Minggu, 29 Maret 2020

Vicky Warnanda Silitonga 181201139

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                        Medan,   Maret 2020

PEMANFAATAN EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN
KEMENYAN (Styrax SP)
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut,M.Si


Oleh :
Vicky Warnanda Silitonga
181201139
Hut 4D








PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
MEDAN

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................................... 2

BAB II ISI
2.1 Taksonomi dan Habitat PenyebaranKemenyan........................................... 3
2.2 Pemanfaatan Getah Kemenyan.................................................................... 4
2.3 Jenis – Jenis Kemenyan............................................................................... 5
2.4 Analisis Finansial Usaha Getah Kemenyan................................................   6
      
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................... 9
3.2 Saran............................................................................................................. 9

DAFTAR PUSTAKA


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini. Paper  ini berjudul “Pemanfaatan Ekonomi Sumberdaya Hutan Kemenyan (Styrax sumatrana)” yang disusun sebagai salah satu syarat dalam Tugas Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.yang telah membantu dan membimbing penulis dalam pelaksanaan pembelajaran hingga terwujudnya paper ini.
Penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna, baik dari segi teknik penyusunan maupun dari segi materi dan pembahasan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari para pembaca atau pengguna paper ini demi penyempurnaan paper ini. Semoga paper ini bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya.



           Medan,   Maret 2020

         Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekonomi SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH untuk menjawab barang dan jasa hasil hutan apa yang diproduksi sehingga dapat menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam pengertian bahwa sumberdaaya hutan telah memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memberikan jasa perlindungan lingkungan bagi semua masyarakat (Alam,dkk, 2009).
Hutan merupakan salah satu kawasan yang menyediakan sumberdaya alam dalam jumlah yang melimpah berfungsi sebagai penyangga ekosistem tempat tumbuh berbagai macam flora dan fauna serta menyediakan kebutuhan masyarakat akan kebutuhan sandang, pangan dan papan sehingga untuk melindungi dan kontrol terhadap sumberdaya hutan ditetapkan dalam fungsi kawasan yang diatur dalam undang-undang akan tetapi pengaturan tersebut belum terbentuk dengan baik belum jelasnya pengelolaan berdasarkan fungsi yang ditetapkan ketidak sepakatan tentang siapa yang seharusnya mengontrol dan mengelola hutan dan tersingkirnya masyarakat adat atapun lokal atas kawasan hutan yang menjadi sumber penghidupannya (Ariani,dkk, 2014).
Tanaman Kemenyan merupakan sumber kehidupan serta prestise sosialsuatu keluarga yang diukur dengan seberapa luas kebun Kemenyan yang dimiliki suatu keluarga dan bahkan telah menjadi bagian gerak hidup petani Kemenyan di Daerah Tapanuli. Pohon Kemenyan memiliki nilai ekonomi penting, hal ini dapat dilihat dari luas kebun Kemenyan yang terdapat di beberapa daerah di Sumatera Utara, utamanya daerah Tapanuli. Data Statistik menunjukkan bahwa Tapanuli Utara memiliki luas kebun Kemenyan seluas 22.670 ha dengan produksi 321,3 kg/ha/tahun dengan produksi total mencapai 4.247 ton/tahun. Data BPS Sumatera Utara, luas kebun Kemenyan terluas terletak di Kabupaten Tapanuli Utara (16.359 Ha) dan Kab. Humbahas (9.594 Ha). Pengusahaan kebun Kemenyan tersebut sedikitnya telah melibatkan 60.209 KK (214.000 jiwa) dari jumlah penduduk Tapanuli Utara 705.432. Getah Kemenyan yang dihasilkan pohon marga Styracaceae dikelompokkan sebagai hasil hutan bukan kayu. Permintaan dan kebutuhan getah Kemenyan hingga saat ini masih terus mengalir dan ini tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat petani Kemenyan di Tapanuli Utara khususnya serta memiliki nilai ekonomi yang akan terus diberdayakan sebagai salah satu primadona tanaman perkebunan potensial penyumbang Pendapatan Asli Daerah (Jayusman, 2014).
Getah kemenyan yang di perdagangkan terdiri dari jenis kemenyan Toba (Styrax paralleloneurum PERK), kemenyan Durame (Styrax benzoine DRYLAND), dan kemenyan Bulu (Styrax benzoine var. hiliferum). Asam sinamat merupakan salah satu kandungan kimia pada getah kemenyan bulu . Asam sinamat adalah senyawa bahan alam dengan rumus kimia C9H8O2 atau C6H5CHCHCOOH, berwujud kristal putih, sedikit larut dalam air, dan mempunyai titik leleh 133°C serta titik didih 300°C. Senyawa ini memiliki berbagai aktivitas biologis, antara lain antibakteri, anestetik, antiinflamasi, antispasmodik, antimutagenik, fungisida, herbisida serta penghambatenzim tirosinase. Getah kemenyan merupakan komoditi cukup penting dan perlu mendapat perhatian lebih besar khususnya bagi petani di Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut produksi getah kemenyan cenderung menurun dan produktifitasnya rendah. Hal ini disebabkan karena pengelolaannya masih dilakukan secara tradisional (Kiswandono, dkk, 2016).

