Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Maret 2020
MANFAAT EKONOMI KOMODITI KEHUTANAN
POHON MATOA (Pometia pinnata)
Dosen Penanggungjawab:
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Disusun Oleh:
Jennifer Sri Pinta Pakpahan
181201130
Hut
4D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
Matoa
(Pometia pinnata) adalah tanaman buah asli khas Papua, Matoa berasal
dari keluarga (family) rambutan (Sapindaceae). Matoa sebenarnya tumbuh liar di hutan-hutan
Papua, sejenis tumbuhan pohon besar, tinggi pohon rata-rata 16 meter dengan
diameter rata-rata maksimum 90 cm. Matoa berbuah sekali dalam setahun, berbunga
pada bulan Juli hingga Oktober. Matoa merupakan buah musiman yang berbuah pada
bulan September-Nopember. Distribusinya di Papua terdapat di seluruh wilayah
dataran rendah hingga ketinggian ± 1200 m dpl. Tumbuh baik pada daerah yang
kondisi tanahnya kering (tidak tergenang) dengan lapisan tanah yang tebal.
Iklim yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang baik adalah iklim dengan curah
hujan tinggi (>1200 mm/tahun). Matoa terdapat juga di beberapa daerah di Maluku,
Sulawesi,dan Papua New Guenea serta di daerah tropis Australia. Kini buah matoa
juga terdapat di pulau Jawa (introduksi).
Tumbuhan
ini adalah flora identitas Provinsi Papua Barat. Di Papua, pohon matoa
bisa tumbuh sampai dengan diameter pelukan tiga orang dewasa. Buah Matoa
(Pometia pinnata) adalah buah khas asli Papua. Rasa buah ini manis
seperti buah rambuatan atau buah kelengkeng. Pohon matoa tumbuh tinggi,
dan kayu nya bisa untuk mebel atau kusen – kusen rumah. Buah
ini merupakan buah musiman yang berbuah pada bulan September – Oktober.
Matoa tumbuh di seluruh wilayah kepulauan Cenderawasih
Buah P. pinnata dikenal juga dengan nama buah matoa, kasai, tagwa pajari
(Wandamen). Buah P. pinnata merupakan salah satu jenis buah yang sangat
diminati konsumen di Manokwari. Buah yang dipasarkan umumnya seluruhnya terserap
oleh pasar. Buah dijual dalam bentuk tumpukan dengan harga Rp10 000 per tumpuk.
Estimasi berat satu tumpuknya sekitar 0.5 kg.
Pemungutan buah P. pinnata di hutan Wosi Rendani dilakukan oleh 83.87%
responden. Saat musim berbuah (November—Februari), responden rata-rata memungut
buah P. pinnata sebanyak 3.61 kali/responden/musim berbuah. Jumlah buah yang
dipungut setiap kali kegiatan pemungutan adalah 0.66 karung, sehingga dalam
satu musim berbuah jumlah buah terkumpul adalah 2.39 karung (diasumsikan P.
pinnata berbuah satu kali dalam satu tahun). Jumlah ini diperkirakan dapat
menghasilkan 95.57 tumpuk.
A. Klasifikasi
Matoa (Pometia pinnata) merupakan tumbuhan daerah tropis yang banyak ditemukan
dan terdapat di hutan-hutan pedalaman Pulau Irian (sekarang
Papua). Secara umum
diketahui terdapat 3 spesies pometia, yaitu P.
pinnata, P. coreaceae, dan P. accuminata. Secara taksonomis
klasifikasi matoa adalah :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub-kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Sapindaceae
Genus : Pometia
Spesies : Pometia pinnata J.R & G. Forst.
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub-kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Sapindaceae
Genus : Pometia
Spesies : Pometia pinnata J.R & G. Forst.
