Paper
Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Maret 2020
PEMANFAATAN KAYU MANIS (Cinnamomum Burmanii L)
Dosen Penanggungjawab:
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh:
Untung Junedi
Sianturi
181201059
HUT 4D
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada penulis,
sehingga penulis dapat menyusun tugas ini dengan tepat waktu. Adapun tulisan yang
berjudul “Pemanfaatan Kay Manis (Cinnamomum Burmanii L)” ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi
Sumberdaya Hutan di Program Studi Kehutanan,
Fakultas Kehutanan, Universitas
Sumatera Utara.
Terimakasih
penulis ucapkan kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya
Hutanyaitu Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. Dalam penulisan ini, penulis menyadari
bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan penyempurnaan tugas ini.Akhir kata, penulis mengucapkan
terima kasih, semoga ini bermanfaat bagi
kita semua.
Medan, Maret 2020
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 2
1.3 Tujuan.................................................................................................... 2
BAB II ISI
2.1
Gambaran Umum dari Kayu manis(Cinnamomum
Bumanii)................ 3
2.2
Bentuk Pemanfaatan Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii)............... 4
2.3
manfaat
ekonomi dari Kayu Manis (Cinnamomum
Burmanii)............ 6
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan............................................................................................ 9
3.2
Saran...................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa
hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam
persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan
(UU RI No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan). Hutan produksi di Indonesia yang
dikenal saat ini dibedakan atas dua jenis berdasarkan jenis tegakan yaitu Hutan
Heterogen (tegakan tidak seumur dan memiliki jenis yang bebeda) dan Hutan
Homogen (tegakan seumur dan jenis sama).
Kehutanan
menurut pasal 1 Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan adalah sistem
pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan
yang diselenggarakan secara terpadu. Hutan sendiri memiliki arti suatu kesatuan
ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi
pepohonan dalam persekutuan alam dan lingkungannya, yang satu dengan lainnya
tidak dapat dipisahkan. Sedangkan menurut FAO merupakan lahan yang luasnya
lebih dari 0,5 Ha dengan pepohonan yang tingginya lebih dari 5 m dan tutupan
tajuk lebih dari 10%, atau pohon dapat mencapai ambang batas di lapangan tidak
termasuk lahan yang sebagian besar digunakan untuk lahan pertanian atau
pemukiman.
Hutan
merupakan sumber daya alam yang dapat memberikan manfaat berlipat ganda, baik
manfaat yang secara langsung maupun manfaat secara tidak langsung. Manfaat
hutan secara langsung adalah sebagai sumber berbagai jenis barang, seperti
kayu, getah, kulit kayu, daun, akar, buah, bunga dan lain-lain yang dapat
dimanfaatkan secara langsung oleh manusia atau menjadi bahan baku berbagai
industri yang hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi hampir semua kebutuhan
manusia. Manfaat hutan yang tidak langsung meliputi gudang keanekaragaman
hayati (biodiversity) yang terbesar di dunia meliputi flora dan fauna, Bank
lingkungan regional dan global yang tidak ternilai, baik sebagai pengatur
iklim, penyerap CO2serta penghasil oksigen, Fungsi hidrologi yang sangat
penting artinya bagi kehidupan manusia di sekitar hutan dan plasma nutfah yang
dikandungnya.
Luas
kawasan hutan Indonesia tahun 2012 mencapai 130,61 juta ha. Kawasan tersebut
diklasifikasi sesuai dengan fungsinya menjadi kawasan konservasi (21,17 juta
ha), kawasan lindung (32,06 juta ha). kawasan produksi (33,68 juta ha) dan
kawasan produksi yang dapat dikonversi (20,88 juta ha) Luas kawasan hutan
tersebut mencapai 68,6% dari total luas daratan Indonesia sehingga menjadi
salah satu potensi sumber daya alam yang rawan.
Semakin bertambahnya penduduk dan
diketahuinya manfaat senyawa kimia yang terkandung pada kayumanis menunjukan
bahwa pengembangan tanaman kayumanis masih mempunyai prospek untuk meningkatkan
pendapatan petani, devisa dan sebagai tanaman tabungan bagi masyarakat. Selain
itu, tanaman kayumanis juga dapat berfungsi sebagai tanaman penghijauan dan
konservasi lahan, khususnya di tebing-tebing dan kaki pegunungan serta daerah
aliran sungai.
1.1
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana gambaran umum dari Kayu manis(Cinnamomum
Bumanii)?
- Apa dan Bagaimana
bentuk pemanfaatan yang bisa didapatkan dari Kayu manis (Cinnamomum Burmanii)?
- Bagaimana
metode produksi dan manfaat ekonomi dari Kayu manis (Cinnamomum Burmanii)?
