Minggu, 29 Maret 2020

Jennifer Sri Pinta Pakpahan 181201130


Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                             Medan,      Maret 2020
MANFAAT EKONOMI KOMODITI KEHUTANAN
POHON MATOA (Pometia pinnata)

Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Disusun Oleh:
Jennifer Sri Pinta Pakpahan
181201130
Hut 4D


Media Digital Information Network: Logo USU dan Arti Lambang USU ...







PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020

Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman buah asli khas Papua, Matoa berasal dari keluarga (family) rambutan (Sapindaceae). Matoa sebenarnya tumbuh liar di hutan-hutan Papua, sejenis tumbuhan pohon besar, tinggi pohon rata-rata 16 meter dengan diameter rata-rata maksimum 90 cm. Matoa berbuah sekali dalam setahun, berbunga pada bulan Juli hingga Oktober. Matoa merupakan buah musiman yang berbuah pada bulan September-Nopember. Distribusinya di Papua terdapat di seluruh wilayah dataran rendah hingga ketinggian ± 1200 m dpl. Tumbuh baik pada daerah yang kondisi tanahnya kering (tidak tergenang) dengan lapisan tanah yang tebal. Iklim yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang baik adalah iklim dengan curah hujan tinggi (>1200 mm/tahun). Matoa terdapat juga di beberapa daerah di Maluku, Sulawesi,dan Papua New Guenea serta di daerah tropis Australia. Kini buah matoa juga terdapat di pulau Jawa (introduksi).
Tumbuhan ini adalah flora identitas Provinsi Papua Barat. Di Papua, pohon matoa  bisa tumbuh sampai dengan diameter pelukan tiga orang dewasa. Buah Matoa (Pometia  pinnata) adalah buah khas asli Papua. Rasa buah ini manis seperti buah rambuatan atau  buah kelengkeng. Pohon matoa tumbuh tinggi, dan kayu nya bisa untuk mebel atau kusen  –  kusen rumah. Buah ini merupakan buah musiman yang berbuah pada bulan September  –  Oktober. Matoa tumbuh di seluruh wilayah kepulauan Cenderawasih
Buah P. pinnata dikenal juga dengan nama buah matoa, kasai, tagwa pajari (Wandamen). Buah P. pinnata merupakan salah satu jenis buah yang sangat diminati konsumen di Manokwari. Buah yang dipasarkan umumnya seluruhnya terserap oleh pasar. Buah dijual dalam bentuk tumpukan dengan harga Rp10 000 per tumpuk. Estimasi berat satu tumpuknya sekitar 0.5 kg.  Pemungutan buah P. pinnata di hutan Wosi Rendani dilakukan oleh 83.87% responden. Saat musim berbuah (November—Februari), responden rata-rata memungut buah P. pinnata sebanyak 3.61 kali/responden/musim berbuah. Jumlah buah yang dipungut setiap kali kegiatan pemungutan adalah 0.66 karung, sehingga dalam satu musim berbuah jumlah buah terkumpul adalah 2.39 karung (diasumsikan P. pinnata berbuah satu kali dalam satu tahun). Jumlah ini diperkirakan dapat menghasilkan 95.57 tumpuk.