Dalam dunia
perdagangan dikenal dengan nama Matoa. Di tempat lain matoa dikenal dengan
berbagai nama, yaitu Kasai (Kalimantan Utara, Malaysia, Indonesia), Malugai
(Philipina), dan Taun (Papua New Guinea). Sedangkan nama dari berbagai daerah adalah Kasai, Kongkir, Kungkil, Ganggo, Lauteneng, Pakam
(Sumatera); Galunggung, Jampango, Kasei, Landur (Kalimantan); Kase, Landung,
Nautu, Tawa, Wusel (Sulawesi); Jagir, Leungsir, Sapen (Jawa); Hatobu, Matoa,
Motoa, Loto, Ngaa, Tawan (Maluku); Iseh, Kauna, Keba, Maa, Muni, (Nusa
Tenggara); Ihi, Mendek, Mohui, Senai, Tawa, dan Tawang (Papua).
B. Daerah Penyebaran
Di Indonesia
matoa (Pometia spp.) tumbuh menyebar
di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Maluku,
dan Papua. Daerah penyebaran matoa di Papua antara lain di Dataran Sekoli
(Jayapura), Wandoswaar – P. Meoswaar, Anjai – Kebar, Warmare, Armina, Bintuni,
Ransiki (Manokwari), dan lain-lain. Tumbuh pada tanah yang kadang-kadang
tergenang air tawar, pada tanah berpasir, berlempung, berkarang dan berbatu
cadas. Keadaan lapangan yang datar,
bergelombang ringan, berat
dengan lereng landai sampai dengan curam pada
ketinggian sampai 120 meter di atas
permukaan air laut
C. Deskripsi
C. Deskripsi
Matoa
merupakan tumbuhan berbentuk pohon dengan tinggi 20 – 40 meter, dan ukuran diameter batang dapat mencapai 1,8 meter. Batang silindris,
tegak, warna kulit batang coklat keputih-putihan, permukaan kasar. Bercabang
banyak sehingga membentuk pohon yang rindang, percabangan simpodial, arah
cabang miring hingga datar. Akar tunggang, coklat kotor. Matoa berdaun majemuk,
tersusun berseling, 4 – 12 pasang anak daun. Saat muda daunnya berwarna merah
cerah, setelah dewasa menjadi hijau, bentuk jorong, panjang 30 – 40 cm, lebar 8
– 15 cm. Helaian daun tebal dan kaku, ujung meruncing (acuminatus), pangkal tumpul (obtusus), tepi rata. Pertulangan daun
menyirip (pinnate) dengan permukaan
atas dan bawah halus, berlekuk pada bagian pertulangan.
Bunga
majemuk, bentuk corong, di ujung batang. Tangkai bunga bulat, pendek, hijau,
dengan kelopak berambut, hijau. Benang sari pendek, jumlah banyak, berwarna putih. Putik bertangkai, pangkal membulat, berwarna putih dengan mahkota terdiri 3 – 4 helai berbentuk pita, dan
berwarna kuning.
Buah bulat atau lonjong sepanjang 5 – 6 cm, berwarna hijau kadang merah atau hitam (tergantung varietas). Daging buah lembek, berwarna putih kekuningan. Bentuk biji bulat, berwarna coklat muda sampai kehitam-hitaman.
Buah bulat atau lonjong sepanjang 5 – 6 cm, berwarna hijau kadang merah atau hitam (tergantung varietas). Daging buah lembek, berwarna putih kekuningan. Bentuk biji bulat, berwarna coklat muda sampai kehitam-hitaman.
Matoa pada
umumnya dikembangbiakkan melalui biji (generatif). Biji matoa cepat kehilangan
viabilitas setelah terpapar udara luar. Benih matoa tidak memiliki sifat
dormansi dan akan segera mati beberapa hari setelah dikeluarkan dari buahnya
atau jika dibiarkan terbuka. Selama penyimpanan terbuka benih matoa mengalami
pengeringan alami yang merupakan salah satu ciri benih rekalsitran, yaitu benih
yang menghendaki penyimpanan dengan kadar air dan kelembaban tinggi sehingga
benih tetap lembab dan enzim-enzimnya tetap aktif.
D. Pemanfaatan
Secara
tradisional buah dan biji matoa oleh suku Genyem, Sentani, Amumen, Ekari dan
Ayamaru dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Buah yang dapat dimakan adalah
varietas kelapa, papeda, dan kenari. Biji matoa dapat dimakan setelah diolah.
Kayunya dimanfaatkan untuk bahan bangunan (rumah dan jembatan), mebel,
ukir-ukiran dan alat pertanian.
