Senin, 30 Maret 2020

Sonia Frisca Stefanny Sibero 181201048


Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                                Medan,    Maret 2020
PEMANFAATAN EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN KUTU LAK (Laccifer Lacca Kerr) OLEH MASYARAKAT
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Sonia Frisca Stefanny Sibero
181201048
HUT 4D
















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan
paper Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Pemanfaatan Ekonomi Sumberdaya Hutan Kutu Lak (Laccifer lacca Kerr) Oleh Masyarakat” ini dengan baik dan tepat waktu. Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan. Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan bapak Dr. Agus Purwoko S.Hut., M.Si. yang telah mengajarkan materi dengan baik.
Penulis sadar bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Oleh sebab itu, penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan paper mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan,ini. Akhir kata semoga paper  Ekonomi Sumberdaya Hutan ini bermanfaat bagi kita semua.

                                                                                    Medan,   Maret 2020

                                                                                                   Penulis







DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Tujuan......................................................................................................... 2
BAB II ISI
2.1 Kutu Lak dan Jenis Tumbuhan Inangnya................................................... 3
2.2 Hasil dari Lak............................................................................................. 4
       2.3 Cara Budidayakan Lak............................................................................... 5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hasil yang diperoleh dari hutan produksi dibedakan menjadi dua yaitu hasil berupa kayu dan bukan kayu .hasil hutan bukan kayu (HHBK) yaitu antara lain berupa getah/damar, minyak, madu dan lak. Lak merupakan salah satu produk non kayu Perum Perhutani yang memiliki nilai tersendiri, karena merupakan produk langka. Perum Perhutani merupakan satu–satunya yang  membudidayakan lak di Indonesia, di KPH Probolinggo.
Lak termasuk dalam kelompok resin yang diperoleh dari hasil sekresi insekta Laccifer lacca Kerr (kutu Lak) yang hidup pada tanaman inangnya. Hasil sekresi tersebut mengelilingi tubuh kutu lak yang kemudian mengeras dan berfungsi sebagai pelindung dari ancaman musuh alami dan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi kehidupan kutu lak.  Tanaman inang kutu lak adalah tanaman Kesambi (Schleicera oleosa Merr.), Ploso (Butea monosperma Taub.), Jamuju (Dacrycarpus imbricatus), Widoro/Kaliandra (Zizyphus jujube Lam), Acacia villosa Willd. Di Indonesia, tanaman kesambi merupakan tanaman yang diprioritaskan untuk digunakan sebagai tanaman inang dalam budidaya kutu lak.
Lak merupakan komoditi yang belum dikenal masyarakat, karena konsumennya terbatas, namun manfaatnya beragam maka masih terbuka peluang untuk mengembangkannya. Penggunaan lak di Indonesia semula hanya untuk pembuatan pelitur bagi finishing mebel agar terlihat mengkilat. Namun setelahada kemajuan teknologi pengelolaan lak, kini lak dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri : isolasi listrik, piringan hitam, tinta cetak, perekat untuk ampelas, semir sepatu, pengeras topi, penyamak kulit, pewarna makanan, kulit kapsul, bahan kosmetik dan sebagainya. Konsumen pun tidak hanya di dalam negri tetapi juga dari luar negri.
Penggunaan lak yang luas, terutama disebabkan oleh beberapa sifat fisik yang menguntungkan. Pemanfaatannya sebagai bahan pelapis pangan berkaitan erat dengan sifat–sifat seperti mampu membentuk lapisan tipis (film), tidak mudah tembus oleh air/uap air, tidak lengket, mengkilap tidak mudah bereaksi dengan bahan lain ataupun teroksidasi. Lak kasar  umumnya memiliki komposisi berupa resin (68%), zat warna (10%), lilin (6%), dan zat lain (4%). Resin, lilin dan berupa zat warna merupakan bagian yang terkait satu sama lain. Pada shellac terdapat bagian jenis asam hidroksi alifatik dan estemya dengan panjang  rantai karbon antara 13–15. Beberapa asam dimaksud diantaranya adalah shelloic acid, jalaric dan laksholid acid.
Tingginya permintaan pasar menjadikan budidaya kutu lak memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Tulisan ini memberikan informasi mengenai peluang investasi usaha budidaya kutu lak. Hal ini dimaksudkan agar dapat dijadikan motivasi untuk lebih mengembangkan budidaya kutu lak di Indonesia, sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. Cara budidaya kutu lak dibutuhkan ketelatenan dan skill yang memadai, sehinggapertumbuhannya menjadi maksimal serta tidak terserang oleh insekta lain sebagai predator. Salah satu cara budidaya kutu lak adalah dengan pengasapan yang ada di bawahnya.  Pengasapan lak dilakukan guna untuk menciptakan suhu dan kelembaban yang optimum bagi kehidupan larva lak sekaligus untuk mengusir parasit atau predator yang ada pada lokasi tularan.
Selain tanaman inang, maka pengendalian hama dan penyakit sangat berperan penting untuk kualitas lak. Pengendalian hama dan penyakit yaitu menggunakan pengasapan saat kutu lak. Pengasapan yaitu guna untuk menciptakan suhu yang optimum 24 – 280C bagi kehidupan larva lak dilaksanakan pengasapan sekaligus untuk mengusir parasit dan predator yang ada pada lokasi tularan (Pakan 2007).