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Taksonomi dan Habitat PenyebaranKemenyan?
2. Bagaimana Pemanfaatan Getah Kemenyan?
3. Jenis-Jenis Kemenyan?
4. Bagaimana Analisis Finansial Usaha Getah Kemenyan?

1.3 Manfaat Penulisan
1.2.1 Untuk mengetahui Taksonomi dan Habitat PenyebaranKemenyan.
1.2.2 Untuk mengetahui Pemanfaatan Getah Kemenyan.
1.2.3 Jenis-JenisKemenyan.
1.2.4 Untuk mengetahui Analisis Finansial Usaha Getah Kemenyan.


BAB II
ISI
1.2.1 Taksonomi dan Habitat PenyebaranKemenyan
            Pohon Kemenyan berasal dari pantai barat Sumatera, tumbuh secara alami dan telah banyak dibudidayakan. Pohon Kemenyan banyak ditemukan di hutan alam, hidup berkelompok dan bercampur dengan tanaman lain. Pohon Kemenyan menyebar pada berbagai negara meliputi Malaysia, Thailand, Indonesia dan Laos. Indonesia memiliki daerah sebaran pohon Kemenyan di Pulau Sumatera, Pulau Jawa bagian Barat dan Kalimantan Barat. Sumatera memiliki sebaran terluas, terutama daerah Tapanuli dan Dairi. Diperkirakan hampir 67% dari luas kebun Kemenyan yang ada di Indonesia terdapat di daerah Tapanuli Utara. Pohon Kemenyan menyebar pada berbagai elevasi (60 m – 2100 m dpl). Di daerah Palembang (Sumatera Selatan) dan Tapanuli Selatan,pohon Kemenyan banyak ditemukan pada daerah dengan ketinggian 60 - 320 m dpl. Sentra kebun Kemenyan di Tapanuli Utara yang dikenal secara luas rata-rata berada pada ketinggian lebih dari 600 m dpl. Pohon Kemenyan tidak memerlukan persyaratan yang istimewa. Pohon Kemenyan mampu tumbuh pada tanah-tanah tinggi yang berpasir, maupun tanah lempung rendah di hutan alam. Mampu tumbuh pada Andosol, Podsolik, Latosol, Regosol, dan berbagai asosiasi mulai tanah bertekstur berat sampai ringan, serta tanah yang subur hingga kurang subur, tanah berpasir hingga tanah lempung rendah di hutan alam, namun secara umum pohon Kemenyan menghendaki tanah yang memiliki kesuburan yang baik. Pohon Kemenyan tidak tahan terhadap genangan air, sehingga untuk pertumbuhannya membutuhkan tanah yang porositasnya tinggi (mudah meneruskan/meresapkan air). Tumbuh baik pada solum tanah yang dalam dengan pH tanah berkisar4 - 7, menghendaki bulan basah yang tersebar merata sepanjang tahun dengan tipe curah hujan A-B (Schmidt & Fergusson).