Biji, buah
dan daun matoa (Pometia pinnata J.R &
G. Forst.) mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol. Biji matoa
berkhasiat untuk tonikum. Kulit batang matoa kemungkinan mempunyai sifat
penghambat pertumbuhan bakteri.
Pemanfaatan pohon matoa:
-Kayu dari pohon ini tampilannya cukup
indah dan sudah banyak dimanfaatkan untuk membuat perabot rumah seperti lemari
dan kursi serta sebagai bahan lantai dan dinding rumah-rumah kayu.
-Akar pohon yang tertancap ke tanah dan
menyebar di dalam tanah akan menguatkan struktur tanah sehingga tidak mudah
terjadi longsor dan banjir. Akar ini juga menjadi tempat cadangan air sehingga
kita akan terhindar dari kekeringan.
-Pohon khas Papua ini bisa memberikan
manfaat langsung kepada lingkungan hidup terutama manusia. Selain mendapat
oksigen segar darinya, buahnya.

Biji matoa dapat dimakan Kayu matoa sebagai bahan bangunan
Biji matoa dapat dimakan Kayu matoa sebagai bahan bangunan
E. Teknik Budidaya dan Pengetahuan Tradisional
Masyarakat
Tanaman merupakan salah satu penghasil bahan untuk
memenuhi kebutuhan hidup manusia. Peningkatan kebutuhan manusia atas berbagai
hasil tanaman mengakibatkan ketersediaan dan kemampuan tanaman yang tumbuh
secara alami tidak lagi dapat memenuhinya. Untuk mengantisipasi hal tersebut
manusia dengan sengaja melakukan budidaya berbagai jenis tanaman yang dapat
menghasilkan produk-produk yang dapat digunakan untuk memenuhi berbagai
kebutuhan hidupnya serta meningkatkan perkonomian mereka.
Dalam budidaya jenis tanaman Matoa ini sendiri masyarakat
mengharapkan hasil yang lebih banyak dan lebih baik dibanding hasil yang
diperoleh dari tanaman yang tumbuh secara alami. Untuk mencapai tujuan tersebut, masyarakat tersebut melakukan
berbagai perlakuan terhadap tanaman yang ditanam dan lingkungan tumbuh di
tempat menanamnya. Budidaya tanaman matoa merupakan usaha masyarakat untuk
memaksimalkan pertumbuhan dan hasil yang diinginkan dari suatu jenis tanaman
melalui berbagai perlakuan pada baik pada tanaman yang ditanam maupun pada
lingkungan tumbuh tempat penanamannya menggunakan teknik dan sumberdaya yang
dikuasai mereka
masing-masing. Perlakuan pada tanaman
dimaksudkan agar tanaman yang ditanam cepat tumbuh dan berproduksi, dimulai
dari persiapan benih, pemeliharaan tanaman, sampai perlakuan hasil pasca panen.
Sedangkan perlakuan pada
lingkungan tumbuh dimaksudkan untuk menyediakan kondisi yang optimal bagi
pertumbuhan tanaman matoa melalui :
a. Tata cara penanaman, yaitu meliputi asal bibit matoa dan
perlakuan pada bibit, persiapan dan waktu penanaman, serta cara menanam matoa itu sendiri.
b. Pemeliharaan pohon, meliputi bentuk kegiatan dan waktu pelaksanaannya.
c. Pemanenan dan pengelolaan buah pasca panen, meliputi tata cara pemanenan matoa dan perlakuan buah setelah dipanen sampai dengan dipasarkan.
d. Pola pertumbuhan pohon matoa, meliputi laju pertumbuhan diameter batang dan tinggi batang, dan juga perkembangan tajuk pengolahan tanah tersebut untuk menyiapkan tempat pertumbuhan perakaran, lalu meningkatkan keharaan tanah, dan mengurangi terjadinya persaingan-persaingan dengan tanaman lain maupun hama dan penyakit-penyakit tanaman.
b. Pemeliharaan pohon, meliputi bentuk kegiatan dan waktu pelaksanaannya.
c. Pemanenan dan pengelolaan buah pasca panen, meliputi tata cara pemanenan matoa dan perlakuan buah setelah dipanen sampai dengan dipasarkan.
d. Pola pertumbuhan pohon matoa, meliputi laju pertumbuhan diameter batang dan tinggi batang, dan juga perkembangan tajuk pengolahan tanah tersebut untuk menyiapkan tempat pertumbuhan perakaran, lalu meningkatkan keharaan tanah, dan mengurangi terjadinya persaingan-persaingan dengan tanaman lain maupun hama dan penyakit-penyakit tanaman.