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa itu kutu lak dan jenis tumbuhan inangnya ?
2.      Apa yang dihasilkan dari kutu lak ?
3.      Bagaimana cara membudidayakan kutu lak ?

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa kutu lak dan jenis tumbuhan inangnya.
2.      Untuk mengetahui hasil dari kutu lak.
3.       Untuk mengetahui cara membudidayakan kutu lak.
BAB II
ISI
2.1 Kutu lak dan Jenis Tanaman Inangnya
Kutu lak tidak dapat hidup pada manusia atau hewan tetapi hidup menumpang pada tanaman inangnya. Namun tidak semua tanaman dia senangi. Kutu ini hanya setia pada kekasihya yang hanya satu-satunya pohon yang paling cocok dijadikan tempat hidupnya. Tanaman itu ada disekitar kita, namun sudah mulai langkah. Tanaman itu kita kenal dengan nama ”Kesambi” dengan nama latin (Schleichera oleosa, Merr), termasuk salah satu tumbuhan hutan yang beradopsi lokal, bermanfaat serbaguna (multi purpose) dan bernilai ekonomis dan sangat potensial. Kesambi dengan nama latin Schlechera Oleosa Merr, termasuk keluarga tanaman Sapindaceae. Kesambi tergolong pohon yang tingginya dapat mencapai 15 hingga 40 m dengan diameter batang antara 60-175 cm. Di Indonesia ditemukan 2 (dua) jenis kesambi, yaitu kesambi kerikil dan kesambi kebo/kerbau. Ciri khas perbedaannya terletak pada daun dan kulit batang. Jenis kerikil mempunyai daun yang lebih kecil dan memanjang. Bentuk percabangan liar, dan kulitnya tipis dibandingkan dengan jenis kebo. Sedangkan kesambi jenis kerbau memiliki daun yang melebar pada ujungnya dan kulit kayu yang lebih tebal. Bentuk percabangan teratur dan tegak lurus ke atas. Tumbuhan ini tersebar di seluruh Asia Tenggara dan di Indonesia dapat ditemukan pada ketinggian nol s.d. 1200 m dari permukaan laut. Salah satu indikator pertumbuhan kesambi adalah jati. Pada wilayah yang ditumbuhi jati secara liar biasanya diikuti pula pertumbuhan kesambi. Artinya dimana ada jati yang tumbuh liar biasanya tanaman kesambi juga dapat tumbuh baik. Kayu kesambi mempunyai struktur padat, rapat, kusut sangat keras dan lebih berat dari kayu besi. Karena itu apabila dapat mencapai umur yang lebih matang, kayunya berubah warna dari warna merah muda menjadi warna kelabu dan tidak berurat. Oleh karena itu dahulu lebih banyak digunakan sebagai bahan pembuatan jangkar untuk perahu kecil. Namun demikian salah satu kelamahan dari kayu kesambi adalah tergolong kurang awet , tetapi sangat unggul sebagai kayu bakar dan pembuatan arang. Arang dari kayu kesambi sangat cocok untuk pembakaran dan bahkan lebih baik dari pada arang kayu jati dan kayu asam. Oleh karena itu, penanaman kesambi untuk produksi kayu bakar perlu dikembangkan terutama pada daerah pengembangan industri pembakaran dan wilayah yang sulit bahan bakar untuk rumah tangga. Kulit kayu kesambi dapat digunakan sebagai penyamak kulit. Menurut hasil penelitian, dalam analisis kimia kulit kesambi ditemukan 6,1-14,3 % zat penyamak.


