Taksonomi pohon Kemenyan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisio : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Dilleniidae
Ordo : Ebenales
Famili : Styracaceae
Ordo Ebeneles memiliki 12 genus dan terdiri lebih dari 190 jenis yang menyebar mulai dari benua Asia, Mediterania hingga Amerika Utara – Selatan. Genus Kemenyan memiliki jumlah lebih dari 20 jenis. Jumlah spesies Kemenyan bervariasi menurut beberapa pakar, yakni 5 spesies (Putz & NG, 1954), 7 spesies (van Steenis, 1953; van de Koppel, 1959), 3 jenis (Heyne, 1987) dan 20 spesies (Pinyopusarerk, 1994). Van Steenis (1953) menyebutkan bahwa secara umum hanya 4 jenis yang dibudidayakan dan bernilai ekonomi yaitu:Toba (Styrax paralleloneurum PERK), Durame (Styrax benzoine DRYAND), Bulu (Styrax benzoine var. hiliferum) dan Siam (Styrax tonkinennsis). Umumnya masyarakat di Tapanuli dan Dairi, Propinsi Sumatera Utara hanya membudidayakan jenis Toba dan Durame secara luas sedangkan jenis Bulu kurang banyak dibudidayakan. Jenis Kemenyan Siam hinggasaat ini belum banyak dikembangkan di Indonesia, namun telah dirintis penguasaan budidayanya oleh Balai Penelitian Kehutanan Sumatera (BPK Pematanag Siantar). Heyne (1987) mendiskripsikan KemenyanToba (haminjon Toba, kumayan putih) menjadi Styrax sumatrana J.J.SM (namun penamaan ini sering diartikan sebagai semua jenis - jenis Kemenyan yang berasal dari Pulau Sumatera) sedangkan van Steenis (1953) dan van de Koppel (1959) menyebutnya dengan Styrax paralleloneurum PERK atau sering disebut Styrax paralleloneuru.

