selama 5 menit. Minyak yang diperoleh disaring menggunakan kain saring lalu dimasukkan dalam wadah berwarna gelap.
Ekstraksi minyak kenari dengan metode soxhlet
Biji kenari dikupas kulit arinya (testa) dan dibersihkan dari bahan ikutan lain. Biji kenari dihaluskan dengan menggunakan grinder, hingga berbentuk pasta (homogenat). Sebanyak 25 g pasta biji kenari ditimbang dan dimasukkan dalam wadah sampel (timble). Timble yang berisi sampel dimasukkan dalam tabung soxhlet. Labu soxhlet diisi dengan pelarut heksan sebanyak 250 mL. Unit soxhlet dilengkapi dengan pendingin balik, selanjutnya dilakukan pemanasan pada suhu 70-80 °C selama 5 jam. Minyak dipisahkan dari pelarut menggunakan rotary evaporator dengan suhu 40 °C. Minyak yang diperoleh dialiri gas N2 untuk menghilangkan sisa pelarut kemudian dimasukkan dalam wadah berwarna gelap.
Ekstraksi minyak kenari dengan metode maserasi
Biji kenari dikupas kulit arinya (testa) dan dibersihkan dari bahan ikutan lain. Biji kenari sebanyak 100 g dihaluskan dengan menggunakan grinder. Biji kenari yang digiling halus berbentuk pasta. Selanjutnya pasta biji kenari dimasukkan dalam labu Erlenmeyer dan ditambahkan pelarut heksan 1: 5 (b/v). Campuran diaduk hingga homogen kemudian dimaserasi selama 24 jam pada suhu kamar (suhu 28 – 30°C). Setelah 24 jam, larutan disaring dengan menggunakan kertas saring Whatman No. 1. Minyak dan pelarut dipisahkan menggunakan rotary evaporator dengan suhu 40 °C. Minyak yang diperoleh dialiri gas N2 untuk menghilangkan sisa pelarut kemudian dimasukkan dalam wadah berwarna gelap.

2.4. Pemanfaatan Kenari

Secara etnofarmakologis pemanfaatan spesies kenari yang dilaporkan adalah memiliki aktivitas sebagai antimikroba, mengatur kadar glukosa darah, sebagai antiaterosklerosis, memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi, memiliki aktivitas antioksidan  dan sebagai hepatoprotektif. Biji kenari dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pembuatan kue dan dikonsumsi sebagai camilan. Dalam hal ini, biji kenari dikonsumsi sebagai camilan diolah dengan cara penyangraian atau penggorengan, kemudian dicampur dengan gula aren. Perkembangan lebih lanjut dalam bidang pangan, biji kenari dimanfaatkan sebagai bahan pelengkap dalam proses pembuatan roti, ice cream, salad, pudding, topping for cake, clapert tart, dan lain-lain. Data produksi biji kenari masih sulit dijumpai karena tanaman ini merupakan produk samping sektor kehutanan. Namun demikian sebagai gambaran, satu hektar lahan dapat ditumbuhi kurang lebih 90 pohon kenari dan setiap pohon, mampu menghasilkan 50 kg biji kenari. Dengan demikian, dalam satu hektar, tanaman kenari dapat menghasilkan sekitar 4,5 ton biji kenari per tahun.




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Komposisi kimia dan komponen bioaktif kenari ialah asam lemak, asam amino, sterol, triterpenoid, kelompok mineral, senyawa antioksidan, flavonoid, tannin, dan senyawa oligosakarida.                                                  
2.      Metode ekstraksi pada kenari ialah metode pengepresan, metode soxhlet dan metode maserasi.
3.      Pemanfaatan kenari yang ditemui ialah sebagai obat-obatan dan sebagai bahan tambahan pembuatan kue dan sebagai camilan

Saran
            Diharapkan semoga pemanfaatan tanaman penghasil minyak dan lemak seperti kenari dapat lebih dikembangkan untuk kebutuhan sektor industri dalam rangka membantu perekonomian masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA
Djakasi, G, S, S., dkk. 2007. Sifat Fisik dan Kimia  Minyak kenari. Agritech. 27(4)

Koda, A, S, K dan Syafah, L. 2017. Aktivitas dan Asepbilitas Krim Minyak Kenari dan Minyak Kenari Sebagai Pelembab Wajah.

Limbono, Sylvia. 2013. Daya Antioksidan Estrak Etanol Biji Kenari (Canarium indicum L.) dengan Metode DPPH. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. 2(2)

Rahman, Hamidah., dkk. 2019. Kajian Komposisi Kimia, Nilai Nutrisi, dan Etnofarmakologis Tanaman Genus Kenari. Jurnal Fitofarmaka Indonesia. 6(1)

Rahman, Hamidah., dkk. 2014. Karakteristik Minyak Kenari untuk Aplikasi Pangan. PROSIDING Universitas Sebelas Maret.

8 komentar:

Jhonson Simamora 181201150

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan, Maret     202 0 POHON DAMAR ( Aghati...