F. Nilai Ekonomi
Secara
tradisional masyarakat Papua mengenal dua jenis matoa untuk membedakan dan
menentukan harga jualnya, yaitu matoa kelapa dan matoa papeda. Matoa kelapa
merupakan matoa yang paling disukai dan memiliki harga yang mahal karena ukuran
buahnya yang besar, rasanya manis dan daging buahnya tebal. Sebaliknya matoa
papeda, disebut demikian karena daging buahnya tipis, lembek, berair, dan tidak
terlalu manis, harganya tidak terlalu mahal. Pemasaran buah matoa dilakukan
secara sederhana di pasar maupun di tempat-tempat penjualan buah musiman. Harga
jual buah matoa, sebagaimana buah musiman yang lain, berfluktuasi sesuai dengan
ketersediannya. Namun dari tahun ke tahun harga buah matoa cenderung meningkat,
dan saat ini berkisar antara Rp. 15. 000 – Rp. 30.000/kg untuk matoa papeda,
dan Rp 50.000 – Rp. 75.000 per kg untuk matoa kelapa. Dengan produksi buah per
pohon berkisar antara 100 – 200 kg, dan harga rata-rata di tingkat petani Rp.
10.000 – Rp. 50.000/kg, setidaknya petani pemilik pohon matoa akan memperoleh penghasilan sebesar Rp. 1.000.000 – Rp. 10.000.000/pohon/masa panen, tergantung umur pohon matoa, produktivitas buah matoa, dan harga
buahnya. Selain buahnya, beberapa bagian pohon matoa sangat potensial
dikembangkan untuk berbagai manfaat. Dengan teknik pengolahan sederhana
(dijadikan bubur) biji matoa dapat dijadikan sebagai bahan makanan. Kayunya tidak
sekuat dan seawet spesies pometia yang lain, umumnya dimanfaatkan sebagai bahan
konstruksi ringan. Air hasil rebusan kulit batang atau daunnya dapat
dimanfaatkan sebagai obat demam dan keletihan. Kulit batang matoa diketahui
mampu menyembuhkan luka bernanah. Dengan berbagai manfaat yang dapat diambil
dari pohon matoa tersebut pohon matoa mempunyai nilai sosial yang cukup tinggi
bagi masyarakat Papua, terutama di Jayapura. Kebanggaan masyarakat atas pohon
matoa yang dipandang sebagai jenis buah lokal andalan merupakan modal sosial
yang akan sangat menunjang pengembangan matoa sebagai buah unggulan di Papua.
Dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi, kemudahan budidaya, dan adanya
kebanggaan masyarakat atas pohon matoa, jenis ini sangat potensial untuk dikembangkan
sebagai buah unggulan lokal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Matoa (Pometia
pinnata) merupakan tumbuhan daerah tropis yang banyak ditemukan
dan terdapat di hutan-hutan pedalaman Pulau Irian
(sekarang Papua).
2. Di Indonesia
matoa (Pometia spp.) tumbuh menyebar
di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Maluku,
dan Papua. Daerah penyebaran matoa di Papua antara lain di Dataran Sekoli
(Jayapura), Wandoswaar – P. Meoswaar, Anjai – Kebar, Warmare, Armina, Bintuni,
Ransiki (Manokwari), dan lain-lain
3. Secara
tradisional buah dan biji matoa oleh suku Genyem, Sentani, Amumen, Ekari dan
Ayamaru dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Buah yang dapat dimakan adalah
varietas kelapa, papeda, dan kenari.