1.2.2 Pemanfaatan Kemenyan
            Pemanfaatan hasil utama budidaya pohon Kemenyan adalah (a) produksi getah Kemenyan, (b) produksi kayu dan (c) pemanfaatan untuk tujuan lain. Umumnya pemanfaatan getah Kemenyan dikelompokkan menjadi dua yaitu:
 1.Tradisonal (konvensional)
Tradisi religi masih sering menggunakan getah Kemenyan, terutama padaupacara – upacara untuk mendapatkan aroma dupa yang baik. Di pulau Jawa sering dicampur dengan kayu cendana pada saat pembakarannya. Ditimur Tengah penggunaan getah Kemenyan sebagai dupa yang sempurna dengan mencampur dengan getah Murh (minyak). Penggunaan getah untuk bahan pencampur pada tembakau rokok, sampai saat ini masih dilakukan, karena masih banyak yang berpendapatKemenyan mampu memperbaiki pernafasan, namun seiringperkembangan waktu penggunaan campuran untuk tembakau rokok sudah semakin banyak. 2. Modern
       Khan (2001) menyebutkan kandungan getah Kemenyan antara lain terdiri dari:
1. Asam Sinamat (C6H5CH-CHOOH)
2. Asam benzoat
3. Styrol
4. Vanillin (C8H8O3)
5. Styracin
6. Coniferil benzoate
7. Coniferil sinamate
8. Resin benzoeresinol dan suma resinotannol
Asam Sinamat adalah bahan penolong pada pembuatan berbagai bahan kimia pada pembuatan obat-obatan (pharmasi), parfum, kosmetik, makanan dan minuman. Deskripsi yang lebih luas dari pemanfaatan asam sinamat sebagai berikut:
Bidang farmasi
1. Antiseptic
2. Expectorant (pelega pernafasan)
3. Obat Mata untuk Katarak
4. Unsur perantara pada pembuatan obat antibiotik Streptomycin
Pengawet makanan dan minuman
       Sebagai “food additive” yaitu bahan tambahan untuk makan dan minumanterutama untuk pengawetan. Menurut FDA (Food and Drugs of America)dan EDA (Europe Drugs Association), jumlah asam sinamat alami yangdibutuhkan untuk setiap kilogram/liter makanan atau minuman untuk pengawetan sebanyak 1,25 mg. Sedangkan SII (Standar Industri Indonesia) menetapkan penggunaan asam benzoat atau natrium benzoat sejumlah 250 mg/kg/liter.
Parfum
             Penggunaan utamanya sebagai “fix active” yaitu berfungsi menahanaroma pada parfume agar tahan lebih lama serta sebagai “fix agent” yaitu berfungsi mempertemukan dua atau beberapa jenis parfume dari bahan yang berbeda untuk mendapatkan aroma parfume yang lebih baik. Melalui proses esterifikasi asam sinamat dipergunakan untuk membentuk ester-ester seperti methyl dan ethyl serta berbagai derivat (turunan) yang banyak digunakan untuk kebutuhan obat-obatan pertanian.
Kosmetik
Penggunaan asam sinamat untuk kosmetik sudah lama dikenal, karenabahan tersebut bermanfaat sebagai pelindung kulit terhadap sinar matahari dan juga karena memiliki sifat astrigent, sehingga dapat mengeluarkan kotoran-kotoran yang terdapat pada kulit (wajah). Negara Perancis telah menghasilkan parfume dengan patent bernama “Lait Virginal” yang artinya mempertahankan kemudaan. Unsur Kemenyan yang sangat bermanfaat untuk ini disebut isobutyl salicynil cinnamate yang merupakan turunan dari asam sinamat. Bahan ini juga telah banyak dipatenkan sebagi “Sun Screening Agent” dengan daya tahan terhadap cahaya matahari (ultra violet rays) pada kisaran 2800-3150 A° (Arythermal range).
Vernis
Percobaan pemanfaatan getah Kemenyan untuk varnish telah dilakukanoleh Balai Litbang Industri Medan yang menunjukkan bahwa vernis yang dapat dibuat adalah jenis “spirit varnish”. yaitu dengan mengunakan pelarut yang mudah menguap (thinner atau spirtus). Sedangkan penggunaan terpentin sebagai pelarut ternyata getahKemenyan tidak mudah larut. Bahan baku yang digunakan adalah kualitas Kemenyan abu yang harganya di pasaran relatif murah. Komposisi pelarut yang baik adalah 25% karena menghasilkan vernis yang cukup baik.
Lilin
Pembuatan lilin dengan campuran getah Kemenyan telah banyak dicoba,utamanya menghasilkan asap lilin yang beraroma khas. Lilin dengankarakter tersebut dianggap cukup sesuai untuk kegiatan religi.