2.1
Tujuan
1.
Untuk mengetahui klasifikasi, informasi dari
Kayu manis(Cinnamomum
Bumanii)
- Untuk mengetahui bentuk pemanfaatan yang bisa didapatkan dari Kayu manis(Cinnamomum Bumanii)
- Untuk mengetahui
bagaimana metode
produksi dan manfaat ekonomi dari Kayu manis(Cinnamomum Bumanii)
BAB II
ISI
Produk
kulit dari beberapa jenis pohon Cinnamomum dikenal dengan kulit kayu manis
sehingga umumnya disebut dengan pohon kayu manis. Kulit Kayu manis Padang
adalah kulit batang Cinnamomum burmannii dalam perdagangan dikenal
dengan nama Cassia vera, dengan bau khas aromatik, rasa agak manis, agak
pedas dan kelat. Jenis C. zeylanicum dalam dunia perdagangan dikenal
dengan ceylon cinnamon. Jenis C. burmanni yang asli Indonesia,
dalam perdagangan diberi nama padang kaneel atau cassiavera eks. Padang. C.
sintok Blume banyak ditemukan di Jawa Barat dan Tengah. Sedangkan C.
culilawan Blume asli dari Ambon. Meskipun keberadaan pohon kayu manis
awalnya banyak tumbuh di hutan, dewasa ini sudah banyak dibudidayakan pada
lahan perkebunan, dan pekarangan penduduk. Kegunaan dan manfaat jenis kayu Cinnamomum
spp., seperti kayu manis sangat luas dan kandungan kimianya telah banyak
diinformasikan.
Penyebaran Cinnamomum burmannii di
indonesia banyak terdapat di daerah Sumatra, khususnya di daerah Sumatra Barat
dan Kerinci. Nama daerah di Sumatra disebut dengan holim, holim manis, modang
siak-siak (Batak), kanigar, kayu manis (Melayu), madang kulit manih
(Minangkabau). Di Jawa dikenal dengan Huru mentek, di kalangan masyarakat suku
sunda dikenal dengan kiamis, kanyengar (Kangean), dan di daerah lain seperti
Kesingar (Nusa Tenggara), kecingar, cingar (Bali), onte (Sasak), kaninggu
(Sumba), Puu ndinga (Flores). Warga Lauraceae seperti Cinnamomum
burmannii merupakan penghuni daerah-daerah yang seluruhnya mencakup lebih
dari 1000 jenis yang terbagi dalam sekitar 50 marga. Tanaman ini juga terdapat
di daerah Srilanka. Tetapi di daerah Srilanka, kulit batangnya lebih tipis dari
kulit batang Cinnamomum burmannii yang ada di Indonesia. Dikenal 2
varietas, varietas pertama yang berdaun muda berwarna merah pekat dan varietas
kedua berdaun hijau ungu. Varietas pertama terdiri dari 2 tipe, ialah tipe
pucuk merah tua dan tipe pucuk merah muda. Varietas yang banyak ditanam di
daerah pusat produksi di Sumatra Barat dan Kerinci adalah varietas pertama.
Varietas kedua hanya didapat dalam jumlah populasi yang kecil. Kayu manis pucuk
merah mempunyai kualitas yang lebih baik, tetapi produksinya lebih rendah
daripada kayu manis yang berpucuk hijau.
Tanaman kayumanis (Cinnamomum
burmanii) sudah lama dikembangkan di Indonesia dan merupakan salah satu
komoditi rempah yang menjadi barang dagangan utama sejak zaman kolonial. Komoditi ini di ekspor melalui Penang dan
Singapura dan hingga saat ini masih memiliki potensi di pasar regional dan
internasional. Tanaman ini merupakan komoditas unggulan, terutama di daerah
Sumatera Barat dan Kabupaten Kerinci, sebagai daerah sentra produksi kayumanis
Indonesia. Di daerah ini pendapatan petani yang berasal dari hasil kayumanis
sebesar 26,93% dari hasil usahataninya, atau 16,03% dari total pendapatan
petani (Sudjarmoko dan Ferry, 2007). Walaupun bukan pendapatan utama, namun
fungsinya sangat penting sebagai cadangan dana untuk memenuhi kebutuhan biaya
mendadak dan mahal. Tanaman kayumanis (Cinnamomum burmanii) sudah lama
dikembangkan di Indonesia dan merupakan salah satu komoditi rempah yang menjadi
barang dagangan utama sejak zaman kolonial. Komoditi ini di ekspor melalui
Penang dan Singapura dan hingga saat ini masih memiliki potensi di pasar
regional dan internasional. Tanaman ini merupakan komoditas unggulan, terutama
di daerah Sumatera Barat dan Kabupaten Kerinci, sebagai daerah sentra produksi
kayumanis Indonesia. Di daerah ini pendapatan petani yang berasal dari hasil
kayumanis sebesar 26,93% dari hasil usahataninya, atau 16,03% dari total
pendapatan petani. Walaupun bukan pendapatan utama, namun fungsinya sangat
penting sebagai cadangan dana untuk memenuhi kebutuhan biaya mendadak dan
mahal.