A. Klasifikasi
Matoa (Pometia pinnata) merupakan tumbuhan daerah tropis yang banyak ditemukan dan terdapat di hutan-hutan pedalaman Pulau Irian (sekarang Papua). Secara umum diketahui terdapat 3 spesies pometia, yaitu P. pinnata, P. coreaceae, dan P. accuminata. Secara taksonomis klasifikasi matoa adalah :
Kingdom         : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom
   : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio
    : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi
               : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas
               : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub-kelas
         : Rosidae
Ordo
                : Sapindales
Famili
              : Sapindaceae
Genus
              : Pometia
Spe
sies            : Pometia pinnata J.R & G. Forst.
Dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Matoa. Di tempat lain matoa dikenal dengan berbagai nama, yaitu Kasai (Kalimantan Utara, Malaysia, Indonesia), Malugai (Philipina), dan Taun (Papua New Guinea). Sedangkan nama dari berbagai daerah adalah Kasai, Kongkir, Kungkil, Ganggo, Lauteneng, Pakam (Sumatera); Galunggung, Jampango, Kasei, Landur (Kalimantan); Kase, Landung, Nautu, Tawa, Wusel (Sulawesi); Jagir, Leungsir, Sapen (Jawa); Hatobu, Matoa, Motoa, Loto, Ngaa, Tawan (Maluku); Iseh, Kauna, Keba, Maa, Muni, (Nusa Tenggara); Ihi, Mendek, Mohui, Senai, Tawa, dan Tawang (Papua).
B. Daerah Penyebaran
Di Indonesia matoa (Pometia spp.) tumbuh menyebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Maluku, dan Papua. Daerah penyebaran matoa di Papua antara lain di Dataran Sekoli (Jayapura), Wandoswaar – P. Meoswaar, Anjai – Kebar, Warmare, Armina, Bintuni, Ransiki (Manokwari), dan lain-lain. Tumbuh pada tanah yang kadang-kadang tergenang air tawar, pada tanah berpasir, berlempung, berkarang dan berbatu cadas. Keadaan lapangan yang datar, bergelombang ringan, berat dengan lereng landai sampai dengan curam pada ketinggian sampai 120 meter di atas permukaan air laut
 C. Deskripsi 
Matoa merupakan tumbuhan berbentuk pohon dengan tinggi 20 – 40 meter, dan ukuran diameter batang dapat mencapai 1,8 meter. Batang silindris, tegak, warna kulit batang coklat keputih-putihan, permukaan kasar. Bercabang banyak sehingga membentuk pohon yang rindang, percabangan simpodial, arah cabang miring hingga datar. Akar tunggang, coklat kotor. Matoa berdaun majemuk, tersusun berseling, 4 – 12 pasang anak daun. Saat muda daunnya berwarna merah cerah, setelah dewasa menjadi hijau, bentuk jorong, panjang 30 – 40 cm, lebar 8 – 15 cm. Helaian daun tebal dan kaku, ujung meruncing (acuminatus), pangkal tumpul (obtusus), tepi rata. Pertulangan daun menyirip (pinnate) dengan permukaan atas dan bawah halus, berlekuk pada bagian pertulangan.
Bunga majemuk, bentuk corong, di ujung batang. Tangkai bunga bulat, pendek, hijau, dengan kelopak berambut, hijau. Benang sari pendek, jumlah banyak, berwarna putih. Putik bertangkai, pangkal membulat, berwarna putih dengan mahkota terdiri 3 – 4 helai berbentuk pita, dan berwarna kuning.
Buah bulat atau lonjong sepanjang 5 – 6 cm, berwarna hijau kadang merah atau hitam (tergantung varietas). Daging buah lembek, berwarna putih kekuningan. Bentuk biji bulat, berwarna coklat muda sampai kehitam-hitaman.
Matoa pada umumnya dikembangbiakkan melalui biji (generatif). Biji matoa cepat kehilangan viabilitas setelah terpapar udara luar. Benih matoa tidak memiliki sifat dormansi dan akan segera mati beberapa hari setelah dikeluarkan dari buahnya atau jika dibiarkan terbuka. Selama penyimpanan terbuka benih matoa mengalami pengeringan alami yang merupakan salah satu ciri benih rekalsitran, yaitu benih yang menghendaki penyimpanan dengan kadar air dan kelembaban tinggi sehingga benih tetap lembab dan enzim-enzimnya tetap aktif.
D. Pemanfaatan
Secara tradisional buah dan biji matoa oleh suku Genyem, Sentani, Amumen, Ekari dan Ayamaru dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Buah yang dapat dimakan adalah varietas kelapa, papeda, dan kenari. Biji matoa dapat dimakan setelah diolah. Kayunya dimanfaatkan untuk bahan bangunan (rumah dan jembatan), mebel, ukir-ukiran dan alat pertanian.
 Biji, buah dan daun matoa (Pometia pinnata J.R & G. Forst.) mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol. Biji matoa berkhasiat untuk tonikum. Kulit batang matoa kemungkinan mempunyai sifat penghambat pertumbuhan bakteri.
Pemanfaatan pohon matoa:
-Kayu dari pohon ini tampilannya cukup indah dan sudah banyak dimanfaatkan untuk membuat perabot rumah seperti lemari dan kursi serta sebagai bahan lantai dan dinding rumah-rumah kayu.
-Akar pohon yang tertancap ke tanah dan menyebar di dalam tanah akan menguatkan struktur tanah sehingga tidak mudah terjadi longsor dan banjir. Akar ini juga menjadi tempat cadangan air sehingga kita akan terhindar dari kekeringan.
-Pohon khas Papua ini bisa memberikan manfaat langsung kepada lingkungan hidup terutama manusia. Selain mendapat oksigen segar darinya, buahnya.
Mengenal Matoa, Buah Khas dari Tanah Papua - PETANI     Jual Kayu Matoa - ANUGERAH JAYA PERKASA | Agromaret
Biji matoa dapat dimakan                                                        Kayu matoa sebagai bahan bangunan
E. Teknik Budidaya dan Pengetahuan Tradisional Masyarakat
            Tanaman merupakan salah satu penghasil bahan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Peningkatan kebutuhan manusia atas berbagai hasil tanaman mengakibatkan ketersediaan dan kemampuan tanaman yang tumbuh secara alami tidak lagi dapat memenuhinya. Untuk mengantisipasi hal tersebut manusia dengan sengaja melakukan budidaya berbagai jenis tanaman yang dapat menghasilkan produk-produk yang dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya serta meningkatkan perkonomian mereka.
 Dalam budidaya jenis tanaman Matoa ini sendiri masyarakat mengharapkan hasil yang lebih banyak dan lebih baik dibanding hasil yang diperoleh dari tanaman yang tumbuh secara alami. Untuk mencapai tujuan tersebut, masyarakat tersebut melakukan berbagai perlakuan terhadap tanaman yang ditanam dan lingkungan tumbuh di tempat menanamnya. Budidaya tanaman matoa merupakan usaha masyarakat untuk memaksimalkan pertumbuhan dan hasil yang diinginkan dari suatu jenis tanaman melalui berbagai perlakuan pada baik pada tanaman yang ditanam maupun pada lingkungan tumbuh tempat penanamannya menggunakan teknik dan sumberdaya yang dikuasai mereka masing-masing. Perlakuan pada tanaman dimaksudkan agar tanaman yang ditanam cepat tumbuh dan berproduksi, dimulai dari persiapan benih, pemeliharaan tanaman, sampai perlakuan hasil pasca panen. Sedangkan perlakuan pada lingkungan tumbuh dimaksudkan untuk menyediakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman matoa melalui :
a. Tata cara penanaman, yaitu meliputi asal bibit matoa dan perlakuan pada bibit, persiapan dan waktu penanaman, serta cara menanam matoa itu sendiri.
b. Pemeliharaan pohon, meliputi bentuk kegiatan dan waktu pelaksanaannya.
c. Pemanenan dan pengelolaan buah pasca panen, meliputi tata cara pemanenan
matoa dan perlakuan buah setelah dipanen sampai dengan dipasarkan.
d. Pola pertumbuhan pohon matoa, meliputi laju pertumbuhan diameter
batang dan tinggi batang, dan juga perkembangan tajuk pengolahan tanah tersebut untuk menyiapkan tempat pertumbuhan perakaran, lalu meningkatkan keharaan tanah, dan mengurangi terjadinya persaingan-persaingan dengan tanaman lain maupun hama dan penyakit-penyakit tanaman.
F. Nilai Ekonomi
 Secara tradisional masyarakat Papua mengenal dua jenis matoa untuk membedakan dan menentukan harga jualnya, yaitu matoa kelapa dan matoa papeda. Matoa kelapa merupakan matoa yang paling disukai dan memiliki harga yang mahal karena ukuran buahnya yang besar, rasanya manis dan daging buahnya tebal. Sebaliknya matoa papeda, disebut demikian karena daging buahnya tipis, lembek, berair, dan tidak terlalu manis, harganya tidak terlalu mahal. Pemasaran buah matoa dilakukan secara sederhana di pasar maupun di tempat-tempat penjualan buah musiman. Harga jual buah matoa, sebagaimana buah musiman yang lain, berfluktuasi sesuai dengan ketersediannya. Namun dari tahun ke tahun harga buah matoa cenderung meningkat, dan saat ini berkisar antara Rp. 15. 000 – Rp. 30.000/kg untuk matoa papeda, dan Rp 50.000 – Rp. 75.000 per kg untuk matoa kelapa. Dengan produksi buah per pohon berkisar antara 100 – 200 kg, dan harga rata-rata di tingkat petani Rp. 10.000 – Rp. 50.000/kg, setidaknya petani pemilik pohon matoa akan memperoleh penghasilan sebesar Rp. 1.000.000 – Rp. 10.000.000/pohon/masa panen, tergantung umur pohon matoa, produktivitas buah matoa, dan harga buahnya. Selain buahnya, beberapa bagian pohon matoa sangat potensial dikembangkan untuk berbagai manfaat. Dengan teknik pengolahan sederhana (dijadikan bubur) biji matoa dapat dijadikan sebagai bahan makanan. Kayunya tidak sekuat dan seawet spesies pometia yang lain, umumnya dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi ringan. Air hasil rebusan kulit batang atau daunnya dapat dimanfaatkan sebagai obat demam dan keletihan. Kulit batang matoa diketahui mampu menyembuhkan luka bernanah. Dengan berbagai manfaat yang dapat diambil dari pohon matoa tersebut pohon matoa mempunyai nilai sosial yang cukup tinggi bagi masyarakat Papua, terutama di Jayapura. Kebanggaan masyarakat atas pohon matoa yang dipandang sebagai jenis buah lokal andalan merupakan modal sosial yang akan sangat menunjang pengembangan matoa sebagai buah unggulan di Papua. Dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi, kemudahan budidaya, dan adanya kebanggaan masyarakat atas pohon matoa, jenis ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai buah unggulan lokal.



KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
   1.  Matoa (Pometia pinnata) merupakan tumbuhan daerah tropis yang banyak ditemukan dan terdapat di hutan-hutan pedalaman Pulau Irian (sekarang Papua).
  2.  Di Indonesia matoa (Pometia spp.) tumbuh menyebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Maluku, dan Papua. Daerah penyebaran matoa di Papua antara lain di Dataran Sekoli (Jayapura), Wandoswaar – P. Meoswaar, Anjai – Kebar, Warmare, Armina, Bintuni, Ransiki (Manokwari), dan lain-lain
  3.  Secara tradisional buah dan biji matoa oleh suku Genyem, Sentani, Amumen, Ekari dan Ayamaru dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Buah yang dapat dimakan adalah varietas kelapa, papeda, dan kenari. 
  4. Perlakuan pada tanaman dimaksudkan agar tanaman yang ditanam cepat tumbuh dan berproduksi, dimulai dari persiapan benih, pemeliharaan tanaman, sampai perlakuan hasil pasca panen
  5Harga jual buah matoa, sebagaimana buah musiman yang lain, berfluktuasi sesuai dengan ketersediannya. Namun dari tahun ke tahun harga buah matoa cenderung meningkat, dan saat ini berkisar antara Rp. 15. 000 – Rp. 30.000/kg untuk matoa papeda, dan Rp 50.000 – Rp. 75.000 per kg untuk matoa kelapa