1.2.3       Jenis – Jenis Kemenyan
Kemenyan Toba (Styrax paralleloneurum PERK)
            Kemenyan Toba merupakan jenis yang paling banyak dibudidayakan di daerah Tapanuli dan Dairi. Jenis ini tumbuh dan menyebar pada ketinggian >600 m dpl di sentra produksi Kemenyan di Tapanuli Utara. Penampilan daun jenis Toba terkesan lebih gelap dan mengkilat dibandingkan jenis Durame dan Bulu. Getah yang dihasilkan memiliki aroma balsamat tajam, warna putihkuning kecoklatan dengan ukuran butiran getah panjang 3 - 7 cm dan lebar 1,5 - 2,5 cm. Pada perdagangan lokal harga getah Kemenyan Toba dikenal paling tinggi dibandingkan jenis lainnya. Tipe perkecambahan benih Kemenyan Toba dan pertumbuhan tanaman di lapangan relatif lebih lambat dibandingkan jenis Durame dan Bulu. Usia matang sadap jenis ini umumnya lebih dari 5 tahun, tergantung perkembangan diameter batang tanaman.
Kemenyan Durame (Styrax benzoine Dryand)
Kemenyan Durame merupakan jenis kedua yang paling banyakdibudidayakan di Daerah Tapanuli. Jenis ini tumbuh dan menyebar pada ketinggian mulai dari >60 m dpl di daerah Sumatera Selatan dan Tapanuli Selatan, sedangkan di sentra produksi Kemenyan Tapanuli Utara banyak ditemukan pada ketinggian >600 m dpl. Umumnya Kemenyan Durame dibudidayakan secara campuran dengan jenis Toba dan Bulu. Penampilan daun jenis Durame terkesan lebih terang warnanya dibandingkan jenis Toba. Getah yang dihasilkan memiliki aroma balsamat agak tajam, warna putih-kuning kecoklatan dengan ukuran butiran getah panjang 3 - 5 cm dan lebar 1 - 1,5 cm. Pada perdagangan lokal harga getah Kemenyan Durame relatif lebih rendah dibandingkan jenis Toba dan sering digunakan hanya sebagai getah pencampur di kilang Kemenyan. Tipe perkecambahan benih Kemenyan Durame dan pertumbuhan tanaman di lapangan relatif lebih cepat dibandingkan jenis Toba. Usia matang sadap jenis ini umumnya dimulai pada umur 5 tahun dengan ukuran diameter batang tanaman mencapai >10 cm.
 Kemenyan Bulu (Styrax benzoine var hiliferum)
Kemenyan Bulu merupakan jenis yang kurang banyak dikenal, hal ini disebabkan oleh jumlah populasinya yang relatif sedikit. Jenis ini secara alam banyak ditemukan di hutan alam Sibatuloteng-Simalungun dancukup banyak dibudidayakan di daerah Pahae dan Sarulla, Kabupaten Tapanuli Utara. Namun di salah satu daerah sentra Kemenyan – Dolok sanggul, jenis ini jarang atau sulit ditemukan. Penyebaran dan penampilan Kemenyan Bulu memiliki kesamaan dengan jenis Durame. Getah yang dihasilkan memiliki aroma balsamat kurang tajam, warna putih-kuning kecoklatan dengan ukuran butiran getah panjang 3 - 5 cm dan lebar 1,0 - 1,5 cm. Pada perdagangan lokal harga getah Kemenyan Bulu relative lebih rendah dibandingkan jenis lainnya dan bersama getah Durame sering hanya digunakan sebagai bahan pencampur dalam pengolahan getah. Umumnya getah Kemenyan Bulu lebih cair dan tampak meleleh di permukaan batang hingga jatuh di atas lantai kebun. Pemanenan getahnya dilakukan dengan memungut getah di sekitar batang berupa gumpalan getah yang sering tercampur daun, ranting dan serasah lainnya. Tipe perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman Kemenyan Bulu di lapangan relatif lebih cepat dibandingkan jenis Toba namun memiliki kesamaan dengan jenis Durame. Usia matang sadap jenis ini umumnya dimulai umur 5 tahun pada saat diameter batang tanaman mencapai >10 cm.
 Kemenyan Laos (Styrax tonkineensis Pierre)
Kemenyan Laos umumnya tumbuh pada elevasi 800 - 1600 meter diatas permukaan laut. Jenis ini dikelompokkan sebagai tanaman cepattumbuh (fast growing species). Di Negara Laos, penyebaran utama terdapat pada Propinsi Phongsali, Louang Namtha, Oudomaxai, LouangPhabang dan Houa Phan. Pengembangan budidaya Kemenyan Laos di negara Laos hingga saat ini telah mencapai lebih dari 50.000 Ha, dengan kerapatan 1600 – 3300pohon per hektar. Penyadapan dimulai pada umur 5 tahun dengan rata-rata produksi mencapai 1 - 3 kg/pohon/tahun. Warna getah kuning-kecoklatan hingga kemerahan dengan aroma balsamat lembut atau aroma fanili, besar butiran getah memiliki panjang 2,5 – 3,5 dan lebar 1,5 – 1,9 cm. Umumnya pada umur 8 tahun ditebang (di-replanting) dan kayunya dimanfaatkan untuk bahan baku kertas (chips).