4. Perlakuan pada tanaman dimaksudkan agar tanaman yang ditanam cepat tumbuh dan berproduksi, dimulai dari persiapan benih, pemeliharaan tanaman, sampai perlakuan hasil pasca panen
4. Perlakuan pada tanaman dimaksudkan agar tanaman yang ditanam cepat tumbuh dan berproduksi, dimulai dari persiapan benih, pemeliharaan tanaman, sampai perlakuan hasil pasca panen
5. Harga jual
buah matoa, sebagaimana buah musiman yang lain, berfluktuasi sesuai dengan
ketersediannya. Namun dari tahun ke tahun harga buah matoa cenderung meningkat,
dan saat ini berkisar antara Rp. 15. 000 – Rp. 30.000/kg untuk matoa papeda,
dan Rp 50.000 – Rp. 75.000 per kg untuk matoa kelapa
Saran
Sebaiknya lebih mengerti lagi dalam memanfaatkan ekonomi sumberdaya
hutan serta memahami dengan baik yang diperoleh oleh masyarakat sekitar
REFERENSI
Anonimous. 2008. Matoa
(Pometia pinnata J.R. & G. Forst.)
Http://www. plantamor.com (6 April
2019)
Garuda,
S.R dan Kadir, S. 2014. Tanaman Khas Papua (Matoa). Badan Penelitian dan
pengembangan Pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua:3-7

nice blog kakaa
BalasHapusWah informasinya sangat membantu mbak
BalasHapusSangat membantu mengerjakan tugas sayaa!
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangat membantu 😉
BalasHapusInformasi yang sangat bermanfaat
BalasHapusAir,Bumi,Api,Udara
BalasHapusJaman dahulu semua negara hidup dalam perdamaian.
Kemudian semua berubah saat Corona menyerang.
Hanya Avatar ketua dari empat elemen yang dapat menghentikannya dan saat dunia membutuhkannya dia menghilang.
anda kenapa?
HapusSangat bermanfaat ��
BalasHapuswahh
BalasHapusTerimakasih atas informasinya, sedikit saran yaa, mungkin bisa lebih dirapiin lagi penulisannya. Seperti dikesimpulan angka nya sampai double.
BalasHapusterimakasi buat sarannya,ada kekeliruan
HapusKeren beud
BalasHapusHidup didunia ini 21 tahun dan baru ini aku tau buah matoa wkwk makasih ilmu nya Jen 🤣
BalasHapusHAHAHA
Hapussama2
Sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih telah hidup dan memberikan informasi ini.
BalasHapuskiukkkk
HAHAHA
HapusSama2
Keren bng et
BalasHapusTerimakasih telah memberikan informasi ini.. ��
BalasHapusmantul euy
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusTerima kasih info nya kaka
BalasHapusMantap infonya sangat membangun
BalasHapusSemoga infonya dapat bermanfaat bagi semua yang melihat
BalasHapusamin, thx kaka
Hapussangat bagus , sangat bermanfaat ��
BalasHapussemangat jenni
wah terimakasih Kaka
HapusLUVV
Terimakasih telah mengenalkan buah matoa, akhirnya jadi tau. Infonya menarik:)
BalasHapussama2 ,semoga bermanfaat yak
HapusWaah.. Pas bnget lagi di #rumahaja ditemani sama artikel yang sngt bermanfat dan membangun. Terimakasih yaa:)
BalasHapussama2 kakaa ,moga bermanfaat ye
HapusMantep nii infoo nya. Bagus bgt, sngt bermanfaaat:)
BalasHapusterimakasi Kaka,smoga dpt pengetahuannya tentang matoa ini yak
Hapusedukatif dan informatif sekalii😊
BalasHapuswah terimakasih,moga bermanfaat ya kkaa
Hapussiap🤘🍺
BalasHapusthx🌻
BalasHapusTerima kasih atas informasi ini, sangat bermanfaat bagi pembaca🙏😁
BalasHapussama2 kaka🙏
HapusWah informasinya sangat membantuuu, makasih ya buk penulis
BalasHapussamasama kaka🙏
HapusInformasinya sangat membantu
BalasHapusWow wawasan saya menjadi semakin luas
BalasHapuswah keren ga tuh
Hapusthxx
BalasHapusKamu mau tidak jadi sahabat aku??
BalasHapusBagus sekali
BalasHapus