Gambar 1. Pohon Kesambi       




                 

2.2 Hasil dari Lak
Dalam kehidupan sehari-sehari, banyak jenis serangga berguna yang belum dimanfaatkan secara optimal bagi kalangan masyarakat, pada umumnya masyarakat yang hidup didalam kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan. Mereka beranggapan bahwa bahwa hanya sedikit serangga yang memiliki nilai ekonomis yang tnggi, pada hal kalau kita mempelajari seluk beluk serangga itu sendiri maka kita bisa mengetahui kegunaan dan fungsi dari serangga itu sendiri. Seperti kutu Lak adalah suatu serangga yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika kita bisa mengolahnya dengan baik dan optimal. Jika kita dapat budidaya serangga ini yang baik guna untuk memperoleh hasil yang optimal maka dapat memberi keuntungan bagi kita. salah satu jenis produk yang dihasilkan dalam budidaya. Kutu Lak adalah bahan baku/bahan pembantu industri pembuatan politur kayu, isolasi, alat-alat listrik, piringan hitam, tinta cetak, ampelas dan semir sepatu dan masih banyak yang lain. Jika kita bisa budidayakan dengan baik, jenis serangga ini dapat memberi kontribusi yang berarti untuk kehidupan kita semua, namun khususnya dinegara kita masih banyak serangga yang belum dimanfaatkan secara baik oleh kalangan masyarakat seperti jenis kutu Lak.







     Gambar 3. Hasil lak
2.3 Cara Budidaya Lak
            Dalam garis besarnya teknik kultur kutu Lak dapat dibedakan 6 (enam) tingkat pekerjaan :
1.      Persiapan tularan,yaitu mempersiapkan tanaman yang memenuhi syarat-syarat hidup kutu Lak, berupa areal tanaman yang mempunyai umur ranting yang muda. Areal dibersihkan tumbuhan bawanhya dan ranting-ranting pohon yang kecil-kecil dan mati dipotong.
2.      Penularan bibit Lak, yang mengikatkan bibit Lak keranting pohon inang yang sudah disiapkan. Dalam kegiatan ini perlu ditaksir ketepatan jumlah bibit yang diperlukan setiap pohon. Pemberian bibit yang terlalu banyak akan menghasilkan Lak kecil-kecil dan tipis, sebaliknya bila kurang seluruhnya ranting dapat menghasilkan Lak, berarti pohon inangnya mubazir.
3.      Pemeliharaan tularan, yaitu memilihara tularan dari gangguan hama dan penyakit dengan jalan pengasapan dan babat tumbuh.
4.      Pungutan bekas bibit, yaitu memungut kembali bibit yang telah dikosongkan kutunya untuk dikrim ke pabrik. Berat Lak yang kita peroleh akan susut sebanyak 60% dari jumlah bibit saat ditularkan. Ini disebabkan disamping sudah kosong ditinggalkan larva kutu Lak, juga sudah agak mengering.
5.      Pemanenan, yaitu memotong Lak yang sudah tua dengan cara memangkas cabang-cabang tanaman inang. Dalam hal ini Lak cabang, kita potong-potong sepanjang 20 cm.
6.      Seleksi yaitu memilih hasil panenen untuk dikualifikasikan menjadi kualitas bibit yang baik. Yang dapat dijadikan bibit dimasukan kedalam kantong kain dan kroso (keranjang kecil daei bambu) untuk dikirim kembali kehutan, ditularkan pada areal yang sudah disiapkan.
• Faktor-faktor yang mempengaruhi kultur Lak :
1.      Untuk kehidupan kutu Lak memrlukan suhu yan cukup tinggi, dalam suhu dibawah 220C pertumbuhan lambat, bahkan suhu dibawah 170C telur yang dihasilakan tidak bisa menetes.
2.      Cahaya matahari penuh, tularan yang kurang mendapat sinar matahari banyak diserang parasit sehingga menghasilkan Lak yang kualitas rendah.
3.      Angin. Didaerah yang kurang mendapat angin “embun madu” yang dikeluarkan kutu lak tidak dapat jatuh ketanah. Embun madu beserta debu dapat menggumpal menutup lubang pernapasan kutu Lak.
4.      Hujan. Hujan dapat mengakibatkan larva yang keluar dari sel induknya terbawa oleh air hujan. Hujan yang terus menerus dapat mematikan larva yang baru menetes. Didaerah yang curah hujannya tinggi, kerak Lak banyak ditumbuhi jamur yang dapat menutupi lubang pernapasan.
• Faktor Hayati
Faktor ini juga disebut faktor hama dan penyakit, yang merupakan musuh utama kutu lak. Tidak jarang faktor ini menjadi gagalnya kultur kutu Lak. Untuk mengatasinya dengan cara masukkan bibit lak kedalam kantong kain sebelum ditularkan. Dengan demikian serat tekur menetes menjadi larva, kutu Lak dapat keluar, sedangkan hama penyakitnya tertinggal dalam kanotng kain dan mati.
· Peningkatan Produksi dan kualitas
1.      Blok-blok tularan
Dalam usaha menstabilkan Produk Lak cabang setiap tahunnya tiap RPH, dibagi disesuaikan dengan musim, topografi dan kemiringan lahan (intensitas penerimaan sinar matahari). Dengan demikian tiap blok, tiap saat mempunyai kondisi yang cocok dengna kehidupan kutu Lak. Tiap blok tularan ditetapkan satu semester (emam bulan) sehingga tiap tahun masing-masing RPH hanya menulari dua blok saja. Dengan pembagian blok ini ternyata di bidang perencanaan produksi sangat menguntungkan karena prasarana dan lain-lain lebih mudah dihitung.
2.      Sistem “tularan pas”
Dahulu saat ditetapkan sistem tularan pindahan, kualitas tularan sangat jelek dan sukar dikendalikan. Para pekerja menularkan bibit tidak mendasarkan kemampuan pohon penampung bibit, sehingga penularan bibit sebanyak-banyaknya supaya pendapatan tinggi. Akibatnya kualitas tularan sangat jelek, Laknya tipis-tipis, bahkan tak jarang tularan pada musim kemarau mati berikut tanaman inangnya. Penyimpanan Lak Cabang Pada saat produksi Lak cabang jumlahnya sedikit dan selalu habis diproses, pemasaran laris, tidak ada masalah. Namun akhir-akhir ini dengan banyaknya produksi Lak cabang, ditambah lesunya pemasaran timbul masalah yang harus segera dipecahkan. Bila Lak cabang diproses menjadi Lak butiran (sedlak) ternyata hasilnya tidak segera laku sehingga harus mengeluarkan ekstra tenaga untuk perawatan. Tampa perawatan yang baik, kualitas akan turun, warna menjadi hitam bahkan dapat menggumpalkan.















BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
1.      Lak termasuk dalam kelompok resin yang diperoleh dari hasil sekresi insekta Laccifer lacca Kerr (kutu Lak) yang hidup pada tanaman inangnya.
2.      Tanaman inang kutu lak adalah tanaman Kesambi (Schleicera oleosa Merr.), Ploso (Butea monosperma Taub.), Jamuju (Dacrycarpus imbricatus), Widoro/Kaliandra (Zizyphus jujube Lam), Acacia villosa Willd.
3.      Kutu Lak adalah bahan baku/bahan pembantu industri pembuatan politur kayu, isolasi, alat-alat listrik, piringan hitam, tinta cetak, ampelas dan semir sepatu dan masih banyak yang lain.
4.      Teknik kultur kutu lak dibedakan menjadi persiapan tularan, penularan bibit Lak, pemeliharaan tularan, pungutan bekas bibit, pemanenan, seleksi.
5.      Cara produksi kutu lak yaitu blok-blok tularan dan system “tularan pas”.














DAFTAR PUSTAKA
Adjidarma. 1990. Pengusahaan Lak Perhutani di Banyukert. Majalah Duta Rimba, XVI (125-126). Perum Perhutani. Jakarta.

Radijanto S. 2008. Model untuk Penaksiran Lak pada tanaman Inang Schleichera eleosa Merr. Majalah Duta Rimba, V (31). Perum Perhutani. Jakarta.

Setyodarmodjo S. 1983. Perusahaan Lak dan Pengembangannya. Majalah Duta Rimba, IX (67-68). Perum Perhutani. Jakarta.

Wiyono B.,1999. Beberapa catatan budidaya dan pengelolaan Lak. Info Hasil Hutan.

http://www.forest-reserch.co.cc/2009/07/tugas_13.html/15/10/2009





















21 komentar:

  1. Sangat bermanfaat

    anfaat, terima kasih infonya

    BalasHapus
  2. Sangat bermanfaat

    anfaat, terima kasih infonya

    BalasHapus
  3. Sangat bermanfaat

    anfaat, terima kasih infonya

    BalasHapus
  4. Wow sekali ya blog ini
    Wawasan saya menjadi sangat luas

    BalasHapus

Jhonson Simamora 181201150

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan, Maret     202 0 POHON DAMAR ( Aghati...