1.2.4       Analisis Finansial Usaha Getah Gaharu
Kemenyan merupakan jenis tumbuhan asli Sumatra Utara dan memiliki sejarah yang panjang di daerah Tapanuli. Ada dua jenis kemenyan, yaitu kemenyan durame (Styrax benzoin) dankemenyan toba (Styrax sumatrana). Kemenyan menjadi komoditas utama dan diekspor ke Negara-negaraTimur Tengah. Agroforest kemenyan umumnya dijumpai di Kabupaten Tapanuli Utara, TobaSamosir dan Dairi. Pada tahun 2007, luas area kemenyan di Tapanuli Utara sekitar 16.395 ha, dengantotal produksi resin kemenyan 3.634,12 ton. Namun dari tahun ke tahun tingkat produktivitaskemenyan cenderung mengalami penurunan. Ini diakibatkan karena pohon kemenyan sudah relative tua dan tidak ada peremajaan. Adanya permainan harga dari tengkulak seringkali tidak memuaskanpetani kemenyan, sehingga memicu untuk mengganti komoditas kemenyan dengan komoditas lainyang lebih menguntungkan. Padahal kebun agroforest kemenyan tidak membutuhkan banyakinvestasi, karena minim pemeliharaan.Dari segi ekonomi, produksi resin kemenyan menyumbangkan 30-55% dari total pendapatan petani,berkisar dari Rp 960.000-Rp 3.990.300 per tahun. Total produksi tahunan mencapai 10-20 kg‘kemenyan mata’ (kemenyan dengan kualitas tinggi) dan jumlah yang sama untuk produksi‘kemenyan tahir’ (kemenyan dengan kualitas dua). Pada tahun 2009, harga ‘kemenyan mata’ berkisar antara Rp 90.000-Rp 120.000 per kg; dan untuk ‘kemenyan tahir’ seharga Rp 55.000-Rp80.000 per kg.Profitabilitas (NPV) agroforest kemenyan sebesar Rp 4.586.000/ha, dengan kebutuhantenaga kerja sebesar 146 orang/ha/tahun. Walaupun NPV nya rendah dan memerlukan tenaga kerjayang intensif, secara kultural, kemenyan memiliki arti penting bagi masyarakat etnis Batak. Petaniyang masih memelihara kebun agroforest kemenyan, menanam pula karet dan jenis-jenis buahbernilai ekonomi seperti durian dan petai.
        
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.Kemenyan adalah getah (eksudat) kering, yang dihasilkan dengan menoreh batang pohon kemenyan (Styrax Spp.).
2. Kemenyan digunakan dalam industri farmasi sebagai bahan pengawet dan campuran obat batuk serta dalam industry parfum sebagai bahan bau wewangian..
3. Kemenyan merupakan jenis tumbuhan asli Sumatra Utara dan memiliki sejarah yang panjang di daerah Tapanuli.
4. Analisis finansial dilakukan untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan, berapa keuntungannya, kapan pengembalian investasi terjadi dan tingkat suku bunga.
5. Ada dua jenis kemenyan, yaitu kemenyan durame (Styrax benzoin) dan kemenyan toba (Styrax sumatrana).
3.2 Saran
Saya menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang paper di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di pertanggung jawabkan.

DAFTAR PUSTAKA
Alam, S. Supratman, Alif,  M. 2014. Ekonomi Sumber Daya hutan. Universitas Hasanuddin.           
              Makassar.
Ariani. Surjono. Ismu, R. 2014. Bentuk Pengolahan SumberDaya Hutan di Desa Kololio Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah.
Jayusman.  2014. Mengenal Pohon Kemenyan (Styrax Spp). Balai Penelitian Dan Pengembangan Kehuttanan. Jakarta.
Kiswandono, A. Iswanto, A. Susilowati, A. Lumbantobing, A. 2016. Analisis Kandungan Asam Sinamat Dan Skrining Fitokimia Getah Kemenyan Jenis Bulu(Styrax benzoine var. heliferum) Of North Tapanuli. Universitas Sumatera Utara. Medan.

12 komentar:

Jhonson Simamora 181201150

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan, Maret     202 0 POHON DAMAR ( Aghati...