2.2
Bentuk Pemanfaatan Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii)
Masyarakat kabupaten Solok di Sumatra
Barat sebagian besar memanfaatkan pohon kayu manis untuk diambil kulitnya
sedangkan pemanfaatan batang pohon kayu manis umumnya untuk keperluan kayu
bakar dikarenakan kayunya yang cepat mengalami retakan, dan sebagian kecil
masyarakat memanfaatkannya sebagai kayu pertukangan. Pohon kayu manis (Cinnamomum
coriaceum Camm dan Cinnamomum burmanii Blume) banyak tumbuh di
desa/jorong Bukit gompong, Petak tinggi, Koto gadang talang Kabupaten Solok
Propinsi Sumatra Barat. Pohon ini ditemukan di areal lahan perkebunan swasta,
hutan alam serta hutan rakyat. Tumbuh pada lahan yang datar hingga dataran
tinggi dan pegunungan, dengan ketinggian sekitar 900 mdpl. Tinggi pohon
berkisar antara 4 – 15 m dengan diameter pangkal batang antara 7 -50 cm.
Potensi pohon kayu manis cukup tersedia di daerah setempat, terlihat pada
pekarangan dan kebun masyarakat dan merupakan usaha sampingan selain menanam
tanaman kebun/ladang.
Makin diketahuinya kandungan bahan kimia
organik pada kayumanis menyebabkan manfaatnya terus dikaji terutama untuk bahan
farmasi, obat-obatan dan minuman kesehatan. Meningkatnya kesadaran masyarakat
akan pentingnya pangan fungsional, termasuk minuman kesehatan menyebabkan
terbukanya peluang peningkatan konsumsi masyarakat terhadap kayumanis.
Sedarnawati dan Hanny (2008), telah memperkenalkan minuman kesehatan yang
dikenal dengan Cinna-ale (kayumanis-jahe). Minuman kesehatan ini terdiri dari
rempah-rempah asli Indonesia. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa minuman ini
berpotensi sebagai Antioksidan dan Antimikroba. Nama Cinna-ale berasal dari
nama latin kayumanis (Cinnamomum burmanii) dan jahe (Zingiber
officinale). Selain Cinna-ale juga telah tersedia minuman Teh-Kayumanis
yaitu minuman penyegar yang memiliki khasiat bagi kesehatan (Ferdiana dan
Muchtadi, 2008). Program kayumanis organik merupakan salah satu alternatif
soluasi dalam usaha meningkatkan harga jual, pelestarian keraifan sosial budaya
dan memperpanjang masa kesuburan tanah milik petani serta keterlibatan
masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam yang arif dan bijaksana.
Nilai tambah produk kayumanis dapat
diperoleh dari pemanfaatan kayu batang kayumanis sebagai bahan baku industri
kayu. Sampai saat ini kayu dari tanaman kayu manis belum dimanfaatkan secara
optimal. Pemanfaatan kayu ini merupakan peluang baru untuk meningkatkan margin
keuntungan dalam agribisnis kayumanis. Saat ini kayu dari kayumanis mulai
disukai oleh konsumen karena warnanya yang cerah, coraknya yang unik, dan
baunya yang harum. Di samping itu, kayu dari tanaman kayumanis memenuhi
persyaratan ekolabeling karena komoditi ini dibudidayakan (renewable)
dengan kegunaan yang cukup luas, yaitu sebagai bahan baku perabotan rumah
tangga, particle board, parquet dan lain sebagainya. Oleh karena itu
usahatani kayumanis saat ini bukan hanya berorientasi produksi kulitnya saja
tetapi juga untuk produksi kayu.