Saran
            Sebaiknya lebih mengerti lagi dalam memanfaatkan ekonomi sumberdaya hutan serta memahami dengan baik yang diperoleh oleh masyarakat sekitar




 REFERENSI
Anonimous. 2008. Matoa (Pometia pinnata J.R. & G. Forst.)   
Http://www. plantamor.com (6 April 2019)
Garuda, S.R dan Kadir, S. 2014. Tanaman Khas Papua (Matoa). Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua:3-7

48 komentar:

  1. Wah informasinya sangat membantu mbak

    BalasHapus
  2. Sangat membantu mengerjakan tugas sayaa!

    BalasHapus
  3. Air,Bumi,Api,Udara
    Jaman dahulu semua negara hidup dalam perdamaian.
    Kemudian semua berubah saat Corona menyerang.
    Hanya Avatar ketua dari empat elemen yang dapat menghentikannya dan saat dunia membutuhkannya dia menghilang.

    BalasHapus
  4. Terimakasih atas informasinya, sedikit saran yaa, mungkin bisa lebih dirapiin lagi penulisannya. Seperti dikesimpulan angka nya sampai double.

    BalasHapus
  5. Hidup didunia ini 21 tahun dan baru ini aku tau buah matoa wkwk makasih ilmu nya Jen 🤣

    BalasHapus
  6. Terimakasih telah hidup dan memberikan informasi ini.
    kiukkkk

    BalasHapus
  7. Terimakasih telah memberikan informasi ini.. ��

    BalasHapus
  8. Semoga infonya dapat bermanfaat bagi semua yang melihat

    BalasHapus
  9. sangat bagus , sangat bermanfaat ��
    semangat jenni

    BalasHapus
  10. Terimakasih telah mengenalkan buah matoa, akhirnya jadi tau. Infonya menarik:)

    BalasHapus
  11. Waah.. Pas bnget lagi di #rumahaja ditemani sama artikel yang sngt bermanfat dan membangun. Terimakasih yaa:)

    BalasHapus
  12. Mantep nii infoo nya. Bagus bgt, sngt bermanfaaat:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasi Kaka,smoga dpt pengetahuannya tentang matoa ini yak

      Hapus
  13. edukatif dan informatif sekalii😊

    BalasHapus
  14. Terima kasih atas informasi ini, sangat bermanfaat bagi pembaca🙏😁

    BalasHapus
  15. Wah informasinya sangat membantuuu, makasih ya buk penulis

    BalasHapus
  16. Wow wawasan saya menjadi semakin luas

    BalasHapus
  17. Kamu mau tidak jadi sahabat aku??

    BalasHapus

Jhonson Simamora 181201150

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan, Maret     202 0 POHON DAMAR ( Aghati...