2.3
Metode produksi dan manfaat ekonomi dari
Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii)
Ekspor kayumanis Indonesia mengalami
peningkatan pada kurun waktu lima tahun terakhir, yaitu rata-rata sebesar 9%,
sedangkan konsumsi dalam negeri tumbuh rata-rata 81,08% per tahun. Peningkatan
ekspor dan konsumsi tersebut disebabkan oleh makin beragamnya manfaat kayumanis,
terutama untuk kesehatan. Kurun waktu sampai
tahun 1997 merupakan masa keemasan pelaku usaha kayumanis, mulai dari petani,
pedagang pengumpul dan eksportir. Harga kayumanis mencapai titik tertinggi
sampai US$ 1,92 per kg dan tidak pernah di bawah US$ 1 seperti terlihat pada
Gambar 3 dengan nilai ekspor sebesar US$ 35.979,-. Situasi di atas mendorong
masyarakat memperluas areal pertanaman, yang akhirnya menyebabkan over
supply. Hal ini menyebabkan sejak tahun 1998 harga kayumanis terus mengalami
penurunan sampai sekitar US$ 0,5 dengan nilai ekspor sebesar US$ 20.657,- dan
harga ini terus turun mencapai Rp. 2500,-/kg pada tahun 2008 (Bupati Kerinci,
2008). Selain itu, rendahnya harga kayumanis disebabkan oleh bentuk produk yang
diekspor masih dalam bentuk produk kulit kayumanis kering gulung, bentuk yang
sangat hulu, sedangkan harga produk olahannya seperti minyak kayumanis atau
oleoresin tetap tinggi (AECI, 2008).
Semakin bertambahnya penduduk dan
diketahuinya manfaat senyawa kimia yang terkandung pada kayumanis menunjukan
bahwa pengembangan tanaman kayumanis masih mempunyai prospek untuk meningkatkan
pendapatan petani, devisa dan sebagai tanaman tabungan bagi masyarakat. Selain
itu, tanaman kayumanis juga dapat berfungsi sebagai tanaman penghijauan dan
konservasi lahan, khususnya di tebing-tebing dan kaki pegunungan serta daerah
aliran sungai.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Kulit
Kayu manis Padang adalah kulit batang Cinnamomum burmannii dalam
perdagangan dikenal dengan nama Cassia vera, dengan bau khas aromatik,
rasa agak manis, agak pedas dan kelat.Pembentukan saluran
getah terdiri dari dua cara yaitu lysegenius dan Schizogeneous
- Masyarakat kabupaten Solok di
Sumatra Barat sebagian besar memanfaatkan pohon kayu manis untuk diambil
kulitnya
- Nilai tambah produk kayumanis
dapat diperoleh dari pemanfaatan kayu batang kayumanis sebagai bahan baku
industri kayu.
- Manfaat Ekonomi yang didapat dari pemanfaatan kayu
manis adalah meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan
Saran
Kualitas produksi harus tetap dijaga, mulai dari
penanaman, pemeliharaan sampai saat panen serta pascapanen sehingga akan
memenuhi standar terutama untuk ekspor. Harus mengembangkan produk turunan dari
kayu manis sehingga akan menambah nilai produk dan diharapkan pemeritah dapat
memberikan pelatihan atau penyuluhan agar petani memahami pengolahan kayu manis
yang baik.Petani, kelompok-kelompok tani atau pemerintah harus mencari pangsa
pasar yang lain dan memanfaatkan lembaga keungan yang ada, sehingga harga kayu
manis tidak dikendalikan oleh toke
DAFTAR
PUSTAKA
AECI (Assosiasi Eksportir Cassia Indonesia). 2008.
Pengalaman Eksportir Kayumanis. Disampaikan pada Seminar
Nasional Kayumanis. Auditorium Kanpus Departemen Pertanian. Jakarta tanggal 27
Maret 2008.
Alimah, D. (2015). Study Pengusahaan Kayu Manis Di Hulu Sungai Selatan. Balai Penelitian Kehutanan
Banjarbaru. Galam Volume 1
Nomor 1.
Rustiadi, Askar, J, dkk . (2009). Dampak Pengembangan Komoditas Kayu Manis Rakyat Terhadap
Perekonomian Wilayah: Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Laporan hasil penelitian forum pasca sarjana.
Sudjatmoko. B dan Y. Ferry. 2007. Peranan Tanaman
Kayumanis Terhadap Pendapatan Petani di Sumatera Barat. Prosiding
Seminar Nasional Rempah. Bogor 21 Agustus 2007

Keren kali ah
BalasHapusKeren bgd
BalasHapusInfo yang sangat bermanfaat
BalasHapusThanks
HapusMateri yang sangat bermanfaat
BalasHapusKereen bnget
BalasHapusb aja
BalasHapusWaw kerennn sekaliii
BalasHapusmantul
BalasHapusSungguh bagus manfaatnya
BalasHapusFeeling god
BalasHapusMantap
BalasHapusInfo nya menarik, Jadi klo kubuat perkebunan kulit manis dah bisa lah kau yang mengelola kan
BalasHapusBisa abgda tapi harus ada juga pendampingan dari yang lebih berpengalaman dibidangnya
Hapuskerenlah
BalasHapusInfonya bermanfaat
BalasHapusKerenlah bang
BalasHapusAkuu sih yess
BalasHapusBagus
BalasHapusSemakin luas aja wawasanku
BalasHapus